Bab Empat Puluh Tiga: Pohon Purba Perang
Atas undangan hangat dari kucing bayangan Nigel, serta rasa penasarannya sendiri terhadap apa yang disebut sebagai Aliansi Manusia Hewan, Pak Liu dengan senang hati menerima ajakan Nigel dan mengikutinya menuju tempat berkumpul sementara para manusia hewan—Nazhan.
Dalam perjalanan, Pak Liu yang licik tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengorek informasi. Dengan dalih obrolan santai, ia berbincang panjang lebar dengan Nigel, dan dari mulutnya, ia berhasil mendapatkan banyak informasi berguna yang diam-diam membuatnya terkejut. Ternyata, situasi di wilayah Pombai jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan. Terutama antara para monster air Pombai dan bangsa laut Samudra Barat, dendam selama ribuan tahun telah begitu mengakar hingga tak mungkin didamaikan. Pertempuran utama mereka hampir mencakup ratusan anak sungai besar di wilayah Pombai, membentang sepanjang ratusan kilometer. Setiap kali pertempuran besar terjadi, kekuatan tempur yang terlibat mencapai puluhan juta, dengan korban tewas dan luka menembus jutaan jiwa. Bahkan negara-negara manusia yang gemar berperang pun dibuat gentar dan ketakutan. Selain itu, angka tersebut bukan hanya mengacu pada dua kubu utama saja.
Sebenarnya, semakin tinggi tingkat evolusi suatu makhluk, semakin kuat garis keturunannya dan semakin panjang pula usianya. Namun, ada satu hal yang justru semakin berkurang seiring peningkatan tingkat evolusi, yaitu kemampuan reproduksi. Seperti naga yang membutuhkan ratusan tahun untuk bertelur, lalu butuh ratusan tahun lagi agar telur itu menetas. Ini adalah hukum besi alam yang bahkan para dewa pun tak mampu mengubahnya. Karena itu, dalam setiap pertempuran sengit, yang paling banyak tewas adalah para pion yang dijadikan pasukan depan oleh kedua bangsa itu.
Di antara kedua pihak ini, bangsa laut Samudra Barat menguasai lautan yang luasnya sepuluh kali lipat dari daratan manusia, melahirkan berbagai makhluk aneh dan sangat kuat. Andai saja daratan manusia tidak mendapatkan perlindungan para dewa Bolwesna, yang secara tegas membatasi invasi makhluk asing dan sengaja memperpanjang permainan ini, hanya dengan jumlah bangsa laut Samudra Barat yang seribu kali lipat dari monster air Pombai, satu gelombang serangan saja sudah cukup untuk merebut Sungai Pombai dan menaklukkan seluruh Gaya. Meski Dewi Air kembali dan memimpin Pombai, kemungkinan besar tetap akan berakhir dengan kehancuran total. Namun, meski ada intervensi para dewa Bolwesna, bangsa laut Samudra Barat tetap jauh lebih unggul dari monster air Pombai, terutama dalam hal jumlah. Harus diketahui, untuk berevolusi ke bentuk sekarang, para monster air sudah kehilangan kemampuan reproduksi mengerikan yang mereka miliki saat masih berupa nyamuk darah purba. Dalam hal kelahiran, bahkan kalah dibanding manusia saat masa program keluarga berencana. Bisa dibilang, mereka benar-benar berada dalam posisi terjepit.
Demi membalikkan keadaan akibat kekurangan populasi dan bertahan dari serangan dahsyat bangsa laut Samudra Barat, monster air Pombai memikirkan siasat licik: merekrut besar-besaran monster kelas menengah dan atas dari Hutan Hujan Gaya, memanfaatkan keinginan mereka untuk berevolusi dan menjadi kuat, lalu secara bertahap dikendalikan dan dimanfaatkan, sehingga kekuatan mereka bertambah ratusan kali lipat. Meski di masa perang, monster air Pombai terpaksa mengeluarkan aturan prestasi, membolehkan banyak monster yang tak bisa mereka kendalikan untuk mengumpulkan prestasi dengan membunuh musuh dan mendapat kesempatan masuk ke Kuil Air untuk mengalami proses perubahan, namun mereka jelas tidak ingin kekuatan yang tak bisa mereka kendalikan tumbuh terlalu besar. Maka diam-diam mereka bersekutu dengan monster puncak lainnya untuk menekan dan membasmi para “mutan” yang telah berevolusi ke cabang berbeda.
Selain itu, entah karena apa, gen dalam tubuh sebagian besar manusia hewan sangat tidak stabil. Bahkan setelah berubah, mereka tidak bisa kembali ke bentuk monster, atau tidak bisa dengan lancar berganti antara dua wujud, yang sangat mudah menimbulkan kekacauan genetik dan berakhir dengan kematian mendadak. Karena itu, manusia hewan yang sangat membenci monster air Pombai ini terpaksa, menjelang pertempuran besar, kembali ke Sungai Pombai untuk bertempur dan masuk lagi ke Kuil Air guna menstabilkan gen mereka. Dalam periode ini, beberapa manusia hewan kuat setingkat monster puncak mengusulkan agar semua manusia hewan bersatu, membentuk aliansi untuk maju dan mundur bersama. Maka, berdirilah Aliansi Manusia Hewan.
Betapa miripnya mereka dengan para buruh kontrak di masyarakat lama yang diperas keringatnya oleh tuan tanah. Kasihan sekali nasib mereka, sungguh tragis. Para monster air Pombai itu benar-benar kejam, tidak berperikemanusiaan. Harta karun seperti Jantung Raja Laut tidak pantas jatuh ke tangan mereka, bagaikan mutiara dilempar ke lumpur. Aku harus mendapatkan benda itu dan membebaskan jutaan manusia hewan yang tertindas oleh monster air Pombai! Tersentuh oleh nasib para manusia hewan yang menderita, hati Pak Liu pun bergelora dan muncul sebuah cita-cita luhur.
Nazhan terletak jauh dari jalur utama Pombai, sudah berada di bagian dalam Hutan Hujan Gaya, dan jarak ke anak sungai terdekat dari Sungai Pombai saja mencapai ratusan li. Tempat ini berbentuk seperti cekungan yang tidak wajar, semakin ke pusat semakin dalam, di mana bagian terdalamnya mungkin sekitar lima puluh meter di bawah permukaan tanah. Di permukaan tumbuh lumut-lumut tebal, dan di atas tanah menjulur akar-akaran raksasa dari tanaman besar, bagaikan pembuluh darah tanah ini, tumbuh berkelindan seolah hendak bangkit dari tanah.
Mungkin karena melihat ekspresi heran Pak Liu, Nigel menjelaskan dengan gerakan tangan, “Konon tempat ini dulu adalah medan perang antara Ratu Laba-laba dan para dewa. Waktu itu, seorang dewa merasuki bumi, menggali tanah seluas puluhan li dan membentuk raksasa menakutkan, menciptakan tubuh spiritualnya sendiri untuk melawan Ratu Laba-laba. Namun akhirnya ia tetap tewas di tangan Ratu Laba-laba. Setelah kematiannya, tanah yang digali itu tak bisa dipulihkan, dan ribuan tahun kemudian jadilah seperti sekarang. Konon, di bagian dalam Gaya, ada tempat bernama Gunung Jatuhnya Dewa, pegunungan yang konon terbentuk dari tubuh spiritual dewa itu setelah ia tewas.”
“Apa!?“
Pertempuran antar dewa sehebat ini? Ini benar-benar senjata pemusnah massal! Pak Liu menatap tanah yang hilang di bawah kakinya dengan mata membelalak, dalam hati menghitung berapa lama dia butuh waktu untuk menciptakan efek serupa, dan hasilnya membuatnya putus asa—meski tidak makan, tidak minum, dan bekerja tanpa henti, tanpa ratusan tahun pun mustahil bisa menyelesaikan prestasi seperti itu. Terlebih lagi, ini hanya dilakukan oleh dewa kelas dua yang dengan mudah dibunuh oleh Ratu Laba-laba. Lantas, seperti apa kekuatan Ratu Laba-laba Silvina yang mampu membunuh tiga dewa sekaligus? Sejenak, perasaan sulit diungkapkan bergolak di hati Pak Liu. Dalam keterkejutannya, untuk pertama kali ia menyadari betapa mengerikannya kekuatan para dewa di dunia ini.
“Andai di antara manusia hewan juga lahir sosok sehebat Ratu Laba-laba, yang bisa melindungi kami. Pasti nasib kami tak akan seburuk ini!” Nigel tampak teringat masa lalu yang menyakitkan, tiba-tiba menepuk sebuah pohon raksasa yang tumbuh miring di lereng, hingga serpihan kayu beterbangan dan semburan cairan merah menyembur keluar. Samar-samar, Pak Liu merasa mendengar suara erangan penuh derita.
“Nigel, hati-hati, ini pohon pemakan manusia?” Pak Liu segera menarik Nigel, takut kalau-kalau pohon purba pemangsa itu akan membalas. Dulu, keganasan pohon tua masih terpatri jelas dalam ingatannya. Meski sekarang ia tak takut lagi pada tumbuhan pemangsa yang tak bisa bergerak, tetap saja kalau lengah, pemandunya bisa saja tercabik-cabik.
“Tidak apa-apa. Pohon-pohon roh ini adalah sahabat manusia hewan. Barusan aku yang ceroboh.” Nigel merapatkan kedua tangan, memberi hormat pada pohon raksasa itu, lalu tiba-tiba berlutut satu lutut, mengelus luka di batang pohon tersebut. Tampak cahaya hijau mengalir dari sela-sela jarinya, menyelimuti batang pohon. Tak lama kemudian, luka di batang pohon itu sembuh seperti sedia kala, seolah tak pernah ada.
“Eh. Kekuatannmu, sepertinya bukan termasuk tujuh unsur utama, kan?” tanya Pak Liu penasaran.
“Kemampuanku hanya bisa keluar saat malam. Aku bisa menyatu dengan kegelapan, mirip bersembunyi dalam bayangan, dan juga berubah wujud menjadi hewan. Yang kau lihat tadi, adalah kekuatan yang terbangkit dari darahku setelah menerima perubahan dari Jantung Raja Laut. Sama seperti kemampuan kulit baja yang baru saja kau sadari. Kata bijak kami, kekuatan ini sangat langka dan mereka menyebutnya Kekuatan Alam, lahir bersama bumi, menyatu dengan alam. Kami juga bisa berkomunikasi dengan roh pohon dan menjadikan mereka rekan bertarung.” Nigel mengangkat kepala, tampak bangga, namun kemudian sedikit malu menambahkan, “Sayangnya, level kemampuanku masih rendah, belum bisa membangkitkan mereka sepenuhnya.”
“Rekan bertarung? Membangkitkan?” Pak Liu bingung, bukankah pohon-pohon ini tak bisa bergerak, bagaimana bisa bertarung bersama kalian?
Mungkin menyadari kebingungan Pak Liu, Nigel tersenyum lebar, menampakkan taringnya, lalu menepuk batang pohon raksasa di sampingnya, “Sahabatku, tunjukkan wujud aslimu pada saudaraku ini.”
Pohon raksasa itu seolah menjawab, terdengar raungan berat, lalu tanah bergetar hebat, akar-akarnya mencuat keluar, dan pohon itu berdiri tegak dari lereng curam. Dari mahkotanya yang lebat, dua cabang besar menjulur seperti lengan, mengangkat Nigel yang beratnya ratusan kilogram dengan mudah dan meletakkannya di telapak tangan, memandang ke bawah dari ketinggian. Saat itu, di batang pohon raksasa itu tampak pula bentuk telinga, hidung, dan mulut, membentuk garis wajah samar-samar.
“Pohon Perang? Wah, bangsa peri!” Pak Liu nyaris tak kuat menahan diri, hampir saja muntah darah, mengeluh, “Sungguh tak adil, masa begini? Di mana bangsa peri yang selama ini aku impikan?”
“Pohon Perang? Nama itu bagus juga. Sahabat kami memang sepantasnya punya nama segagah itu.” Nigel berdiri di udara puluhan meter di atas tanah, meregangkan otot, lalu membungkuk dan meluncur turun di sepanjang batang pohon, hanya dalam dua tiga detik sudah mendarat di samping Pak Liu, tersenyum, “Saudaraku, bagaimana menurutmu? Sahabat kami yang terbangkitkan dari Kekuatan Alam ini kuat, kan? Oh iya, kau tadi menyebut bangsa peri, apa itu? Aku belum pernah dengar.”
Tentu saja kau tak pernah dengar, karena mereka tak ada di dimensi ini. Sial, Pohon Perang di dimensi ini ternyata hasil olahan para manusia hewan, sungguh tak adil! Pak Liu menggerutu dalam hati. Baru hendak bicara, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara terompet panjang dan berat. Wajah Nigel langsung berubah, buru-buru menarik lengan Pak Liu, “Itu panggilan dari sang bijak. Pasti ada hal penting yang ingin disampaikan. Nanti kita lanjutkan, ayo cepat ke sana!”