Bab Seratus Tiga: Mencari Barang Berharga yang Terlewatkan
Bab 103: Menemukan Kesempatan
Terima kasih kepada Re Lian atas dukungan sawerannya!
Mendengar percakapan itu, Shuyu perlahan memahami situasinya. Gui Si telah menyewa seorang juru masak untuk tuannya karena akan ada tamu penting di rumah. Namun, karena reputasi juru masak tersebut sedang naik daun, ia menaikkan harga jasanya, sehingga terjadilah perselisihan.
"Hei, si Muka Bopeng, jangan kau berani-berani bermain curang di sini. Hitam di atas putih sudah tertulis jelas, apa kau pikir dengan mulut busukmu itu kau bisa membatalkan kesepakatan sesukamu? Percayalah, aku akan menyeretmu ke pengadilan daerah sekarang juga!"
"Haha!" Si Muka Bopeng tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman Gui Si. "Dasar bodoh, pantas saja orang bilang Tuan Hou sudah mulai pikun dan tidak bisa membedakan urusan dunia lagi. Ternyata benar, pelayannya saja seperti ini, apalagi tuannya! Apa kau tidak tahu bahwa Hakim Li adalah sahabat karib Tuan Quan? Bahkan kediaman yang ditempati Hakim Li saat ini adalah pemberian dari Tuan Quan! Pergilah melapor jika kau berani! Jika kau tidak pergi, justru aku yang akan mengirim surat agar Hakim Li memberimu beberapa pukulan tongkat!"
Hati Shuyu merasa tidak terima. Benar-benar anjing yang mengandalkan kekuasaan tuannya! Hanya karena kakaknya menjadi pengasuh anak di keluarga itu, dia sudah bertingkah seolah-olah dirinya adalah tuan tanah! Budak yang sombong! Ia teringat para pengikut Gao Yiyu dan semakin merasa kesal.
Gui Si terpaku mendengar ucapan itu, ia tidak bisa berkata apa-apa, membuat si Muka Bopeng semakin jumawa.
Melihat Gui Si terdiam, si Muka Bopeng merasa menang dan semakin lancang: "Ada pepatah, uang melancarkan segala urusan. Kembalilah dan katakan pada tuanmu, jika ingin mempekerjakanku, jangan harap bisa bicara tanpa membawa tiga puluh atau empat puluh tael perak. Sekarang putra Tuan Quan sangat menyukai masakan angsa olahanku, dia makan di sini setiap hari. Katakan padaku, bagaimana mungkin aku mengabaikan pelanggan tetap demi uang dua puluh tael darimu? Kalaupun aku harus mengerjakannya lebih awal, bukankah kau harus membayar uang lembur?"
Luar biasa! Shuyu hanya bisa menggelengkan kepala. Bagaimana bisa dia bicara seperti itu? Masakan angsa yang dimaksud hanyalah daging angsa yang diasinkan, apa susahnya? Tinggal diiris saja, apa perlu uang lembur?
Gui Si tahu itu hanyalah alasan, tetapi ia kehilangan keberanian untuk membantah. Orang-orang yang berkerumun pun perlahan membubarkan diri karena pertunjukan sudah usai.
Shuyu tidak beranjak. Ia memperhatikan kedua pria itu. Si Muka Bopeng yang berwajah persegi berwarna kecokelatan itu memang memiliki banyak bekas cacar, namun wajahnya tampak berseri-seri seolah sedang di atas angin. Sementara Gui Si tampak lesu dengan wajah masam, terus menggerutu tentang kesialannya. Lusa adalah hari perjamuan, semua persiapan di dapur sudah siap, hanya kurang juru masak utama.
Si Muka Bopeng yakin bahwa tidak ada orang lain di kota kecil ini yang berani mengambil pekerjaan itu selain dirinya, karena hanya restorannya yang paling dikenal. Ia pun tertawa puas dan pergi begitu saja, yakin bahwa Gui Si tidak punya pilihan lain.
"Tunggu sebentar!" seru sebuah suara yang jernih.
Gui Si menoleh dan melihat beberapa wanita berdiri di belakangnya. "Ada apa?" tanyanya dengan ketus.
Shuyu tersenyum manis dan memberi salam dengan sopan. "Tadi saya mendengar percakapan kalian, apakah di kediaman Anda sedang membutuhkan seorang juru masak?"
Mendengar pertanyaan itu, Gui Si merasa semakin kesal dan hendak melangkah pergi.
"Tunggu sebentar! Jika juru masak tadi tidak bisa diandalkan, kenapa tidak mencari orang lain saja? Mengapa harus bertengkar di jalanan? Itu hanya mempermalukan diri sendiri," ujar Shuyu sambil menghalangi jalannya.
Gui Si berang. "Dari mana gadis cerewet ini? Apa urusannya denganmu? Apa kau mau menggantikannya memasak di rumahku?!"
"Justru itulah niat saya!" jawab Shuyu dengan ceria.
Gui Si tertegun, begitu pula rombongan Shuyu. "Nona, apa yang Anda lakukan?" bisik Liu Mama cemas. "Ini bukan main-main!"
"Saya serius," tegas Shuyu. Saat melihat Gui Si hendak melarikan diri lagi, ia segera mengejarnya dan kembali menghalangi jalannya.
"Sudah kubilang aku tidak ingin berurusan dengan wanita! Minggir!" bentak Gui Si.
Shuyu tetap tenang dan menahan Jiu'er yang hendak membalas bentakan itu. "Jangan marah dulu. Saya tahu Anda sedang kesulitan mencari juru masak. Saya punya ide, apakah Anda ingin mendengarnya?"
Gui Si ragu sejenak, lalu bertanya dengan nada lebih lunak, "Apa kau mengenal juru masak yang hebat? Apakah jauh dari sini?"
Shuyu tersenyum lebar. "Tidak jauh, tepat di depan mata Anda."
Semua orang terkejut, termasuk Jiu'er. "Nona, jangan bercanda! Ini acara besar, bagaimana mungkin kita bisa melakukannya?" bisik Jiu'er.
Shuyu tetap percaya diri. Ia tahu Tuan Hou ingin menjamu sahabat lamanya dengan hidangan yang istimewa dan memiliki ciri khas daerah, itulah sebabnya ia sempat menyewa si Muka Bopeng.
"Jika Anda pergi ke restoran, itu akan terasa kurang sopan untuk menjamu sahabat karib. Namun di rumah, Anda tentu membutuhkan masakan yang lezat dan berkesan agar tamu Anda tidak kecewa, bukan?" Shuyu menatap Gui Si dengan tajam.
Gui Si terdiam, mengakui dalam hati bahwa itulah yang diinginkan tuannya.
"Kalau begitu, sayalah orang yang tepat untuk perjamuan Tuan Hou!"
Gui Si memandang mereka dari atas ke bawah dengan ragu. "Kalian? Siapa yang bisa menjamin? Apa kalian pernah bekerja di dapur keluarga terpandang? Apa keahlian kalian?"
"Tidak ada sama sekali," jawab Shuyu jujur. Gui Si mendengus dan hendak pergi lagi.
"Tunggu! Jika Anda pergi sekarang, bagaimana nasib perjamuan Tuan Hou?" pancing Shuyu.
Gui Si berhenti lagi. Ia bingung. "Tapi aku tidak punya alasan untuk mempercayai kalian."
"Besok kami akan datang dan memasak satu meja untuk dicicipi Tuan Hou. Jika enak, Anda bisa mempekerjakan kami. Jika tidak, Anda tidak akan rugi apa-apa," usul Shuyu.
Gui Si berpikir sejenak. Ini mungkin satu-satunya cara agar ia bisa melapor kepada tuannya besok. "Baiklah, kita coba besok."