Xu Ning, seorang pegawai kantoran muda, setelah mabuk tiba-tiba mendapati jiwanya berpindah ke zaman lain. Begitu terbangun, ia telah menjadi Pan Shuyu, putri dari seorang pejabat tinggi yang keluarganya kini diasingkan ke Lingnan. Sebagai putri pejabat yang jatuh, ia pun terpaksa hidup di desa. Namun, Pan Shuyu bukanlah Lin Daiyu yang hanya bisa meratapi nasib. Di kehidupan sebelumnya, ia adalah pecinta kuliner nomor satu di dunia. Kini, ia menanam, menggali di gunung, dan menyelam di sungai—apa pun yang bisa dimakan pasti akan diusahakan untuk disantap. Apa yang tak bisa dimakan, akan diolah atau dijual agar bisa ditukar dengan makanan. Selain memanjakan diri sendiri, membuat hidup masyarakat sekitar lebih baik juga penting. Bukankah lebih menyenangkan berbagi kebahagiaan daripada menikmatinya sendiri? Bagaimana kalau membuka rumah makan? Maka, jadilah ia nyonya pemilik restoran yang cerdas dan menawan. Para pria tampan pun bersaing, rela mengambil nomor antrean dan tertib menunggu giliran. Eh, wajah yang satu ini terasa begitu akrab. Jangan-jangan dia…? Sebagai pecinta kuliner sejati, ia juga pandai memasak. Dengan pengetahuan lintas budaya dan pengalaman mencicipi berbagai hidangan, ia akan memanggang makanan terlebih dahulu, lalu mengolesinya dengan madu, mengatur posisi atas-bawah, kiri-kanan, depan-belakang, hingga matang sempurna. Taburi dengan garam dan merica, sajikan panas-panas di meja, lalu iris tipis dan tusuk menjadi sate. “Tunggu, Nona, makanan ini bisa bicara.” “Apa?! Kau suamiku?” “Oh, tidak!!”