"Kakak." "Adik kedua." "Apakah kamu tidak merasa kita lebih cocok menjadi saudara?" "Siapa yang mengatakan saudara tidak bisa menjadi pasangan?" ...
Tok! Tok! Tok!
Semalam, Zhou Kun memeras setengah dari sel otaknya hanya untuk menulis awal sebuah cerita. Ia baru saja ingin tidur ketika suara ketukan pintu membangunkannya.
Dengan wajah kusut karena baru bangun, ia melilitkan jubah tidurnya sambil berjalan menuju pintu, bertanya, "Siapa di sana?"
"Selamat pagi, Tuan Zhou Kun. Kami dari Koran Sederhana, hari ini kami sengaja datang untuk mewawancarai Anda, apakah Anda bersedia?" Suara seorang wanita terdengar dari luar pintu.
Mendengar jawaban itu, Zhou Kun tidak bisa menahan diri untuk mengernyitkan dahi. Koran Sederhana? Aku, seorang penulis yang bahkan tidak terlalu terkenal, kini sampai diwawancarai oleh Koran Sederhana? Wajar saja, surat kabar besar mana sudi mewawancarai orang sepertiku.
Editorku pernah berkata, "Manfaatkan setiap kesempatan yang bisa membuatmu terkenal. Bila sudah punya nama dan karya yang baik, nilaimu akan terus meningkat."
"Tunggu sebentar, aku perlu bersiap-siap."
Belum sempat lawan bicara menjawab, Zhou Kun berbalik dan melesat ke kamar, membuka lemari pakaian yang hampir tak pernah disentuhnya, menatap tumpukan baju yang berantakan.
Eh!
Ke mana setelan jas yang kubeli terakhir kali? Masa harus wawancara pakai celana pendek? Ah, di mana kaus kakiku? Sudahlah, jangan terlalu lama, nanti dikira sok artis.
Ia asal-asalan mengambil baju yang masih terlihat bersih, memakainya, lalu buru-buru ke kamar mandi, cuci muka dan sisiran secepat kilat. Menatap dirinya di cermin, ia menyunggingkan sedikit s