007: Setelah selesai pamer, baru mengakui kesalahan
Ruang tamu seketika sunyi setelah satu kalimat dari Zhou Kun.
Wang Xiao merasa suasana mulai tidak enak, langsung berdiri dengan penuh hormat sambil berkata, "Manajer Sun, saya akan mengambilkan air." Setelah bicara, ia pun pergi tanpa menoleh lagi.
Dalam hati Zhou Kun mengeluh, duh, kau menaruh aku dengan dia dalam satu ruangan, kenapa aku merasa kurang aman ya.
Sekarang laki-laki di luar rumah harus bisa melindungi diri, kalau lengah sedikit saja bisa-bisa malah dilirik sama kakak-kakak nakal...
"Tuan Zhou, Anda datang ke sini karena Wang Xiao, kan?" tanya Manajer Sun.
Zhou Kun sempat terkejut, lalu mengangguk santai, "Benar, saya memang datang untuk dia." Ia pun tidak menutupi niatnya.
Mendengar itu, Manajer Sun hanya mencibir, kedua tangannya terangkat dan bersedekap di dada, seketika berubah dari pewawancara menjadi sosok bos besar di dunia bawah tanah. "Terus terang saja, memang benar kami sedang mencari asisten, tapi bukan untuk Wang Xiao, melainkan untuk saya. Jadi, apakah Anda masih berminat dengan pekerjaan ini?" Tak hanya posisi duduknya berubah, nadanya pun jadi lebih tegas.
"Hah? Bukannya untuk jadi asisten Wang Xiao?"
"Dia memang butuh asisten, tapi saya tidak mau kamu bekerja untuk dia." Sikap dominan Manajer Sun membuat Zhou Kun ingin mengacungkan jempol, kalau saja dia kakakku, mungkin aku bisa hidup bebas di dunia ini.
Sudut bibir Zhou Kun terangkat, memperlihatkan senyum tipis, lalu mendorong kursinya ke belakang dan berdiri pelan-pelan.
Sret!
Ia menarik kembali CV-nya dari depan Manajer Sun, dengan cekatan memasukkannya ke dalam tas.
"Kalau begitu, saya rasa tidak perlu lagi membuang waktu Manajer Sun yang berharga. Maaf, sepertinya saya tidak cocok untuk posisi asisten Anda."
"Tunggu sebentar," kata Manajer Sun ketika ia hendak pergi. "Kamu di sini wawancara kerja atau mau cari pacar?"
Zhou Kun tersenyum pahit, membalikkan badan dan melambaikan tangan, "Tentu saja yang kedua." Dengan gaya santai, ia membuka pintu dan melangkah keluar.
Begitu keluar, ia langsung bertabrakan dengan Wang Xiao yang berdiri di depan pintu. Air di gelas Wang Xiao tumpah dan membasahi mereka berdua.
"Maaf, maaf, biar aku ambilkan tisu," ujar Wang Xiao sambil meminta maaf dan membantu mengelap bajunya.
"Tidak apa-apa, cuaca panas begini anggap saja kau membantuku mendinginkan badan," jawab Zhou Kun santai.
"Kamu benar-benar tidak mau tetap di sini?" tanya Wang Xiao lirih, nada suaranya mengandung permohonan dan sedikit rasa enggan berpisah.
Hal itu membuat Zhou Kun jadi serba salah. Saat melihat kondisi perusahaan ini, hatinya memang sudah agak goyah, lalu Wang Xiao muncul. Ia sempat berpikir, jadi asisten Wang Xiao, biarlah perusahaan ini jelek sedikit, tidak apa-apa. Tapi kemudian Manajer Sun datang. Tadi dia sudah bicara tegas, kalau sekarang kembali pasti kehilangan harga diri.
Begitu membayangkan setiap hari harus berhadapan bukan dengan Wang Xiao, melainkan dengan Manajer Sun, Zhou Kun merinding. begadang menulis novel dan memikirkan alur cerita saja sudah cukup menyiksa, sekarang pekerjaannya pun harus menambah penderitaan, bisa-bisa mati muda.
Tidak bisa, aku tak sanggup hidup seperti ini.
"Wang Xiao, maaf sekali, aku datang ke sini memang untuk jadi asistenmu, tapi barusan Manajer Sun sudah menyatakan sikapnya, dia ingin aku jadi asistennya, aku benar-benar..."
Cekit!
Saat sedang menjelaskan, pintu ruangan di belakang terbuka, Manajer Sun keluar dengan langkah mantap.
Lewat di depan mereka, ia menatap Zhou Kun lalu Wang Xiao, "Dia sudah mundur dari wawancara, jadi kamu harus cari orang lain lagi."
"Manajer Sun, dia bukan bermaksud begitu," kata Wang Xiao.
Manajer Sun menirukan gaya bicara Zhou Kun tadi, membalikkan badan dan melambaikan tangan, "Biar saja, pokoknya dia tidak akan muncul lagi di perusahaan kita." Selesai berkata begitu, ia pun pergi dengan pinggul berayun.
"Ah," Wang Xiao menghela napas panjang.
Di kepala Zhou Kun terngiang-ngiang kata-kata Manajer Sun tadi, apa maksudnya "kamu harus cari orang lain"? Asisten ini sebenarnya untuk siapa? Sebagai penulis novel, rasanya aku tak paham juga, "Wang Xiao, Wang Xiao, maksud Manajer Sun barusan itu apa? Asisten ini buat kamu atau buat dia? Aku kok jadi bingung?"
Wang Xiao menjitak kening Zhou Kun, "Kamu ini ya, wawancara kerja kok bicara segamblang itu, sekarang akibatnya sudah jelas, kamu benar-benar tidak bisa jadi asistennya aku."
"Hah? Jadi tadi dia bilang bukan untuk kamu, tapi untuk dia?"
"Itu karena dia tidak mau kamu datang hanya demi aku, takutnya nanti kamu malah mengganggu pekerjaan."
"Perusahaan macam ini apa sih yang bisa diganggu, sejujurnya aku rasa kamu sebaiknya cari kerja di tempat lain, dengan kemampuanmu pasti bisa lebih berhasil, kenapa harus bertahan di sini?" Zhou Kun menoleh ke kanan kiri, memastikan tidak ada yang memperhatikan, lalu berbisik di telinga Wang Xiao.
Wang Xiao tersenyum pahit, "Kamu pikir sekarang gampang cari pekerjaan? Di sini meski kelihatannya jelek dan orangnya sedikit, tapi suasananya sungguh menyenangkan. Aku bertahan di sini bukan demi uang, tapi karena suasananya, sama seperti tokoh-tokoh di novelmu yang kadang membuat keputusan bukan demi keuntungan."
Zhou Kun tidak menyangka Wang Xiao pernah membaca novelnya, ia hampir saja meneteskan air mata karena terharu.
Demi semua yang sudah dilakukan Wang Xiao untuknya, juga karena ekspresi Wang Xiao yang berat untuk berpisah, Zhou Kun akhirnya menguatkan hati memutuskan untuk meminta maaf pada Manajer Sun.
Ia mengambil kembali CV-nya yang tadi sudah terlipat, meratakannya, menghela napas panjang, "Di mana ruang Manajer Sun?"
"Mau apa?"
"Aku mau minta maaf, supaya dia membiarkan aku tetap di sini."
"Benarkah?"
"Iya, aku tidak pernah mengingkari kata-kataku, ayo tunjukkan jalannya."
Dengan penuh semangat, Zhou Kun menutup matanya rapat-rapat di depan pintu ruang Manajer Sun, otaknya berputar cepat merangkai kata-kata. Wang Xiao di sebelahnya hanya diam, kedua tangan saling menggenggam, memperhatikan dengan tenang.
Setelah berdiri sekitar lima atau enam menit, Zhou Kun tersenyum pada Wang Xiao, "Tunggu kabar baik dariku." Ia pun meletakkan tangan di gagang pintu, memutarnya, dan mendorong pintu masuk.
Begitu masuk ruangan, ia langsung mencium bau rokok yang menusuk hidung, tak tahan hingga batuk-batuk.
Saat itu Manajer Sun sedang setengah rebahan di kursi putar, membelakangi pintu, satu tangan memegang rokok, tangan lain menggenggam hamburger, sambil bersenandung kecil.
Mendengar suara pintu, ia menoleh ke arah Zhou Kun.
"Saya rasa Tuan Zhou tahu kalau masuk ruangan orang lain harusnya mengetuk pintu dulu?" tanyanya dengan tajam, "Masa hal sederhana begitu saja tidak tahu? Saya ini sedang makan, bagaimana kalau kebetulan saya sedang ganti baju?"
Zhou Kun hanya mengatupkan mulut, kalau Anda sedang ganti baju, saya akan langsung mencongkel mata saya sendiri. Duh, kenapa Manajer Sun semakin lama semakin terasa bukan orang baik, lebih baik aku pergi saja. "Maaf sekali," katanya sambil melangkah mundur.