004: Masa Kelas Tiga SMA
Zhou Kun sebentar berbaring, sebentar duduk, merasa seolah-olah ada duri di pantat dan rumput tumbuh di punggung, benar-benar tidak nyaman. Ponselnya yang tergeletak di atas meja, dari pagi hingga malam, sudah berdering entah berapa kali. Ia bahkan tidak perlu melihat untuk tahu semua itu pasti dari orang yang sama—ibunya.
Fan Xiaomei di ruang tamu asyik bermain ponsel sambil ngemil, baginya semua yang menimpa Zhou Kun tidak ada hubungannya sama sekali. Apalagi Zhou Kun juga tidak berniat memberitahu tentang masalahnya, jadi daripada ikut pusing lebih baik dia menikmati waktunya sendiri.
Tiba-tiba ponsel berdering lagi. Panggilan dari Li Shihan masuk, Fan Xiaomei langsung menekan tombol terima.
“Kak Shihan,” sapanya.
Zhou Kun, yang duduk di ruang kerja, begitu mendengar panggilan itu langsung berdiri, menempelkan telinga ke pintu.
“Xiaomei, hari ini kau ada waktu luang?” tanya suara di seberang.
“Ada, kok.”
“Kalau begitu… main gim sebentar, yuk? Aku lagi suntuk, sekalian cari pelampiasan.”
Bisa-bisanya Li Shihan yang biasanya pasif, kali ini malah mengajak main gim lebih dulu, Fan Xiaomei tanpa berpikir panjang langsung menyanggupi.
Setelah menutup telepon, ia menoleh ke arah pintu ruang kerja, sempat berpikir apakah perlu memberitahu Zhou Kun atau tidak. Namun akhirnya ia urung, takut akan kena semprot.
Zhou Kun hanya bisa mendengar kata-kata “Kak Shihan”, “ada”, dan “oke”, sisanya tidak terdengar lagi suara Fan Xiaomei.
Dari tiga kata itu, ia mencoba menebak.
Setelah sekitar lima menit hening, suara Fan Xiaomei terdengar lagi, “Kak Shihan, kita main mode duo atau skuad?”
Mata Zhou Kun membelalak, mereka main gim?
“Oke deh, nanti aku undang dua jagoan buat temani kita,” jawab Li Shihan.
“Baiklah, kalau begitu kita main mode duo saja.”
Sampai di sini Zhou Kun yakin betul mereka sedang main gim Battle Royale. Sungguh Fan Xiaomei, main gim saja tidak mengajaknya. Ia pun mengambil ponsel, hendak keluar untuk menegur, namun saat tangannya hampir menyentuh gagang pintu, ia ragu. Kalau keluar begitu saja, bukankah itu memalukan?
Apalagi mereka sedang voice chat, suaranya pasti akan terdengar Li Shihan. Zhou Kun berpikir keras, mencari cara agar tetap punya harga diri tapi bisa ikut main bersama mereka. Pada akhirnya, ia hanya terpikir satu cara.
Ceklek!
Ia membuka pintu, memasang wajah masam, berjalan memakai sandal sambil sengaja membuat suara ribut di depan Fan Xiaomei. Sayang, Fan Xiaomei memakai headset, hanya terdengar suara gim dan Li Shihan, sama sekali tidak memperhatikan Zhou Kun.
Brak!
Zhou Kun masuk ke kamar mandi, membanting pintu dengan keras.
Kali ini suara itu benar-benar terdengar jelas oleh Fan Xiaomei, ia menoleh ke arah kamar mandi.
“Barusan suara apa itu?” tanya Li Shihan penasaran.
“Tidak apa-apa, tadi aku tidak sengaja menendang tempat sampah,” jawab Fan Xiaomei asal.
Tiga menit berlalu, Zhou Kun keluar dari kamar mandi setelah menekan tombol flush, kali ini ia sengaja memperlambat langkahnya di depan Fan Xiaomei, benar-benar memanfaatkan area pandang dua setengah meter di depannya.
Fan Xiaomei, setelah “tereliminasi”, mengeluh, “Kak Shihan, musuhnya ngendok di pintu, hati-hati, ya.” Ia meletakkan ponsel di paha, mengambil minuman soda dan meneguknya dua kali.
Zhou Kun kini yakin Fan Xiaomei sebenarnya melihatnya, tapi memilih mengabaikan. Gadis sialan ini sengaja ingin membuatku kesal. Baiklah, kalau kau tidak mau melihatku, aku buat saja kau tidak bisa main lagi.
Ia berjalan ke pojok belakang sofa, ke arah kotak multimedia, membungkuk dan mencabut kabel LAN di router.
“Eh… eh, kenapa aku tiba-tiba putus jaringan? Kak, kenapa wifi-nya mati?” Fan Xiaomei sebenarnya tahu Zhou Kun yang melakukannya, tapi tetap pura-pura kaget, apalagi Zhou Kun tadi sudah dua kali lewat di depannya.
“Putus ya sudah, sekalian kamu istirahat,” jawab Zhou Kun santai.
“Hehe, baiklah. Kalau begitu aku pakai paket data saja.”
Zhou Kun dalam hati menggerutu, ingin tahu sampai kapan Fan Xiaomei bisa bertahan. Kali ini jika dia tidak mengajaknya, Zhou Kun juga tidak akan memaksa, biar saja sama-sama kesal.
Tak disangka Fan Xiaomei malah punya siasat lain, Zhou Kun jadi kalah langkah, dari yang awalnya ingin menguasai situasi malah jadi korban. Ia menunduk, kembali ke kamar, duduk di kursi, dan mengambil ponsel.
“Zhou Kun, kalau kau masih menganggap ibu ini sebagai ibumu, dengarkan nasihat ibu, putuskan hubungan dengan dia. Ibu Li Shihan itu bukan wanita normal.”
“Zhou Kun, ibu dan ayahmu sudah sepakat, kami akan carikan wanita terbaik di kampung halaman. Percayalah, besok ibu suruh Bibi Sun segera mencarikan, dengan kondisimu sekarang, gampang cari yang jauh lebih baik dari Li Shihan.”
“Zhou Kun, ibu tahu kau pasti membaca pesan ini, meski kau tidak membalas tidak apa-apa, sikap ibu sangat jelas, ibu tidak setuju, dan tetap tidak setuju.”
“Kunkun, ibu tahu kau anak baik dan setia pada perasaan. Bagaimana kalau begini, ibu tidak bilang setuju atau tidak, lebih baik kau suruh Li Shihan tanya dulu pendapat ibunya, apa sikap dia terhadap kalian berdua?”
Ibunya memang selalu begitu, awalnya keras, kalau tidak berhasil baru bicara lembut, kalau masih tidak mempan, barulah keluar jurus pamungkas. Sejak kecil Zhou Kun sudah sering kena pukul dengan sol sepatu ibunya.
Setelah membaca pesan-pesan ibunya, Zhou Kun tidak bisa menahan diri untuk manyun.
Andai saja dulu tidak terjadi hal itu...
Saat SMA kelas tiga, seratus hari menjelang ujian masuk perguruan tinggi, seluruh siswa tenggelam dalam belajar, memburu soal dan menghafal mati-matian. Sepuluh tahun belajar dalam sunyi, semua demi sekali sukses yang membuat nama dikenal. Setiap siswa berusaha keras demi kesempatan terakhir.
Zhou Kun dan Li Shihan pun begitu, setelah bertahun-tahun saling tarik ulur, akhirnya mereka berbaikan di kelas tiga SMA.
Meski disebut berbaikan, sebenarnya hanya supaya tidak saling mengganggu lagi.
Namun semuanya berubah karena ujian simulasi. Hari itu nilai ujian keluar, Li Shihan yang biasanya selalu masuk sepuluh besar tiba-tiba turun ke peringkat tiga puluh besar. Gurunya pun mengajaknya bicara panjang lebar.
Untuk meringankan tekanan, orang tua Li Shihan pun dipanggil ke sekolah.
Awalnya, ibu Li Shihan mengira putrinya tertekan karena akan menghadapi ujian terpenting dalam hidupnya, sehingga nilainya jadi anjlok. Ia pun menasihati dengan sabar dan lembut.
“Shihan, jangan terlalu tertekan, santai saja hadapi ujian, pasti bisa.”
“Ma, aku tidak terlalu tertekan, hanya saja pikiranku agak terpecah,” jelas Li Shihan.
“Kenapa bisa terpecah? Ada masalah apa sampai pikiranmu terganggu sekarang?”
“Tidak ada apa-apa, cuma tiba-tiba saja pikiran melayang. Ibu tak perlu memikirkan macam-macam, pulang saja, aku juga mau lanjut belajar.”
Li Shihan memang tak terlalu suka mengobrol lama dengan ibunya. Bukan karena hubungan mereka buruk, hanya saja sejak adik laki-lakinya lahir, perhatian kedua orang tua sepenuhnya beralih padanya.
Sehari-hari mereka tak pernah peduli dengan belajar atau keseharian, yang diperhatikan hanya nilai akhir.
Kalau bukan karena nilai ujian simulasi jelek, ibunya pun tak akan datang hari itu.