012: Perebutan Kamar Tidur
Zhou Kun tidak hanya dengan senang hati menyetujui permintaan Manajer Sun, tetapi juga secara sukarela menawarkan untuk menulis naskah khusus baginya. Mendengar jawaban itu, Manajer Sun langsung menggigit hamburgernya dengan penuh kegembiraan, sambil mengunyah ia berkata dalam hati, "Anak ini punya masa depan."
Jam kerja yang terasa panjang akhirnya berakhir pada pukul enam empat puluh sore. Zhou Kun keluar dari kantor bersama sepupunya yang sudah sejak tadi memasang wajah cemberut.
“Kamu masih punya uang, kan?” tanya Zhou Kun sambil menoleh padanya.
Xiao Mei langsung mundur dua langkah setelah mendengarnya, “Kamu mau apa?” tanyanya waspada.
“Mau naik taksi, mau apa lagi? Kamu bawa banyak barang seperti ini, pasti susah naik bus di jam pulang kerja.”
“Oh, terus kenapa harus pakai uangku? Ibuku sudah bilang, selama di sini urusan makan dan tempat tinggal kamu yang tanggung. Aku cuma fokus cari kerja, kalau nggak dapat kerja bagus, aku bakal terus tinggal di rumahmu. Aku nggak mau keluar uang, kalaupun ada yang keluar, itu harus kamu.”
“Eh, dasar kamu ini pelit sekali, kalau memang nggak mau ya sudah, aku naik bus saja sendiri, kamu cari cara sendiri buat sampai rumah,” kata Zhou Kun sambil menurunkan barang-barang yang dipanggulnya ke tanah, lalu berbalik pergi.
“Zhou Kun, kok kamu gitu sih! Aku telpon tanteku ya, tunggu saja...” Belum sempat selesai bicara, teleponnya sudah direbut Zhou Kun dan langsung dimasukkan ke sakunya. Ia menatap Xiao Mei sambil membuka kedua tangan, “Sekarang nggak ada telepon yang bisa kamu pakai, kan?” Ekspresi menyebalkannya membuat siapa saja ingin meninjunya.
Xiao Mei manyun, tiba-tiba ia berjongkok dan langsung menangis sambil memegangi kepalanya.
Tangisannya menggema keras, membuat Zhou Kun jadi panik.
Beberapa orang yang lewat memperhatikan mereka dengan pandangan aneh.
Antara pria dan wanita sebaiknya jangan pernah membahas siapa yang benar atau salah, apalagi bicara soal logika. Pada akhirnya, kamu akan selalu berada di posisi yang kalah.
Zhou Kun buru-buru jongkok untuk menenangkannya, “Sudah, sudah, aku cuma bercanda, jangan nangis. Yuk kita naik taksi, nanti aku traktir makan enak.”
Xiao Mei memalingkan tubuhnya, bertanya dengan suara parau, “Kamu janji nggak akan ganggu aku lagi?”
“Aku janji.”
“Sampai aku dapat kerja, makan dan tidur tetap di rumahmu, kamu nggak boleh protes.”
“Nggak masalah, nggak masalah.”
“Dan kamu nggak boleh ngincer uangku lagi.”
“Dari awal aku juga nggak niat, kan sudah dibilang cuma bercanda. Kamu di sini, masa iya aku tega suruh kamu keluar uang?”
Sekejap saja,
Xiao Mei berdiri dari lantai, mengusap wajahnya dengan tangan. “Kamu ngapain masih bengong, cepat panggil taksi, aku sudah lapar banget.”
Begitu Zhou Kun sadar matanya sama sekali tak basah oleh air mata, ia langsung paham bahwa Xiao Mei sedang berakting.
Setibanya di rumah, Zhou Kun menunduk mencari kunci dari dalam tasnya. Secara tak sengaja, Xiao Mei melihat secarik kertas tertempel di pintu, bertuliskan beberapa kalimat, “Zhou Kun, aku sangat marah, akibatnya akan sangat serius, pikirkan sendiri.” Xiao Mei membaca tulisan itu perlahan, “Kak Kun, ini maksudnya kamu ya?” tanyanya penasaran.
Zhou Kun mengeluarkan kunci dan menatap kertas itu. Dari tulisannya saja, ia tahu pasti ini buatan Li Shihan.
Aneh juga, apa yang sudah aku lakukan sampai membuat dia begitu marah beberapa hari ini?
“Kak Kun? Kak Kun?” panggil Xiao Mei.
“Hah?”
“Buka pintunya dong.”
Zhou Kun membuka pintu, membantu Xiao Mei membawa barang-barangnya masuk, lalu langsung mencabut kertas itu dari pintu.
Begitu masuk rumah, Xiao Mei melempar tasnya ke sofa, berlari mengelilingi ruangan, lalu menunjuk ke kamar Zhou Kun sambil berkata, “Aku tidur di kamar ini.”
Zhou Kun, yang tidak benar-benar mendengarkan ucapannya, hanya mengangguk tanpa sadar.
Tak lama kemudian, terdengar suara gaduh dari kamar: barang jatuh, pintu berderit, dan berbagai suara lainnya. Zhou Kun segera berdiri dan masuk. Begitu sampai di depan pintu, sebuah boneka kain bertanda empat garis dilempar tepat ke wajahnya.
“Kamu ngapain sih? Berhenti!” bentak Zhou Kun pada Xiao Mei.
“Aku lagi beresin kamarku, ini semua barang kamu, jadi aku bantu beresin dulu, nanti gampang dipindahin,” jawabnya santai.
“Itu kamar aku, kamar aku, kamu mau tidur di dapur, kamar mandi, atau di sofa, terserah, pokoknya kamar ini jangan harap!” soal kamar, Zhou Kun benar-benar tidak mau kompromi.
Xiao Mei menjatuhkan bantal dari tangannya, mendekati Zhou Kun, “Baru saja kamu sendiri yang ngangguk setuju, sekarang langsung berubah pikiran? Lagian, kalau jadi tamu, masa iya tidur di dapur atau kamar mandi? Pokoknya aku mau kamar ini, nggak peduli, tadi kamu sudah janji,” ujarnya sambil mendongak, menatap tajam, kedua tangan di pinggang.
Zhou Kun menarik napas dalam-dalam, menunjuknya dengan gemas, “Tolonglah, ini rumahku, ini kamar utama, kamu ngerti nggak? Kamar pemilik rumah.”
“Aku nggak peduli kamar utama atau bukan, yang penting kamu sudah janji, harus ditepati. Lagi pula, tadi di depan kantor kamu juga bilang nggak bakal ganggu aku, sekarang baru sebentar sudah berubah...” Xiao Mei terus saja mengomel, sampai ludahnya muncrat ke wajah Zhou Kun.
Tiba-tiba suara telepon di ruang tamu berdering. Dengan jengkel, Zhou Kun berjalan mengambil ponselnya, tanpa melihat siapa peneleponnya langsung diangkat.
“Siapa ini?”
“Apa aku mengganggu?” suara Wang Xiao terdengar dari ujung telepon, “Kalau kamu sibuk, nanti saja aku hubungi lagi.”
“Tidak, tidak, sekarang saja. Tadi aku lagi bantu sepupuku... Xiao...” Belum selesai bicara, Xiao Mei yang memanfaatkan kesempatan Zhou Kun di ruang tamu, dengan cepat melempar semua barang milik Zhou Kun keluar kamar, lalu menutup pintu rapat-rapat.
Zhou Kun menggaruk-garuk kepala karena kesal.
“Begini, aku mau tanya, besok kita mulai rekaman video, kan?”
“Iya, besok pagi.”
“Aku harus pakai baju apa?”
Zhou Kun berpikir sejenak, “Kamu punya qipao?”
“Ada, tapi belahannya agak...”
“Besok kamu beli lagi satu, nanti bonnya kasih ke aku. Lalu beli wig juga, yang rambut panjang, biar lebih cocok dan cantik.” Zhou Kun langsung membayangkan karakter utama perempuan dari novel yang pernah ia tulis.
“Oh, kalau begitu, besok kamu temani aku beli, ya. Takutnya aku salah pilih.”
“Nggak masalah.”
“Baiklah, istirahat dulu yang cukup.”
Setelah menutup telepon dari Wang Xiao, Zhou Kun berjalan ke depan pintu kamar, mengetuk dua kali.
Tidak ada jawaban dari dalam, jadi ia mengetuk sedikit lebih keras.
“Kalau ada apa-apa, besok saja, aku capek, mau tidur.”
“Xiao Mei, kamu begini nggak benar, kamu tahu nggak cerita burung tekukur menempati sarang burung gereja? Ceritanya tentang seekor tekukur yang nggak bisa buat sarang sendiri, jadi suka menguasai sarang burung gereja.”
“Kamu datang jauh-jauh ke kota asing ini, siapa yang jemput kamu?”
“Huh, kamu nyuruh aku naik taksi sendiri.”
“Baiklah, itu karena aku sibuk. Tapi kamar ini penting banget buat aku, aku butuh tempat buat menulis, butuh ketenangan, butuh inspirasi.”
“Kalau sudah begini, aku jadi nggak punya inspirasi, nggak bisa menulis, akhirnya nggak punya penghasilan, lalu nggak bisa bayar sewa rumah, kalau nggak bisa bayar sewa rumah, aku juga...”