Itu pacarku.
Zhou Kun tidak ingin bertengkar dengannya di situasi seperti ini, juga tidak mau membuatnya malu. Ia sangat mengenal sifat Li Shihan; dia bukanlah seseorang yang mudah menyerah pada hidup. Jika sekarang dia bisa melakukan hal seperti ini, pasti ada alasan yang sulit diungkapkan.
Apakah cinta itu berarti merelakan? Ada yang berkata, "Karena aku mencintaimu, aku melepaskanmu agar kau bisa mengejar kebahagiaanmu sendiri." Itu semua omong kosong! Jika kau punya keberanian untuk melepaskan, mengapa tidak punya keberanian untuk memberikan kebahagiaan padanya?
Kalau kau mencintainya, berikanlah kebahagiaan itu dengan tanganmu sendiri.
Dalam situasi sekarang, Zhou Kun sama sekali tidak mungkin membalikkan keadaan. Ia hanya bisa menatap kepergian Li Shihan dan Wang Chuan sementara waktu.
Melihat mobil itu menghilang di antara lalu lintas, matanya mulai basah dan kepalanya tertunduk.
Tiba-tiba, suara dering telepon berbunyi.
Tanpa melihat siapa yang menelepon, ia langsung mengangkatnya. Ia mengira itu telepon dari Fan Xiaomei, namun di ujung sana terdengar suara seorang pria.
"Sayang, anak itu sudah digugurkan, kan?"
Satu kalimat itu membuat mata Zhou Kun langsung membelalak.
Sayang? Anak? Gugurkan?
Kata-kata itu terus berputar di kepalanya.
"Siapa kamu?"
Orang di seberang terdiam sebentar, lalu balik bertanya, "Siapa kamu? Kenapa kamu mengangkat telepon Fan Xiaomei?"
"Aku kakaknya. Maksudmu apa dengan anak yang kau sebut tadi?"
"Oh, jadi kakaknya. Sebenarnya tidak ada apa-apa, aku cuma bercanda sama Fan Xiaomei," jawab pria itu, jelas terdengar aneh. Tentu saja Zhou Kun bisa merasakannya.
"Kau pikir aku akan percaya? Katakan, kau ada di mana?"
"Eh, Kak, tidak ada apa-apa, aku tutup dulu ya, di sini aku masih ada urusan lain."
"Halo, halo..."
Orang itu buru-buru memutuskan telepon, semakin menguatkan kecurigaan Zhou Kun bahwa Fan Xiaomei memang benar-benar hamil.
Sekejap, semua masalah menumpuk di benaknya, hatinya seperti gunung berapi yang siap meledak.
Ia mencoba menelepon ponsel Fan Xiaomei, namun terdengar notifikasi ponsel tidak aktif.
Masalah Li Shihan tidak akan selesai dalam waktu singkat, jadi ia memutuskan pulang untuk menanyai Fan Xiaomei.
Sementara itu, Wang Chuan mengantar Li Shihan pulang. Di sepanjang perjalanan, Wang Chuan terus menunjukkan perhatian dan memperkenalkan dirinya, niat perjodohan terpampang jelas.
"Wang Chuan, terima kasih sudah menjemputku hari ini. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kukatakan," Li Shihan tak tahan lagi, memotong pembicaraannya.
"Katakan saja, bagaimana pun juga kita teman."
"Sebenarnya, pria yang tadi kau lihat itu adalah pacarku. Kami sudah bersama selama bertahun-tahun. Aku pulang kali ini bukan untuk dijodohkan, tapi ingin memberi tahu ibuku tentang rencana pernikahanku dengan pacarku. Jadi... maafkan aku." Dengan sangat serius, Li Shihan memperkenalkan Zhou Kun padanya.
Wang Chuan tertegun mendengarnya.
"Awas, hati-hati!"
Ciiit!
Wang Chuan yang kehilangan konsentrasi hampir saja menabrak sepeda motor yang menerobos lampu merah.
"Tapi tante bilang kau tidak punya pacar."
"Terus terang saja, ibuku memang ada sedikit kesalahpahaman dengan dia, makanya dari dulu selalu menentang hubungan kami."
"Oh, pantas saja, tapi katanya kau sudah berhenti kerja di sana dan mau pulang kampung. Lalu pacarmu..."
"Itu cerita panjang. Aku harap kau bisa membantuku."
"Membantu bagaimana?"
"...."
"Ah? Bukankah itu tidak baik?" Wang Chuan tampak enggan setelah mendengar usul Li Shihan. "Menurutku, sebaiknya kamu jujur saja pada tante. Aku merasa pura-pura seperti itu tidak tepat."
"Kita tidak mungkin bersama, paling-paling jadi teman biasa. Karena kita tidak bisa bersatu, apa salahnya kau membantuku sekali ini? Lagi pula, laki-laki sebaik kamu pasti mudah dapat pacar. Bisa atau tidak, jawab saja sekarang." Rumah sudah hampir sampai, Li Shihan tak punya waktu untuk berlama-lama.
Kalau sudah marah, siapa pun tak bisa menahannya.
Wang Chuan akhirnya mengangguk setuju dengan terpaksa.
Setelah memarkir mobil dan membawa barang-barang ke depan pintu, Li Shihan kembali menekankan rencananya.
Baru setelah Wang Chuan mengangguk memastikan, dia mengetuk pintu.
Tok tok tok!
Bersamaan dengan suara ketukan, ibunya berlari-lari kecil membuka pintu.
"Hahaha, putri kesayanganku pulang! Ayo, cepat masuk!"
"Tante, selamat sore," sapa Wang Chuan.
"Halo, halo, hari ini kau sudah repot sekali, padahal ibu ingin menjemput, tapi rumah terlalu berantakan."
"Tidak apa-apa, tante."
"Ayo, duduk dan istirahatlah."
Li Shihan dan Wang Chuan duduk berhadapan, sementara ibunya sibuk menyajikan buah dan air minum, mulutnya tak berhenti memuji Wang Chuan—tampan, bisa diandalkan, pekerjaannya bagus, dan sebagainya. Kalau tak tahu, pasti mengira dia mak comblang.
Ehem, ehem!
Li Shihan sengaja berdehem dua kali.
Wang Chuan menangkap sinyal itu, diam-diam memberi isyarat OK.
Ia membuka kancing jas, bersandar di sofa, kaki kanan disilangkan di atas kaki kiri, lalu mulai menggoyangkan kakinya.
Ibunya yang sedang menuangkan air tak sengaja melihat itu, wajahnya langsung berubah sedikit. Biasanya, jangankan menggoyang kaki, bersila saja sudah dimarahi, tapi sekarang dibiarkan?
Baiklah, kita lihat sampai kapan kau bisa menahan diri.
Li Shihan kembali memberi isyarat dengan tatapan.
Wang Chuan menurunkan kakinya, mengambil cangkir, dan mulai menyeruput air dengan suara keras dan berisik.
Mendengar itu, ibu Li Shihan merasa sangat tidak nyaman, ingin rasanya memasukkan lap ke mulut Wang Chuan. "Xiao Chuan, airnya terlalu panas, ya?"
"Ah? Tidak, tidak, saya memang suka minum seperti ini," jawab Wang Chuan sambil tetap menyeruput.
"Aduh..."
Li Shihan melihat ibunya mulai tak tahan. Namun, bukannya marah, ibunya malah meletakkan lap di meja dan keluar ruangan, memilih untuk tidak melihat dan tidak pusing.
Wang Chuan mengangkat tangan, pasrah, dan bertanya pelan, "Ini pun tak membuatnya marah?"
"Aneh, biasanya dia tidak seperti ini. Sudahlah, nanti kau lakukan sesuai rencana saja," jawab Li Shihan.
"Baiklah, demi kau, nama baikku pun terancam," kata Wang Chuan sambil setengah bergurau.
Li Shihan membungkuk dengan hormat, "Jasa besarmu takkan kulupakan."
Sambil mengobrol, Li Shihan mengirim pesan kepada Zhou Kun, sayangnya tak bisa diterima, dan meski diterima pun takkan dibaca.
Saat itu, Zhou Kun sedang duduk di ruang tunggu stasiun menanti kereta.
Wang Chuan berpindah duduk ke sisi Li Shihan, membisikkan pertanyaan, "Kenapa tante tidak suka sama dia?"
Li Shihan mencibir, "Susah dijelaskan."
"Ceritakan saja, toh sekarang tak ada siapa-siapa, kita juga tidak ada kerjaan, duduk begini saja membosankan."
"Sebenarnya tidak ada apa-apa. Waktu sekolah dulu, dia pernah bertengkar dengan ibuku, membuat ibuku sangat malu. Sejak hari itu, tiap aku pulang, ibuku selalu bertanya, 'Zhou Kun mengganggumu tidak? Jauhi dia, dia bukan orang baik.' Begitulah, sampai aku lulus SMA."
"Wah, segitunya?"