003: Tangisan di Tengah Malam
Bicara boleh saja, bercanda juga boleh, namun Li Shihan hanya bisa bertindak seenaknya di hadapan Zhou Kun. Setelah kenyang makan dan minum, mereka berdua pun berjalan keluar dari restoran bersama-sama.
Di perjalanan mengantarnya kembali ke tempat kerja, Li Shihan bertanya dengan serius, “Kun, sebenarnya apa sih urusan penting yang ingin kau sampaikan padaku?”
Zhou Kun memutar bola mata, lalu memalingkan kepala, “Lagi nggak mood.”
“Kamu ini kenapa jadi nggak mood? Apa gara-gara aku tadi ngomong soal kamu jatuh ke toilet? Sudah aku bilang, aku nggak sengaja. Kenapa sih, jangan kayak perempuan, baperan begitu.”
“Kamu masih ngomong aja…”
“Apa? Jatuh ke toilet…”
“Sudah, dadah.”
Zhou Kun mendesah sambil melangkah besar ke depan, sementara Li Shihan yang melihat tingkahnya tak bisa menahan tawa.
Ia berlari kecil mengejar Zhou Kun, lalu mengaitkan tangan ke lengannya, menggoyang-goyangkannya, “Ya sudah, aku nggak marah kok, ayo dong, bilang, apa sih urusan penting itu?” Ia bertanya sambil manja dan mengedipkan mata.
Hari ini pasti aku keluar rumah tanpa lihat kalender keberuntungan, kalau tidak, mati-matian pun aku nggak akan makan sama kamu. Bukannya dapat saran, malah kena sindir, dan yang lebih parah, aku nggak bisa marah ke kamu. Sungguh menyebalkan.
Demi “balas dendam” pada Li Shihan, Zhou Kun tetap tak mau memberitahu apa urusan pentingnya.
Li Shihan pun kesal, melepaskan lengannya, berdiri menghadang di depan Zhou Kun dengan tangan di pinggang, “Jangan setengah-setengah begitu, kamu mau bikin aku marah, ya?” Ia mengomel dengan nada tak senang.
Melihat Li Shihan seperti itu, Zhou Kun tak tahan, tangannya terulur mencubit pipinya, “Wah, sudah bisa pakai peribahasa, lumayan juga. Selama nggak lahiran, marah sedikit nggak apa-apa. Aku pergi dulu, ya.” Ia melambaikan tangan dengan senyum nakal, lalu berbalik menuju halte bus.
“Zhou Kun, dasar kamu!”
Dering ponsel terdengar, Li Shihan tersenyum tipis saat melihat pesan dari Zhou Kun.
Dasar, aku tahu kamu nggak berani bikin aku benar-benar marah.
Zhou Kun kembali ke rumah naik angkutan, langsung rebahan lemas di sofa, menatap langit-langit sambil melamun lama.
Bagaimana kelanjutan cerita ini?
Tiba-tiba ia mendapat inspirasi, melompat dari sofa dan masuk ke ruang kerjanya, mulai menjelajah dunia cerita.
Pertemuan tak sengaja, saling kenal, saling memahami, jatuh cinta, lalu saling menyakiti? Ah tidak, seharusnya saling setia.
Sambil menulis, mulutnya komat-kamit tak henti.
Setelah delapan jam lebih menulis dan mengedit, akhirnya ia menyelesaikan sepuluh ribu kata pembuka, lalu membaca ulang sampai yakin sudah cukup puas, dan mengirimkannya lagi ke editor. Ia meregangkan tubuh ke belakang, berharap kali ini bisa lolos.
Baru keluar dari ruang kerja, ia sadar malam sudah larut dan suasana sunyi. Melirik jam di dinding, jarum pendek sudah menunjuk angka dua belas. Ia masuk ke dapur, ternyata mi instan sudah habis, dan roti di kulkas sudah berjamur putih. Satu-satunya makanan di rumah hanya dua butir telur dan satu ember saus kacang manis.
Zhou Kun berputar-putar di dapur, lalu memutuskan keluar mencari makanan.
Kota sudah terlelap, hanya angin panas yang bertiup lembut dan sesekali taksi melintas. Untungnya, lampu jalan yang redup menemaninya, melihat bayangannya yang memanjang dan menghilang, ia tetap bisa menikmati malam sendirian.
Toko serba ada yang biasanya buka entah sejak kapan sudah tutup. Zhou Kun berdiri dengan sedikit kecewa, mencari-cari di sekitar, namun hanya tempat hiburan yang masih buka. Sepertinya malam ini harus dilewati dengan perut lapar.
Dalam perjalanan pulang, suara samar membuat Zhou Kun menghentikan langkah.
Isak tangis terdengar lirih.
Mengikuti suara itu, ia menemukan sumbernya dari gang gelap. Zhou Kun memberanikan diri melangkah mendekat, suara tangisan semakin jelas.
Tangisan seorang wanita terdengar terputus-putus, penuh kepedihan.
Ia melangkah lagi, suara itu tiba-tiba menghilang.
“Siapa?” Zhou Kun baru ingin berbalik, tiba-tiba ada suara bertanya dari dalam gang, terdengar sedikit waspada.
Sepertinya karena mendengar langkahnya, wanita itu berhenti menangis.
“Maaf, aku cuma lewat dan dengar ada yang menangis, jadi aku coba lihat. Maaf mengganggu, silakan lanjutkan.”
Tak ada jawaban untuk beberapa saat, Zhou Kun pun melanjutkan langkah.
“Brengsek, brengsek, brengsek, semua lelaki itu brengsek!” Terdengar suara marah di belakangnya. Jelas sekali wanita itu baru saja disakiti oleh laki-laki. Zhou Kun hanya bisa tersenyum pahit. Memang, luka cinta itu sulit sembuh.
Ketukan sepatu hak tinggi terdengar jelas di belakangnya. Zhou Kun tiba-tiba berhenti dan menoleh cepat.
Wanita itu terkejut, tubuhnya menegang.
“Malam-malam begini kamu mengikuti aku, jadi agak parno juga,” kata Zhou Kun setengah bercanda.
Wanita itu menghapus air matanya, perlahan menengadah. Zhou Kun bisa melihat wajahnya—rambut hitam pendek sebahu meski berantakan tetap berkilau, wajah yang luntur makeup-nya justru menambah keindahan dan kesedihan di wajah itu.
Baru saja ia hendak berbalik, tiba-tiba bayangan seseorang melintas di benaknya. Ia melangkah mendekat, “Jurnalis?” tanpa sadar ia memanggil.
Saat Zhou Kun mendekat, wanita itu juga mengenalinya, “Kapten Empat Garis?”
“Kok bisa kamu?” Wanita itu cepat-cepat menunduk, menghapus air matanya, makin dihapus malah tambah berantakan. “Maaf, jadi bahan tertawaan.”
“Tak apa, siapa sih yang nggak punya cerita sedih.” Melihat wanita secantik dan selembut itu tampak begitu terluka, naluri melindungi dalam dirinya langsung muncul. “Mau aku panggilkan taksi?”
Wanita itu menjawab pelan, sedikit malu, “Aku takut menakuti orang dengan wajahku seperti ini. Kalau tidak merepotkan, bolehkah aku cuci muka di rumahmu?”
“Tentu saja boleh,” Zhou Kun langsung menjawab tanpa pikir panjang.
“Kamu…”
“Tenang saja, aku bukan orang jahat yang memanfaatkan situasi. Kalau kamu ragu, aku bisa bawakan air ke lorong.”
“Terima kasih.”
Mereka berjalan ke rumah Zhou Kun, tetap menjaga jarak sekitar satu meter. Sampai di rumah, wanita itu langsung menuju kamar mandi.
Zhou Kun duduk di sofa, pikirannya melayang entah ke mana. Plak! Ia menepuk pahanya keras-keras. Jangan mikir yang aneh-aneh, kau laki-laki terhormat, bukan tukang manfaatin orang.
Setengah jam kemudian, wanita itu keluar dari kamar mandi. Tanpa riasan pun, ia tetap tampak menawan.
“Terima kasih, terima kasih banyak.” Ia berdiri di depan pintu kamar mandi, tak henti mengucapkan terima kasih.
Zhou Kun bangkit, merasa kedua tangannya tiba-tiba kikuk, tak tahu harus diletakkan di mana.
“Tak perlu sungkan, toh kita pernah saling kenal.”
“Kalau begitu, aku nggak mau mengganggu istirahatmu.”
“Baik, biar kuantar.”
Melihat wanita itu naik taksi dan pergi, Zhou Kun benar-benar ingin menampar dirinya sendiri. Kenapa tadi tidak menawarinya minum atau beristirahat sebentar? Kenapa malah buru-buru mengantarnya pulang?