Bab 23: Tao yang Manis dan Penurut
Lilin padam.
Di dalam istana yang temaram, hanya tersisa seberkas cahaya bulan yang menyelinap dari balik jendela. Tirai tempat tidur bergoyang pelan tertiup angin. Zhao Kun akhirnya membungkuk, membaringkan Han Tao agar terlelap, lalu jemarinya menyentuh tali pakaian, membukanya lapis demi lapis dengan sabar.
Gerakannya begitu tenang, tanpa tindakan yang terburu-buru. Hingga seluruh pakaian terlepas, memperlihatkan tubuh yang tertutup samar oleh helai kain yang berantakan; putih, ramping. Han Tao memiringkan kepala dalam tidurnya, tanpa sedikit pun tanda akan terjaga.
Zhao Kun menunduk menatapnya sejenak. Pikirannya melayang pada penuturan Han Tao tentang enam bulan yang dihabiskannya di Rumah Nanfeng. Amarah dan kebencian yang membuncah dari lubuk hatinya nyaris menelan kewarasannya.
Selama setengah tahun, Rumah Nanfeng adalah tempat pelacur pria melayani tamu. Han Wuli mengirim Han Tao ke tempat seperti itu, jelas-jelas dengan niat untuk mempermalukannya.
Dulu, Zhao Kun merasa dikhianati dan memutuskan segala hubungan dengan Nanyan. Ia benar-benar tidak pernah menanyakan kabar Han Tao, bahkan mengira Han Tao yang lihai bersilat lidah tidak akan mungkin dirugikan. Jika pun suatu hari nasib buruk menimpanya dan ia sedikit terhina, Zhao Kun saat itu justru berpikiran kejam bahwa Han Tao memang pantas mendapatkannya.
Namun kini, saat mendengar sendiri pengakuan itu—mendengar Han Tao menangis saat menceritakan empat belas pucuk surat yang ia tulis namun tak pernah mendapat balasan—Zhao Kun baru menyadari betapa besar kekeliruannya.
Mungkin selama setengah tahun itu, Han Tao juga berada dalam posisi seperti sekarang: pakaiannya dilucuti, ditekan di bawah tubuh orang lain, menutup mata dengan lengan sambil menangis tak terkendali, dipaksa mengangkat pinggul untuk melayani. Mungkinkah cambukan dan tamparan itu mendarat tanpa ampun di tubuh Han Tao, sementara ia hanya bisa menggertakkan gigi menahan perih, mulutnya terus meracau menyebut nama Zhao Kun?
Ia mendengar bahwa pelacur pria di Rumah Nanfeng terkadang harus melayani belasan orang dalam sehari.
Pikiran itu tumbuh liar bagaikan rumput ganas. Zhao Kun tak mampu lagi menahan diri, ia mengepalkan tinjunya erat-erat. Ia pernah mendengar Han Tao menangis di bawah tubuhnya, sudah berkali-kali, dan ia sangat tahu bagaimana Han Tao memaksakan diri untuk tunduk di bawah seseorang.
Bagaimana mungkin ia sanggup menanggung kenyataan bahwa selain dirinya, Han Tao harus menerima penghinaan seperti itu?
Telapak tangannya tertahan di dada Han Tao, tak kuasa menahan diri untuk meremasnya dengan penuh tekanan. Dalam tidurnya, Han Tao mengerang pelan, terselip nada tangis. Zhao Kun membungkuk, lalu menggigit jakun Han Tao seolah sebagai hukuman, memaksa leher itu tertekuk panjang. Suara isapan dan gigitan halus terdengar dari balik tirai.
"Tidak..."
Han Tao menggumam tanpa sadar, bibirnya sedikit terbuka.
Tindakan itu bagaikan percikan api yang menyulut padang rumput kering. Zhao Kun segera menindih tubuh Han Tao, tangannya menyingkap pakaian, mencium dan menggigit tubuh itu dengan liar. Napasnya yang basah membawa hawa panas yang pekat, menelusuri setiap inci tubuh di bawahnya. Han Tao tersentak bangun, setengah sadar ia meraba rambut Zhao Kun.
Di dalam kegelapan, jarinya menyusup ke sela rambut Zhao Kun, tubuhnya menegang seketika.
"Zhao Kun!" Han Tao menekan kepala pria itu, antara malu dan kesal, "Apa yang kau lakukan..."
"Kau tidak ingin aku memperlakukanmu seperti ini?" Di dalam gelap, gerakan Zhao Kun terhenti, suaranya terdengar berat saat ia mengangkat kepala.
Han Tao gemetar tanpa sadar, tak tahu bagaimana harus membela diri. Karena takut Zhao Kun akan melontarkan kata-kata yang lebih menyakitkan, perlahan tangan yang tadi menyentuh rambut Zhao Kun ditariknya kembali.
"Jika kau menginginkannya," Han Tao memalingkan wajah dan memejamkan mata rapat-rapat, "Aku harus memberikannya padamu."
Ia selalu merasa berhutang budi pada Zhao Kun, sehingga ia tidak pernah menolak apa pun yang diinginkan pria itu. Dulu begitu, dan di masa depan pun akan tetap sama.
Namun, tindakannya itu justru membuat Zhao Kun seolah kehilangan minat; ia bertumpu pada tangan lalu bangkit duduk. Han Tao ragu-ragu membuka mata, menatap Zhao Kun yang kini duduk di ujung tempat tidur. Malam terlalu gelap, mustahil baginya untuk membaca tatapan mata Zhao Kun.
Napasnya terasa sesak.
Han Tao menarik pakaiannya, lalu ikut bertumpu pada tangan untuk duduk. Ia menunduk, bersandar di kepala ranjang sambil memperhatikan Zhao Kun. Entah mengapa, hatinya merasa sangat kehilangan. Apakah karena ia telah menceritakan masa lalunya, sehingga Zhao Kun bahkan tidak ingin menyentuhnya lagi?
Rambutnya yang terurai jatuh di kedua sisi wajah. Han Tao mengepalkan jemarinya, jantungnya berdegup cemas. Benar saja, janji Zhao Kun untuk kembali bersama hanyalah dorongan rasa iba sesaat, sekadar untuk menghibur dirinya yang terluka. Ia terlalu banyak menuntut, terlalu serakah.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Setelah terdiam cukup lama, Zhao Kun bertanya.
"Hamba telah membuat Baginda kecewa," jawab Han Tao lirih. "Hari belum terlalu larut, jika Baginda ingin... Baginda bisa pergi beristirahat di tempat lain."
Sejak tiba di Kerajaan Qi, ia belum pernah mendengar Zhao Kun melayani selir mana pun. Tidak heran jika petisi dari dewan sensor terus berdatangan silih berganti.
Namun, Zhao Kun hanya menatapnya, lalu mengulurkan tangan dan menekannya ke bawah.
Han Tao secara refleks merapatkan kedua kakinya, napasnya seketika memburu, tidak mengerti apa maksud Zhao Kun.
Zhao Kun tidak bicara, tangannya terus mengusap. Celana Han Tao sudah terturun setengah. Kini Han Tao duduk di tepi ranjang, pinggulnya menyentuh seprai tanpa sehelai benang pun. Ia hendak bergeser mundur ke kepala ranjang, namun Zhao Kun menarik kedua kakinya dan merapatkannya ke tubuhnya sendiri.
Han Tao mengerang, sudut matanya merona oleh gairah.
"Aku menahan diri karena tidak ingin membuatmu tertekan," Zhao Kun membungkuk, berbisik perlahan, "Lalu bagaimana denganmu? Apakah kau sebenarnya masih menyukai caraku memperlakukanmu seperti ini?"
Han Tao terpaku menatapnya, wajah Zhao Kun begitu dekat di depan mata.
Tekanan tangan Zhao Kun semakin kuat, tubuh Han Tao tersentak, memicu reaksi. Dalam kegelapan, ia mendengar Zhao Kun tertawa, "Ternyata kau memang menyukainya."
Ia membiarkan Zhao Kun memangku kakinya dan menyandarkannya di bahu. Entah mengapa, ia merasa lega, seolah bersyukur karena Zhao Kun masih bersedia memperlakukannya seperti ini. Zhao Kun kembali menunduk untuk menciumnya, memintanya membuka mulut.
Ia sedikit memiringkan kepala dan membuka bibir, menyambut ciuman itu, menciptakan suara-suara samar di balik tirai.
Zhao Kun menciumnya berkali-kali, tampak sangat puas. "Malam ini kau sangat patuh, apakah karena kau berjanji untuk memulai semuanya kembali denganku?"
Han Tao ragu sejenak, lalu bergumam pelan.
"Apakah Baginda tidak merasa jijik?"
"Apa yang perlu kujijikkan darimu?" Zhao Kun kembali menciumnya, memaksanya mendongak untuk membalas.
Kedua kakinya nyaris terlipat ke arah tubuhnya. Posisi ini sebenarnya cukup memalukan. Ia tidak bisa membedakan apakah ia membiarkan pria ini bertindak semaunya karena rasa bersalah, atau karena ia memang menyukai dirinya yang begitu tak berdaya di hadapan Zhao Kun. Sementara itu, Zhao Kun telah menindihnya sepenuhnya.
"Zhao Kun..." panggilnya dengan gugup.
"Malam ini kita akan bermesraan, kau cukup memuaskan keinginanku, tidak perlu memaksakan diri," Zhao Kun menggesek tubuhnya erat, meraih satu tangan Han Tao untuk dicium punggung tangannya, lalu menekan ke bawah, "Masih ada hari esok, nanti akan ada saatnya kita bersatu lebih dalam."
Pupil mata Han Tao menyusut.
Malam semakin larut, mereka benar-benar larut dalam kemesraan. Han Tao mengangkat tangan lainnya untuk menggigit buku jarinya sendiri, mendongakkan leher agar tidak mengeluarkan suara. Dada yang terekspos oleh pakaian yang terbuka memerah, kakinya yang merapat bergetar pelan. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Zhao Kun melakukan hal ini padanya dalam keadaan sadar.
Tubuhnya terasa mendidih, berada dalam kendali telapak tangan Zhao Kun. Namun, ia tidak akan melawan, ia hanya akan membiarkan pria itu melakukan apa pun yang diinginkannya.