Bab Dua Belas: Menyambut Musim Semi
“Jika hanya aku seorang pelayan, pada kesempatan seperti hari ini, sekalipun harus kehilangan nyawa, aku tetap tidak berani berbuat apa-apa. Tapi di dalam perutku ada anak Tuan Muda, aku tidak bisa dan tidak berani mengabaikannya, itulah sebabnya aku berselisih dengan Zichun dan yang lain.”
Zhiqiu menatap Zichun yang tetap tak bereaksi, sehingga ia pun terus bicara, meski hatinya semakin dipenuhi ketakutan. Namun, sampai sejauh ini, tak mungkin baginya untuk berbalik arah.
Zhiqiu memang cukup cerdas hingga mampu memikat Tuan Muda yang baru berusia tiga belas tahun dan mengandung anaknya. Setidaknya ia mampu menceritakan semuanya dengan jelas dan sekaligus membalas dendam pada Zichun, pelayan yang selama ini bermusuhan dengannya. Sayangnya, tingkat permainannya terlalu rendah. Siapa sosok Nyonya Tua dan Nyonya Besar di rumah bangsawan ini? Mana mungkin mereka tidak menyingkap tipu muslihat Zhiqiu?
“Ampuni aku, Nyonya Tua, Nyonya Besar. Demi anak dalam kandunganku ini, mohon maafkan aku,” ratap Zhiqiu dengan suara pilu. Setiap ucapannya terdengar seakan-akan berkorban untuk keluarga bangsawan dan Su Zhe. Namun, di rumah besar seperti ini, mana ada yang bukan rubah tua seribu tahun? Trik murahan seperti itu sama sekali tak berguna.
Tatapan semua orang pada Zhiqiu seperti memandang mayat hidup. Namun, Zhiqiu tidak menyadarinya dan terus saja berakting, bahkan berusaha mengalihkan perhatian semua orang pada Zichun.
Mendengar ucapan Zhiqiu, tubuh Zichun sempat menegang sesaat sebelum lekas kembali tenang. Benar, hari ini ia memang sengaja melakukannya, sengaja memancing Zhiqiu membuat keributan. Jika tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk menyingkirkan Zhiqiu beserta anak haram dalam kandungannya, maka masa depan Zichun akan suram.
Baik Zichun maupun Zhiqiu adalah pelayan utama Su Zhe. Di keluarga besar seperti ini, nasib terbaik bagi seorang pelayan utama adalah menjadi selir setelah melahirkan keturunan tuannya. Zichun pun memiliki keinginan itu, apalagi Su Zhe adalah putra sulung sah keluarga bangsawan, calon pewaris masa depan.
Namun, Su Zhe justru menyukai Zhiqiu, pelayan rendahan itu. Selain parasnya yang lebih cantik, apa lagi kelebihan Zhiqiu dibanding dirinya? Sejak mengetahui tuannya tidur dengan Zhiqiu, Zichun menyimpan dendam mendalam, apalagi saat tahu Zhiqiu benar-benar mengandung? Bagaimana mungkin ia bisa menerima itu?
Sejak berhasil naik ke ranjang tuan muda, Zhiqiu semakin congkak dan bertingkah seolah-olah dirinya penguasa, berlindung di balik kekuasaan majikannya. Zichun sudah lama ingin menyingkirkannya, hanya saja belum mendapat kesempatan. Siapa sangka hari ini dewi keberuntungan berpihak padanya, Zhiqiu mendadak merasa sakit perut.
Hmph, memang pantas! Orang seperti dia mana mungkin beruntung melahirkan anak bagi tuan muda? Zichun langsung memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan ini menyingkirkan Zhiqiu.
Zichun tahu hari ini keluarga besar mengadakan hajatan untuk putri sulung, maka ia sengaja menekan Zhiqiu, ditambah lagi dengan provokasi kata-kata. Benar saja, Zhiqiu pun meluapkan emosinya. Bola matanya berputar, kini Zhiqiu pasti tak akan mendapat kebaikan. Asal ia sendiri bisa terbebas dari masalah, itu sudah cukup. Maka usai mendengar ucapan Zhiqiu, Zichun segera mengadukan keluhannya.
“Hamba tidak bersalah. Hari ini adalah hari bahagia bagi putri sulung, makanya hamba sangat berhati-hati, terus mengingatkan semua orang di dalam halaman agar bertindak sopan. Semula semuanya berjalan baik, namun Zhiqiu bersikeras mengatakan perutnya sakit dan hendak memanggil tabib. Hamba menasihatinya untuk beristirahat sejenak, tunggu sampai para tamu pulang baru hamba akan membantunya, tapi Zhiqiu malah menuduh hamba hendak mencelakainya, mencelakai calon anak tuan muda dalam kandungannya.
Zhiqiu tidak mau mendengarkan, tetap ngotot mencari tuan muda. Kami para pelayan pun serba salah, tak berani menahannya, juga tak bisa membiarkannya, akhirnya terjadilah keributan ini. Hamba memang pantas mati, mohon ampunan tuan.”
Mendengar ucapan Zichun, mata Zhiqiu memerah karena marah. Kini ia sadar bahwa dirinya telah masuk perangkap Zichun. Mungkin saja rasa sakit perut yang ia alami hari ini pun ulah Zichun. Seketika itu juga, ia ingin sekali mencakar wajah Zichun.