Bab Empat, Kisah Lama yang Menjebak Anak (Bagian Dua)
Keluarga ibu Su Xi Zhu sangat gembira mendengar menantunya kini menjadi putra sah Adipati Annan. Mereka tak peduli pada sebab-musabab di baliknya, dengan riang gembira mempersiapkan pernikahan putri mereka. Kabarnya, bahkan mas kawin dari sang ibu pun dilipatgandakan. Singkatnya, mereka sangat puas dengan perubahan nasib ini.
Sebenarnya, ayah Su Xi Zhu sendiri sangat tidak rela. Hanya saja, ia lemah dan tak berdaya, sehingga tak bisa berbuat apa-apa selain menerima kenyataan bahwa ayahnya lebih mengutamakan anak yang lain dan mengorbankan dirinya. Dalam hati ayah Su Xi Zhu, mungkin istrinya adalah wanita cantik nan berbakat, pandai bersyair di bawah cahaya bulan. Namun, menurut Su Xi Zhu, selain paras cantik, ibunya tidak menunjukkan bakat lain yang menonjol—kecuali, mungkin, bakat berdagang.
Untungnya, selama bertahun-tahun setelah menikah, ibunya mengelola mas kawin dengan sangat baik dan melahirkan seorang putra dan seorang putri untuk ayahnya. Walaupun sang ibu bukan dewi idaman sang ayah, namun kecantikannya dan sifat dermawannya membuat sang ayah tenang menjalani hidup sebagai pria terpelajar, sibuk membeli barang antik dan lukisan tanpa rasa khawatir. Maka, meski tak bisa dibilang sangat harmonis, hubungan kedua orang tua Su Xi Zhu tetap saling menghormati.
Keluarga ketiga di kediaman Adipati Annan adalah yang paling damai. Ayahnya tidak tergoda wanita, sehari-hari hanya berkawan dengan para cendekiawan, mempelajari kaligrafi dan lukisan, reputasinya pun sangat baik. Sementara ibunya mengelola seluruh urusan keluarga, suaminya memang tidak terlalu perhatian tapi juga tidak membuatnya sakit hati, dan yang terpenting, tidak ada selir yang mengganggu. Hidup mereka pun terasa tenteram.
Tentu saja, bukan berarti semuanya sempurna. Menurut Su Xi Zhu, masalah terbesar di keluarga ketiga hanyalah kakak laki-lakinya yang jahil itu. Namun untungnya, kakaknya sangat menyayangi adiknya, sehingga keluarga mereka, dalam arti tertentu, bisa dibilang cukup bahagia.
Sebenarnya, keluarga ketiga telah menggantikan posisi keluarga kedua dalam urusan pernikahan, seharusnya tidak perlu ada rasa benci, apalagi permusuhan. Sayangnya, istri dari paman kedua berwajah biasa saja, tidak mendapat hati di keluarga suaminya. Apalagi setelah melihat adik iparnya yang seharusnya menjadi istrinya sendiri, ternyata sangat cantik dan pandai mengatur rumah tangga, dia makin diremehkan oleh suaminya. Menyadari sebab musabab itu, ia pun melampiaskan semua kekesalannya kepada keluarga ketiga yang dianggap lemah. Perihal ini, Su Xi Zhu hanya bisa menertawakan dalam hati.
Semua masalah antara keluarga kedua dan ketiga di kediaman Adipati Annan hanyalah masa lalu. Meski awalnya nenek Su Xi Zhu tidak menyukai menantunya karena hal itu, setelah bertahun-tahun melihat menantunya memperlakukan suami dengan sangat baik, membiarkannya menjalani hidup sesuai keinginan, serta cucu-cucu yang selalu berusaha mengambil hati sang nenek, akhirnya nenek pun jadi lebih dekat dengan ibunya.
Secara keseluruhan, sejak wafatnya Adipati Annan yang lama, tidak pernah terjadi pertikaian antara saudara-saudara di keluarga besar itu. Meski ada sedikit gesekan, namun di antara para bangsawan Jin, keluarga ini termasuk yang paling tentram.
Su Xi Zhu membalikkan badan lagi. Musim panas memang sudah panas, kini di luar tiba-tiba menjadi gaduh, membuat hatinya kian tak nyaman.
“Benar-benar, semuanya sudah pasti, kenapa masih tidak bisa bersikap tenang?” Su Xi Zhu menghela napas. Meskipun pihak keluarga mereka yang sebenarnya ‘naik kelas’, sebagai pihak yang menikahkan anak perempuan seharusnya tetap menjaga wibawa. Sikap bibi tertua yang terlalu berlebihan ini menurutnya sudah kelewatan.
Putri sulung Kediaman Adipati Annan, Su Xi Mei, sudah berusia tiga belas tahun dan merupakan putri sah tertua. Urusan perjodohannya adalah perkara terbesar di seluruh keluarga. Su Xi Mei dan kakak laki-lakinya adalah anak kembar, yang pada masa itu membuat banyak keluarga iri.
Keluarga sangat menaruh perhatian pada pendidikan Su Xi Mei. Ia mahir dalam seni musik, catur, kaligrafi, dan lukisan. Selain itu, karena usianya jauh lebih tua dari Su Xi Zhu dan saudara-saudaranya, tidak ada persaingan kepentingan di antara mereka. Di mata Su Xi Zhu, Su Xi Mei selalu menjadi kakak perempuan yang baik, dan ia benar-benar berharap kakaknya bisa menikah dengan pria yang diinginkan hatinya. Karena itulah, Su Xi Zhu merasa keadaan keluarga mereka saat ini agak memalukan. Namun, ucapannya tentu tidak didengarkan siapa pun, jadi ia hanya bisa mengeluh dalam hati.