Bab Satu: Reinkarnasi yang Setengah Hati
“Gendut kecil, di saat seperti ini kau masih sempat bersantai? Benar-benar pikiranmu selebar langit, ya?” Sebuah suara anak-anak yang nyaring memecah ketenangan sebuah halaman kecil di kediaman Marsekal Selatan.
Yang datang adalah seorang gadis kecil berusia sekitar enam atau tujuh tahun. Kepalanya terangkat tinggi, jelas ingin mempertahankan sikap angkuh, namun sayang, seluruh dirinya justru memancarkan rasa kesal.
“Oh? Apakah langit runtuh atau tanah terbelah? Atau mungkin Kakak Kedua sakit lagi? Butuh kasih sayang dari saudara perempuanmu? Kalau tidak, kenapa aku tak boleh santai di sini?”
Yang menjawab adalah pemilik halaman itu, Nona sulung dari cabang utama keluarga ketiga Marsekal Selatan, bernama Su Xizhu, sementara yang menerobos masuk adalah Su Xilan, putri sah cabang kedua, namun dari istri kedua.
Su Xizhu sedikit menyayangkan ketenangannya yang terusik, tapi melihat gadis kecil di depannya yang tampak marah-marah justru membuatnya merasa lucu.
Menurut istilah para pelaku, Su Xizhu seharusnya disebut lahir kembali. Ia sendiri tak mengerti kenapa sebagai perempuan biasa dari abad ke-21, ia bisa terlahir kembali di zaman kuno dengan membawa ingatan masa lalunya. Apa ini hadiah karena ia gugur dengan berani saat menolong orang? Kalau tahu begini, ia tak akan ikut belajar bela diri dengan ayahnya.
Saat Su Xizhu mulai sadar di tubuh ini, ia sempat bingung, tapi kenyataan sudah terjadi dan ia hanya bisa menerima. Untungnya ia bukan anak tunggal, hanya saja proses reinkarnasinya seperti setengah-setengah; tidak hanya lupa minum ramuan pelupa, proses kelahiran pun dilewati begitu saja. Begitu membuka mata, ia sudah berusia lebih dari setahun.
Tentu saja, Su Xizhu sangat mengapresiasi tindakan cepat dunia bawah. Siapa orang dewasa yang mau mendadak berubah menjadi bayi yang tak bisa mengatur diri sendiri? Syukurlah para pekerja dunia bawah kurang profesional.
Setelah menerima tubuh ini, Su Xizhu menolak keras minum ASI dari pengasuhnya. Untungnya tubuh ini sudah satu setengah tahun, jadi setelah beberapa kali mogok makan, akhirnya ia dibolehkan makan makanan pokok. Tak ada satu pun yang menyadari tubuh mungil ini telah berganti jiwa, dan Su Xizhu pun tumbuh hingga usia enam tahun.
Berlainan dengan tubuh Su Xizhu yang bulat berisi, Su Xilan sangat ramping. Ia mengenakan gaun kecil berwarna merah muda, rambutnya sama-sama dikuncir dua seperti Su Xizhu, tapi dihiasi mutiara-mutiara kecil yang membuat penampilannya jauh lebih cantik dan jelas ia sangat suka berdandan.
Su Xizhu memutar bola matanya. Su Xilan adalah sepupunya, lebih tua beberapa bulan darinya. Tapi hubungan keduanya, sungguh...
Tentu saja, Su Xizhu menyalahkan semua masalah hubungan mereka pada Su Xilan. Baginya, dirinya sangat manis dan menggemaskan, sedangkan Su Xilan hanyalah anak bawel yang suka mencari masalah.
“Hmph, badanku sehat kok, lagi pula, kita mana pernah punya hubungan saudara yang harmonis.”
Nada Su Xilan terdengar galak tapi ragu. Karena tubuh Su Xizhu yang gemuk, Su Xilan sengaja membatasi makan agar tetap langsing. Tapi karena usianya masih anak-anak dan tubuhnya butuh banyak nutrisi, ia pun jadi mudah sakit.
Mengingat ucapan tabib waktu itu, pipi Su Xilan jadi memerah. Tapi saat ini, ia tak berminat berdebat dengan Su Xizhu. Dengan wajah masam, ia duduk di samping Su Xizhu.
“Ibu Besar itu aneh. Kenapa saat Kakak Sulung dijodohkan, kita tidak boleh ikut? Kau sih, dilarang ikut karena badanmu gemuk dan dianggap merusak pemandangan, tapi kenapa aku juga tidak boleh? Aku ini putri satu-satunya dari pejabat tingkat empat, lho!”
Su Xilan sangat jengkel. Meski masih kecil, ia tahu keluarga yang datang untuk melihat kakaknya jauh lebih bergengsi daripada keluarga mereka. Tidak diizinkan hadir di acara penting seperti itu benar-benar membuat Su Xilan, yang menganggap dirinya gadis paling terhormat setelah putri sulung, merasa kesal.
Melihat Su Xilan yang begitu gusar, Su Xizhu malah tersenyum lebar. Untung wajahnya manis, kalau tidak senyum seperti itu pasti bikin orang makin benci.
“Aku memang gemuk, tapi aku masih kecil. Penampilanku seperti bocah pembawa keberuntungan, jauh lebih baik daripada kau yang kurus seperti lidi. Jangan sampai orang salah paham keluarga Marsekal Selatan tak sanggup memelihara anak, kan malu. Kakak Kedua, orang yang bijak tahu diri.”
Su Xizhu tak ragu membalas. Lagi pula, jadi anak pejabat itu hebat, ya? Apalagi pamannya hanya anak kedua. Tentu saja, bagian itu tak ia ucapkan, sebab Su Xilan yang bangga pada ayahnya pasti akan meledak. Su Xizhu tak takut pada Su Xilan, hanya saja hari ini situasinya istimewa, jadi ia memilih sedikit merendah.
“Kau—”
Baru saja Su Xilan hendak membalas, tiba-tiba seorang pelayan kecil muncul di pintu dengan napas terengah-engah. Ia membungkuk memberi salam pada keduanya, “Salam, Nona Kedua, Nona Ketiga.”
Yang masuk adalah Zuer, pelayan utama Su Xilan. Melihat kedua nona tampak tidak bertengkar, ia jelas lega. Ia sangat khawatir kedua nona ini akan ribut.
Biasanya, kalau mereka bertengkar, paling-paling hanya dimarahi sebentar. Tapi bila hari ini sampai bertengkar, para pelayan pribadi pasti kena getahnya, terutama dirinya sendiri, sebab jelas-jelas Su Xilan yang mulai cari gara-gara.
Zuer benar-benar tak habis pikir, kenapa nona kecilnya suka sekali datang ke tempat Nona Ketiga hanya untuk mencari masalah? Sudah tahu pasti kalah debat, tetap saja datang.
“Ada apa?” Su Xilan yang tadi urung membalas jadi bertanya dengan nada kurang ramah. Zuer ragu-ragu menatap Su Xilan. Su Xilan mengedipkan mata, lalu berdiri dan mendengus pada Su Xizhu sebelum pergi.
Su Xizhu malah tertawa kecil. Jelas-jelas Zuer sengaja mengelabui Su Xilan agar pergi, dan Su Xilan masih saja termakan? Terakhir kali Zuer juga pakai alasan apa ya? Seingatnya soal kue mahal. Dasar anak kecil, mudah sekali dibohongi.
“Hidup ini...” Setelah Su Xilan pergi, Su Xizhu menghela napas panjang. Untung tak ada yang melihat. Kalau tidak, siapa yang percaya bocah lima enam tahun bisa bersedih soal kehidupan?
“Nona, tadi saya lihat Nona Kedua pergi bersama Zuer, apakah karena urusan besar keluarga hari ini, jadi ia datang mengeluh pada Anda?”
Seorang pelayan muda berusia dua belas atau tiga belas tahun mengenakan gaun hijau membawa segelas sari buah asam dan menyerahkannya pada Su Xizhu. Pelayan kecil ini bernama Ruyi, pelayan utama Su Xizhu.
“Benar, hanya saja hari ini hari yang sangat penting. Ibu Besar pasti tak akan membiarkan kami ikut. Bukan cuma aku dan Kakak Kedua, bahkan Kakak Keempat pun tak akan muncul. Kalau bukan demi menjaga wibawa, mungkin Ibu Besar ingin semua yang terjadi hari ini dipersiapkan dengan matang dan tidak ingin ada yang mengganggu.”
Su Xizhu tak mengatakan bahwa karena tubuhnya gemuk, Ibu Besar sebenarnya sangat tidak suka padanya, takut ia mempermalukan Kakak Sulung.
Su Xizhu melambaikan tangan. Meski penasaran dengan perjodohan zaman kuno, tapi nasib Kakak Sulung, Su Ximei, menentukan masa depan seluruh keluarga Marsekal Selatan, jadi ia jelas tak ingin muncul dan jadi pengganggu.
Ruyi mengangguk. Meski usianya enam tahun lebih tua dari nona kecilnya, karena selalu mendampingi, ia tahu betul kecerdasan nona kecilnya. Maka meski Su Xizhu masih anak-anak, Ruyi sangat patuh padanya.
“Saya setuju, Nona. Tapi sungguh, Nona Sulung sangat beruntung, bisa dijodohkan dengan putra pewaris keluarga Adipati Negara. Sayangnya Nona masih terlalu muda.”
Walau nona kecilnya tidak seistimewa Nona Sulung, tapi bagi Ruyi, nona kecilnya jauh lebih unggul dari Nona Sulung yang sudah terkenal sejak kecil karena bakat dan kecantikannya.
Mendengar ucapan pelayannya, Su Xizhu memutar bola mata. Walaupun usianya cukup pun, keluarga Adipati Negara belum tentu mau menerimanya, kan? Putri sulung keluarga Marsekal Selatan saja dianggap kurang pantas, apalagi ia yang hanya keponakan jauh. Meski merasa dirinya sempurna, ia tak sege-er itu. Apa benar efek reinkarnasi membuatnya punya aura tokoh utama? Su Xizhu cuma bisa menertawakan dirinya sendiri.