Kenangan 1
“Ayo, makan selagi hangat.” Batu menyodorkan sebuah bakpao yang baru dibelinya ke tangan Wanrou, bibirnya terkunci, hanya mendesak gadis kecil di depannya.
Si kecil Wanrou menatap bakpao itu, lalu memandang bocah lelaki dekil di hadapannya. Ia ragu sejenak, namun akhirnya mengulurkan bakpao itu ke arah anak laki-laki itu.
Anak itu tertegun, lalu tersenyum lebar dengan polos, mengibaskan tangannya sambil berkata, “Aku tidak lapar, cepat makan saja. Nanti kalau sudah dingin kamu bisa sakit perut.”
“Kamu bohong, hari ini kamu belum makan apa-apa.”
Batu menggaruk kepalanya, tampak bingung cukup lama, akhirnya menggigit sedikit bakpao itu.
Benar-benar hanya sedikit, bahkan isi di dalamnya belum terlihat, tapi Batu sudah merasa sangat puas.
Melihat Wanrou kecil makan dengan lahap, Batu ikut senang. Dalam hati ia berjanji, ia akan memperlakukan Wanrou seperti adik kandungnya sendiri.
Wanrou kecil memandang mata bocah lelaki itu yang bening, hatinya terasa hangat. Ia tersesat dan terpisah dari keluarganya, bahkan tidak ingat di mana rumahnya. Sebagai anak berumur lima enam tahun, ia pun tidak begitu paham, hanya mengingat namanya adalah Mu Wanrou.
Tapi sekarang ia sudah tidak takut lagi, karena ia merasa anak laki-laki kecil di sisinya akan memperlakukannya dengan baik.
Lama-kelamaan, pakaian Wanrou kecil pun menjadi sama kotor dan lusuh seperti milik Batu.
Batu merasa bersalah, karena ia tidak punya uang untuk membelikan pakaian baru untuknya. Toh uang makan pun mereka dapat dari belas kasihan orang lain.
Namun Wanrou kecil sangat pengertian, tidak menangis ataupun mengeluh, malah menenangkan Batu dengan lembut.
Suatu hari, Batu keluar membeli makanan, dalam hati ia sangat berterima kasih pada ibu baik hati yang ia temui kemarin, yang memberinya sedikit uang.
Ia menunduk menatap uang kusam dan lembap yang digenggamnya, berpikir, “Hari ini bisa beli dua roti kukus, Wanrou bisa makan sampai kenyang sebelum tidur.” Memikirkan itu, ia pun tersenyum lebar.
“Hoi, bocah, serahkan uangmu itu sekarang juga!” Suara kasar tiba-tiba meledak di telinga Batu.
Tubuh kecil kurus itu terkejut, tanpa sadar melangkah mundur dua langkah. Sepasang matanya yang besar tampak ketakutan, namun segera ia menenangkan diri.
Pemimpin gerombolan itu melihat reaksi Batu yang ketakutan, tertawa keras, diikuti tawa cekikikan beberapa orang di belakangnya.
Barulah Batu sadar mereka hanyalah beberapa preman pasar, tapi tubuh mereka jauh lebih besar dan kekar.
Batu mengenal mereka, kerap menggunakan tenaga untuk menindas orang tua dan anak-anak.
Lebih pantas disebut perampok daripada preman.
Pemimpin preman itu hanya punya satu kegemaran; bukan karena alasan apa pun, hanya ingin pamer kekuatan. Hanya dengan menindas orang yang seratus kali lebih lemah darinya, ia merasa punya kuasa saat mendengar suara orang memohon ampun.
Batu memandang remeh si pemimpin yang tertawa terpingkal-pingkal itu.
Melihat tatapan berbeda dari Batu, kepala preman itu menghentikan tawanya, menengadahkan kepala dan melirik tajam, “Bocah, kalau kau tahu diri, serahkan saja uangmu. Kalau tidak... hmph!”
Batu tertawa sinis, “Kamulah yang tidak punya hati dan perasaan. Menindas orang tua dan anak kecil, aku ini hanya pengemis kecil yang uangnya cuma cukup beli beberapa bakpao, demi uang segitu saja kau bertindak sekeji ini, sungguh memalukan.”
“Kau, kau...” Kepala preman itu tidak menyangka akan dinasihati bocah ingusan, sampai hampir kehabisan napas karena marah.
Anak buahnya, ingin membela bos mereka, segera menggulung lengan baju dan berkata, “Bos, biar kami saja yang mengajarinya. Bocah kurang ajar seperti ini memang cari mati!”
Pemimpin preman itu menoyor kepala anak buahnya, menghardik, “Ngapain banyak omong! Cepat pukul saja!”
“Baik, baik!” Beberapa orang itu mengiyakan, sambil memutar pergelangan tangan dan leher, mengepung Batu rapat-rapat.
Kasihan, Batu pun tidak bisa lari keluar dari kepungan.
Batu memandang orang-orang yang mengepungnya, meski sedikit takut, ia sama sekali tidak menunjukkan tanda menyerah. Sebaliknya, uang di tangannya digenggam semakin erat.
Itu uang untuk membelikan makan Wanrou, ia tidak ingin gadis itu kelaparan lagi.
Ia tahu, sekalipun ia memohon ampun sekarang, yang akan didapat hanya penghinaan lebih besar. Karena itu, ia semakin menegakkan punggung dan menatap ke depan tanpa ekspresi.
Ketegaran Batu membuat orang-orang yang ada di sana menjadi sedikit gentar, tak satu pun berani memulai.
Justru kepala premanlah yang semakin marah, memaki, “Kalian itu kerja apa? Kenapa cuma diam? Hah?!”
Ketakutan pada bos jauh lebih besar daripada ancaman Batu. Tanpa menunggu reaksi, tinju-tinju mereka pun turun seperti badai.
Batu menggigit bibirnya erat-erat, rasa darah yang pahit segera memenuhi mulutnya.
Tiba-tiba, seseorang menendang lututnya dengan keras. Batu langsung berlutut di tanah, rasa sakit menusuk menjalar di tubuhnya. Ia bertumpu pada tanah, berusaha bangkit. Dua orang menahannya kuat-kuat, membuatnya tak bisa bergerak, namun kepala kerasnya tetap terangkat, sorot matanya penuh perlawanan.
“Kak Batu!” Suara manis penuh cemas dan takut tiba-tiba terdengar, membuat semua orang menghentikan pukulan mereka.