Bab Sembilan Puluh Enam: Mayat Hidup
Makhluk mayat hidup bisa dikatakan sebagai spesies primata baru yang terbentuk setelah terinfeksi oleh mutasi genetik. Makhluk baru ini tidak memiliki pikiran maupun kesadaran diri. Yang tersisa hanyalah naluri dasar dalam rantai gen, naluri yang menjadi dasar semua makhluk hidup: evolusi dan memangsa.
Namun, makhluk tanpa kecerdasan ini seharusnya mudah saja dimusnahkan oleh manusia. Akan tetapi, mereka memiliki kemampuan khusus, yaitu menularkan infeksi pada makhluk lain melalui darah dan luka di tubuh, sehingga menyebabkan mutasi. Setelah terinfeksi, gen mutasi itu akan menyerang dan memasuki otak inang. Gen mutasi ini kemudian memengaruhi gen inang, seolah melengkapi kekurangan pada rantai gen inang dengan menempel dan menyalin secara masif.
Tergantung pada seberapa besar kekurangan rantai gen inang, dalam beberapa jam atau sehari, begitu gen mutasi dalam tubuh mencapai jumlah tertentu dan telah melengkapi seluruh rantai gen, maka inang akan mengalami evolusi pada makna tertentu. Evolusi itu adalah kelahiran spesies baru: mayat hidup.
Yang tersisa hanyalah naluri dasar makhluk, atau mungkin naluri nenek moyang manusia yang sangat kuat: berevolusi dan menginfeksi sesama. Demikian pula, kemampuan kesetiaan milik Chen Peng berkaitan dengan infeksi mayat hidup, sehingga ia selalu menyimpan dugaan bahwa dirinya bisa membuat kemampuan itu berevolusi lagi.
“Mungkin setelah menelan mayat hidup, ketika kemampuan saya berkembang lagi, manusia yang berubah menjadi anak spesies baru tidak akan kehilangan kecerdasannya...” Begitulah dugaan dan harapan Chen Peng.
Ia mengabaikan semakin banyak orang yang berkumpul di sekeliling, lalu duduk bersila di jalan belakang rumah sakit. Di dunia zaman Jurassic, ia sudah punya gagasan seperti ini, namun di dunia itu tidak ada mayat hidup untuk dijadikan percobaan.
Kini, di dunia kiamat, waktu sudah melewati tengah malam, mayat hidup akan segera muncul, dan sistem pun memberikan peringatan.
“Perhatian, pelaksana. Dunia Krisis Biokimia akan segera turun ke dunia utama...” Tepat pukul dua belas malam, tak kurang sedetik pun.
Dalam sekejap, atau seolah hanya sekejab mata, yang semu perlahan menjadi nyata. Begitu suara sistem berhenti, beberapa manusia berdarah dan berlumuran daging muncul di jalanan, seolah memang sudah ada di sana tanpa terlihat menonjol.
“Inilah mayat hidup. Ternyata persis seperti yang di televisi.”
Chen Peng menatap makhluk yang muncul di hadapannya. Tubuh yang bergerak lamban, tanda-tanda fisik yang setengah rusak. Dalam pikirannya, energi mayat hidup ini sangat rendah, bahkan lebih rendah daripada manusia biasa.
“Bahkan tidak setara dengan tingkat energi seorang remaja...” Chen Peng sedikit kecewa melihat hasil pengamatannya. Ia sempat berharap akan muncul monster mayat hidup besar seperti Penjilat atau mayat hidup dengan kemampuan khusus, agar ia bisa mencoba menelan dan melihat apakah kemampuan baru akan muncul, atau evolusi kembali terjadi.
Toh, bila dipikir-pikir, ini seperti sistem yang menebar monster di seluruh peta. Namun setelah menunggu cukup lama, Chen Peng menyadari bahwa monster yang muncul di sekitarnya justru berlevel sangat rendah, sampai-sampai Li Shao yang berdiri terpaku di sampingnya pun bisa membunuhnya selama tidak panik.
“Kedatangan dunia biokimia dimulai dari mayat hidup paling lemah. Setelah satu hari, makhluk dengan gen evolusi tingkat tinggi baru akan turun,” demikian penjelasan sistem.
Walau sistem berkata demikian, Chen Peng tahu, melihat Li Shao yang bersembunyi mati-matian di balik Ning Fan, bila mereka berdua bertemu mayat hidup sendirian, hasilnya sudah pasti Li Shao akan menjadi sesama mayat hidup atau sekadar makanan.
Sebab dunia ini belum pernah mengenal film bertema biokimia, mereka belum pernah melihat makhluk aneh seperti ini.
“Tetapi setelah hari ini, mereka pasti akan mengenal makhluk ajaib ini.” Begitu pikir Ning Fan, lalu ia menarik Li Shao yang menggigil, membawanya masuk ke dalam mobil.
Toh mereka tidak bisa berbuat banyak, dan tidak perlu memaksakan diri membantu.
“Kata Kak Ning, mulai hari ini kita akan hidup di dunia yang dipenuhi makhluk seperti ini...” Setelah suasana hati agak tenang dalam mobil, Li Shao mencoba membayangkan kehidupan setelah ini, menahan mual dan takut, sambil mengajak sepupunya yang juga hampir kehilangan akal, mengamati mayat hidup yang berjalan terseok-seok di luar mobil.
Angin panas musim panas bertiup, membawa bau busuk menyengat yang membuat mual. Di perut mayat hidup itu, usus kekuningan menggantung dari luka besar, sementara matanya yang mengering hanya menyisakan rongga hitam. Tanpa rambut, tubuhnya hanya ditutupi daging busuk yang bengkak.
Salah satunya, entah karena dimakan sesama saat masih hidup atau karena terlindas kendaraan besar, kini hanya tersisa setengah tubuh. Bagian panggul ke bawah terpotong, tanpa kaki, dan kini ia merangkak dengan kedua tangan. Tanpa suara geraman, mungkin karena pita suaranya telah rusak.
Namun, gerakan langkahnya sedikit lebih cepat, seakan mencium aroma makanan. Dorongan nafsu makan dan naluri dasar membuat mereka perlahan mendekati kerumunan yang menonton dengan penasaran.
Lampu jalan yang temaram membuat mereka, dari kejauhan, tampak seperti orang mabuk yang berjalan sempoyongan.
Sementara itu, bangunan yang rusak dikelilingi area gelap karena beberapa tiang lampu di situ mati. Jika tidak mendekat, orang-orang tak akan menyadari keberadaan mereka.
Orang-orang yang menonton masih sibuk dengan rasa ingin tahu.
“Ada apa ini? Tabung gas meledak?” terdengar suara orang bertanya.
Tiba-tiba, suara rem motor listrik yang melengking mengagetkan suasana, seorang pria paruh baya berhenti dan menunduk menatap ke dasar lubang.
“Aku juga baru sampai,” sahut seorang pemuda yang sibuk memotret tanpa menoleh, “Tadi waktu berobat di rumah sakit, aku dengar suara ledakan keras, kukira ada yang meledak.”
“Kenapa di dasar lubang ada hidran pemadam?” Seorang warga yang sedang makan malam lewat, melihat kerumunan lantas mendekat.
“Masih panas banget.” Seseorang memberanikan diri melompat turun, mendekat hati-hati dan meraba hidran yang sudah berubah bentuk karena suhu tinggi.
“Nanti setelah dingin, kita angkat saja.” Seorang pekerja bangunan yang baru pulang lembur datang, kebetulan ia membawa tali pengaman baru yang dibelinya saat bekerja di ketinggian tadi. Takut hilang, ia memang berniat membawanya pulang, tak disangka malah bermanfaat.
“Sepertinya itu hidran dari rumah sakit.” Pemilik toko di sekitar, keluar hanya mengenakan piyama dan sandal. Ia juga mendengar suara ledakan, dan karena rasa ingin tahu, ia meninggalkan istri dan anak lalu keluar untuk memastikan.
Memang benar, di zaman apa pun dan negara mana pun, rasa ingin tahu adalah naluri alami manusia untuk mencari tahu. Walau tengah malam, ada belasan orang yang berkumpul menonton.
Mereka membentuk setengah lingkaran, berisi orang bermacam-macam. Suara ramai, ada yang memberi saran, ada yang sok tahu, ada yang ingin melapor polisi.
Namun, tiba-tiba terdengar suara “plak...”, daging busuk jatuh ke tanah. Di pinggir kerumunan, seorang pejalan kaki yang tadinya fokus meneliti lubang besar itu, seolah merasa punggungnya digores sesuatu.
“Tempat segede ini, kenapa malah berdesakan?” Suara kesal terdengar dari orang itu.
Tadi ia memang berdiri berjinjit, dan ketika didorong sedikit dari belakang, ia limbung dan hampir tersandung batu di bawah kakinya.
“Hampir saja celaka aku!”
Dengan marah, ia berbalik hendak memarahi orang yang mendorongnya di belakang...