Bab 67: Cara Memetik Buah Persik
Bab 67: Cara Memetik Buah Persik
Sejak hari Guyu mengutarakan keinginannya untuk masuk ke hutan dan ditegur oleh An Jinxuan, ia memang tidak lagi menyebutkannya secara terang-terangan, namun dalam hatinya tetap belum menyerah. Setiap kali Li Dequan pergi ke hutan, Guyu ingin sekali ikut, namun ia tetap belum berani, sehingga hanya bisa bertanya-tanya secara tidak langsung. Begitu Li Dequan mulai curiga, ia pun cepat-cepat menahan diri.
Melihat Li Dequan bekerja begitu keras, keringatnya menetes satu demi satu membasahi kayu di bawah kakinya, Guyu memetik beberapa buah persik dari pohon di halaman kakek kedua, mencucinya bersih dan memberikannya kepada Li Dequan. Namun ia juga enggan memetik terlalu banyak, berpikir toh sebentar lagi akan mendapat bagian persik dari kebun, jadi yang di pohon bisa dinikmati perlahan-lahan.
Saat itulah, Chen Jiangsheng menongolkan kepala dari pintu, namun Guyu tetap mengabaikannya. Chen Jiangsheng memang agak lemot, biasanya jika tidak ada kegiatan selalu mampir ke tempat ini, hanya saja keluarganya memang tidak punya pohon persik sendiri. Meski ayahnya adalah kepala dusun, mereka tetap harus menunggu pembagian persik dari kebun sebelum bisa menikmatinya.
Karena sekian lama Guyu tidak juga memperdulikannya, Chen Jiangsheng mulai bosan, pura-pura batuk dan menendang batu, berusaha menarik perhatian. Namun Guyu tetap saja bersikap seperti tidak tahu, membiarkan Chen Jiangsheng berulah sendiri. Chen Jiangsheng juga anak yang keras kepala, menahan diri menunggu Guyu sadar akan kehadirannya.
Melihat tingkahnya yang kasihan, walau pagi itu sudah terasa panas, Guyu pun tertawa, “Bodoh, semua persik sudah habis, buruan masuk sini.”
Chen Jiangsheng pun tersenyum sambil menggaruk kepala, “Kupikir kau tidak sadar aku ada di sini. Guyu, nanti waktu panen persik aku ajak kau ikut, seru sekali, banyak orang yang datang.”
Guyu melihat Chen Jiangsheng yang sudah sebesar itu, keluarganya pun cukup berada, tapi kerjanya hanya main-main setiap hari, ia agak meremehkan, “Apa menariknya memetik persik? Bukannya sudah pernah, dasar anak kecil.”
Chen Jiangsheng agak kecewa mendengar Guyu tak menganggap serius, namun tiba-tiba ia bertepuk tangan dan berkata, “Kau tidak tahu, tahun ini beda. Ayahku bilang, di awal tahun, ada kerabat seorang saudagar dari kota yang akan menggelar pesta ulang tahun ke-60 dan mereka meminta tolong ayahku membeli persik. Sudah dirundingkan sebelumnya, jadi ayahku bilang tidak perlu lagi repot-repot mencari pembeli seperti dulu. Tinggal petik saja, nanti pasti laku, enak sekali.”
Sambil mendengar ocehan Chen Jiangsheng, Guyu terus menikmati persik di tangannya. Chen Jiangsheng belum selesai, “Sehari bisa dapat sepuluh wen, nanti bisa saja ayahmu ikut memetik, lumayan dapat uang.”
Bagian ini cukup menarik bagi Guyu, namun setelah dipikir-pikir, Li Dequan harus menyelesaikan pembuatan meja dan kursi, itu tidak bisa ditunda hanya demi sepuluh wen sehari. Dirinya mungkin bisa punya waktu, “Jiang, kalau aku ikut metik beberapa hari, boleh tidak?”
Chen Jiangsheng menggeleng, “Kau bisa metik berapa? Ini harusnya untuk orang dewasa, kita cuma boleh lihat-lihat. Tapi nanti makan satu-dua persik, tak ada yang marah.”
Mendengar itu, Guyu langsung jadi malas bicara, “Terus kau cerita buat apa? Toh keluarga kami tidak bisa ikut cari uang.”
“Kenapa kau selalu mikir soal uang sih?” Chen Jiangsheng heran.
Guyu cemberut, “Itulah bedanya aku dan anak kecil sepertimu, sana main sendiri.”
Chen Jiangsheng tampak kecewa, “Padahal umurku lebih tua dari kamu.”
Melihat wajahnya, Guyu jadi geli sendiri, akhirnya tertawa, “Sudah, makan saja persikmu.”
***
Menjelang malam, Nyonya Jiang datang menjemput Chen Jiangsheng untuk makan malam. Sambil bicara, “Dequan, kalau pekerjaan itu bisa ditunda, ikutlah memetik persik di kebun. Tahun ini ada pelanggan kaya dari kota yang pesan persik kita, nanti dari pasar pasti ada kereta yang mengangkut, tapi tidak bisa disimpan lama, paling tiga-lima hari, jadi tiap hari harus dikirim sedikit demi sedikit, tak bisa ditunda.”
Li Dequan sebenarnya tertarik, dengar-dengar setelah persik laku, upah pun langsung diterima. Tapi pekerjaan pembuatan meja dan kursi untuk adik iparnya tidak bisa ditinggal, “Saya juga ingin, tapi ini untuk adik ipar istri, mereka sedang menunggu dipakai, jadi saya tidak bisa pergi.”
Sebenarnya kalau begitu ya sudah, namun Nyonya Jiang menambahkan, “Banyak orang bilang kalau bukan untuk kerja, tuan rumah tidak mengizinkan, atau karena kerjaan di rumah menumpuk, jadi tetap saja kekurangan orang. Bagaimana ini?”
Guyu langsung bertanya, “Bibi Jiang, kalau kekurangan orang bagaimana? Waktunya juga mepet, bagaimana kalau aku dan kakakku ikut?”
Nyonya Jiang menggeleng, “Itu aku juga tak bisa pastikan, belum pernah ada yang begitu. Orang-orang di dusun biasanya mencari kerja di waktu senggang, siapa sangka kali ini butuh banyak orang dalam waktu singkat. Upah orang dewasa sehari sepuluh wen, kalau kalian ikut, bagaimana hitungannya? Tiga wen, lima wen, tetap tidak cocok. Ayah Jiangsheng sekarang juga pusing memikirkan ini.”
Selesai bicara, Nyonya Jiang menarik Chen Jiangsheng pulang makan, katanya setelah makan akan coba mencari orang lagi, kalau perlu panggil bantuan dari desa lain.
Guyu menggeleng, “Orang-orang di desa ini saja berlomba cari uang, masa hasil kebun sendiri malah harus dikasih orang luar?”
Li Dequan menanggapi, “Kadang memang harus begitu, siapa tahu tiba-tiba butuh banyak tenaga.”
Guyu menunduk, berpikir keras. Ia sungguh tidak mengerti, tapi juga tidak mau menyerah begitu saja. Akhirnya, ia menemukan ide. Kuncinya, kenapa harus orang dewasa, dan kenapa harus dihitung per hari? Kalau dihitung per keranjang, bukankah itu lebih adil? Misal, satu orang dewasa bisa memetik sepuluh keranjang sehari, satu keranjang dibayar satu wen, anak-anak pun bisa ikut, siapa pun boleh. Semakin lama dipikir, semakin masuk akal, sampai-sampai ia tertawa sendiri.
Jingzhe yang melihat Guyu tampak gembira, bertanya, “Guyu, kau sedang pikir apa?”
Guyu pun menceritakan idenya, Jingzhe sangat setuju. Keduanya lalu menyampaikan pada keluarga, semua pun sepakat.
Karena yakin idenya bagus, Guyu ingin segera menemui Chen Yongyu untuk mengusulkan, hitung-hitung membantu masalah kekurangan tenaga kerja, toh di dusun ini banyak perempuan dan anak-anak yang bisa ikut memetik.
Jingzhe melihat Guyu begitu bersemangat, tertawa sambil menarik tangannya, “Ayo, ayo, sudah kuduga kau pasti tak sabar.”
Mereka segera tiba di rumah keluarga Chen, melihat keluarga itu sedang makan malam. Guyu pun ragu masuk atau tidak.
Namun Chen Yongyu sudah melihat mereka, “Kalian belum makan? Masuk saja sekalian.”
Jingzhe menyapa dengan sopan, tapi melihat Chen Yongyu walau tersenyum, tetap tampak cemas.
“Panen persik sebentar lagi, tapi orangnya tidak juga cukup, besok mungkin aku harus ke Liubazi cari bantuan…”
Guyu pun menyela, “Paman Chen, aku punya ide, kita tidak perlu memanggil orang dari luar.”
Chen Yongyu tertarik, “Coba ceritakan.”
Guyu lalu bertanya, “Paman, kira-kira satu orang dewasa bisa memetik berapa keranjang dalam sehari?”
Chen Yongyu berpikir, “Paling tujuh atau delapan keranjang. Tergantung juga pohonnya, kalau pohonnya tinggi agak susah dipetik.”
Guyu sudah punya gambaran, lalu ia berkata, “Bagaimana kalau upahnya dihitung per keranjang? Satu keranjang satu wen, jadi siapa yang kerja keras dapat lebih banyak, tidak ada yang bisa malas-malasan. Dengan cara ini, anak-anak dan orang tua pun bisa ikut. Misalnya aku dan kakakku, kalau bisa memetik tiga keranjang, ya dapat tiga wen, walaupun kami kecil, kami lebih lincah memanjat pohon dibanding orang dewasa.”
Chen Yongyu makin kagum, sampai tertegun lalu bertepuk tangan, “Ide yang bagus sekali, Guyu, otakmu memang cerdas. Tapi siapa yang menghitung jumlah keranjang itu?”
Sebenarnya Guyu dan Jingzhe sudah memikirkan sebelumnya. Kali ini Jingzhe menimpali, “Paman, kalau paman setuju, aku bisa menulis karcis, berjaga di dekat kereta. Setiap ada yang membawa satu keranjang persik, aku kasih satu karcis, nanti tinggal tukar karcis ke paman untuk ambil uang. Bagaimana?”
Chen Yongyu menatap mereka, “Dequan benar-benar beruntung punya anak seperti kalian, cerdas sekali. Baiklah, kita lakukan seperti itu.”
Guyu menambahkan, “Nanti harus diatur, satu pohon harus selesai dipetik baru boleh pindah ke pohon lain, satu keluarga memetik satu baris. Kalau tidak, nanti ada yang hanya pilih bagian yang mudah, pohon yang buahnya jarang malah tidak ada yang mau.”
Chen Yongyu tertawa puas, “Bagus, kita coba dua hari, nanti yang ingin cari uang bisa ikut, lalu kita pilih beberapa orang yang dipercaya untuk menyerahkan persik ke keluarga Ning, mereka yang urus pengiriman ke kota. Setelah uangnya diterima, tinggal tukar karcis di sini.”
Guyu menemukan satu celah, “Paman, ada satu masalah lagi. Kalau nanti ada yang bilang kakakku menulis karcis palsu dan menuntut uang, bagaimana? Bagaimana kalau begini, kakakku tulis semua karcis, lalu serahkan ke paman, paman beri tanda khusus, jadi nanti hanya karcis bertanda khusus saja yang bisa ditukar uang.”
Chen Yongyu tertawa, “Pintar sekali, semua hal sampai dipikirkan. Tanda apa ya yang tidak bisa ditiru orang lain?”
Guyu tak menjawab lagi, karena itu memang urusan orang dewasa. Ia merasa sangat puas, saling tersenyum dengan Jingzhe. Nyonya Jiang ingin memberi mereka sesuatu, tapi Guyu menolak dengan alasan sudah punya persik, tak enak menerima bantuan dari keluarga lain. Nyonya Jiang hanya memandang Guyu dengan senyum penuh arti.
Guyu tidak terlalu memikirkannya, pulang dengan hati riang bersama Jingzhe, menanti saat bisa memetik persik dan mendapatkan upah.
Bab 67: Cara Memetik Buah Persik