Bab Tujuh Puluh Lima: Bibi Dong: Katakan saja terus terang, aku ingin kau bertanding denganku.
Tok... tok... tok...
Pintu utama diketuk seseorang.
Di bawah selimut, sambil menikmati kelembutan tubuh sang jelita, Li Mubai membuka matanya.
Sejak kekuatannya mencapai tingkat Douluo Bergelar, ia tak lagi seperti dulu yang terus-menerus berlatih kekuatan roh tanpa henti siang dan malam.
Menurut pemahaman Li Mubai, untuk apa memperkuat diri?
Tentu saja agar bisa bersantai dan menikmati hidup dengan lebih baik.
Karena kekuatannya sudah setara Douluo Bergelar, untuk apa lagi repot-repot?
Sejak mencapai tingkatan itu, peningkatan kekuatan benar-benar hanya bergantung pada takdir.
Jika kekuatan rohnya mau menembus batas, biar saja. Kalau tidak, ya sudahlah, toh tak berpengaruh baginya.
Toh ia bukan penjahat besar yang ingin menghancurkan dunia.
Juga bukan pahlawan agung yang ingin menyelamatkan rakyat dari penderitaan.
Berlatih baginya hanyalah demi menjalani hidup yang nyaman.
Tujuan itu kini telah tercapai, sudah ia nikmati, dan ketika merasa bosan, barulah ia iseng membimbing Bibi Dong.
Semua itu dilakukan semata untuk menambah warna dalam hidupnya.
Tak ada maksud tersembunyi lainnya.
Kini, sikap hidupnya hanya satu: santai!
Dengan cekatan ia bangun dari tempat tidur.
Rambut pendeknya ia rapikan seadanya, lalu mengenakan jubah panjang hitam berhias motif emas, dan keluar dari kamar.
Pagi-pagi begini, siapa yang datang mengetuk pintu?
Jangan-jangan si Beruang Tua?
Secara naluriah, Li Mubai menduga yang mengetuk adalah Beruang Iblis.
Sebab sore kemarin, Beruang Iblis berkata akan mampir hari ini, lalu mengajak Li Mubai ke sebuah tempat pijat yang katanya punya "keunikan tersendiri".
Tujuannya: benar-benar untuk "bersantai"!
...
Dengan suara berderit, pintu utama terbuka.
"Beruang Tua, kenapa kau pagi-pagi sudah ke sini? Aku masih tidur, tahu!"
Karena semalam minum arak, kepala Li Mubai masih agak pening.
Tanpa melihat jelas siapa di depan pintu, ia langsung bicara lebih dulu.
"Nanti kita..."
Baru separuh kalimat terucap.
Sesaat kemudian,
Li Mubai langsung tertegun.
Begitu melihat sosok di depannya yang tak mungkin ia salah kenali, kesadarannya langsung pulih dari sisa kantuk.
'Astagfirullah, kenapa perempuan ini datang? Dan bawa anak pula!'
'Syukurlah aku belum sempat mengucapkan sisa kalimat tadi, kalau tidak bakal malu besar.'
'Perempuan ini tak pernah datang tanpa alasan.'
'Kalau sudah muncul, pasti ada urusan yang tidak menyenangkan!'
'Gawat... Rencana hari ini pasti gagal lagi.'
Melihat siapa yang datang, hati Li Mubai terasa pahit.
Ia benar-benar tak menyangka perempuan ini kembali datang berkunjung.
Perlu diketahui,
Kedatangan terakhirnya saja, perempuan ini betah dari pagi sampai malam, baru pulang setelah makan malam.
Baru setelah Li Mubai hendak tidur, barulah Bibi Dong pergi dengan enggan.
Karena kunjungan itulah, Kota Roh kini dipenuhi banyak wajah asing, jumlah penduduk pun bertambah pesat.
Gerobak-gerobak yang berlalu-lalang membawa barang tiada habisnya.
Dan baru seminggu sejak kunjungan terakhir, Bibi Dong sudah datang lagi.
Yang diinginkannya hanyalah sesekali memberi petunjuk di sela hidup santainya, bukan menjadi penasihat penuh waktu.
Kalau begitu, bukankah sangat mengganggu kenikmatan hidupnya?
"Wajah Tetua Kesepuluh sepertinya kurang senang atas kedatanganku, ya?"
Sudut bibir Bibi Dong terangkat sedikit, ia menggoda.
Isi hati Li Mubai tadi terdengar jelas di telinga Bibi Dong.
Perilaku Li Mubai sudah tak membuatnya terganggu.
Dulu, jika mendengar Li Mubai tiap hari berkeliaran di tempat hiburan,
Mungkin ia akan memarahi,
"Sebagai lelaki sejati, hidup di bawah langit dan bumi, mana boleh tak punya cita-cita tinggi, lalu memilih terjerumus?"
Namun sekarang?
Ia sudah terbiasa.
Seluruh tempat hiburan di timur Kota Roh sudah mereka datangi berdua.
Tak masalah juga.
Paling tidak keduanya tidak pernah mengganggu keputusan-keputusannya, apalagi tergila-gila pada kekuasaan.
Tak seperti para tetua di Balai Persembahan.
Orangnya memang sedikit, tapi liciknya bukan main.
Gabungan akal-akalan mereka melebihi delapan ratus orang!
"Mana mungkin, Yang Mulia Sri Paus sudi berkunjung adalah kehormatan besar bagiku!"
Kepahitan di wajah Li Mubai langsung lenyap, diganti senyum cerah.
Dengan basa-basi, ia mempersilakan Bibi Dong masuk ke rumah.
Dengan senyum kaku, ia juga mengajak Hu Liena masuk ke ruang tamu.
Setelah itu ia menuju dapur, merebus teh dengan air dari teko.
Baru setelah menyuguhkan secangkir teh pada mereka, Li Mubai duduk.
"Yang Mulia Sri Paus tak pernah berkunjung tanpa alasan penting."
"Jadi, ada keperluan apa kali ini? Silakan utarakan saja."
Sambil mendorong cangkir ke arah mereka di meja, Li Mubai berkata tanpa basa-basi.
Ia ingin mengakhiri urusan ini secepatnya.
Tak boleh gara-gara dua orang ini, rencananya bersantai bersama Beruang Tua jadi gagal.
"Tetua Li sepertinya tergesa-gesa, jangan-jangan ingin buru-buru menikmati dunia hiburan?"
Alis Bibi Dong terangkat, nadanya menggoda.
Mendengar itu,
Li Mubai yang duduk di sofa langsung terkejut.
'Aduh, perempuan ini tahu dari mana rencanaku?'
Menahan keterkejutannya,
Li Mubai pun tersenyum canggung,
"Aduh, Yang Mulia, aku hanya ingin menikmati keindahan dunia saja. Masa itu disebut dunia hiburan segala?"
Walau ucapan Bibi Dong sempat membuat Li Mubai terkejut,
Tapi setelah berpikir, memang masuk akal.
Ia tahu benar,
Bibi Dong menempatkan orang-orang khusus di sekitar rumahnya untuk mengawasi gerak-geriknya.
Jadi ke mana saja ia pergi beberapa hari ini, Bibi Dong pasti tahu.
Tak heran kalau ia bisa menebak rencana Li Mubai hari ini.
Melihat perubahan raut wajah Li Mubai, Bibi Dong justru merasa terhibur.
Entah kenapa,
Ia merasa mengolok Li Mubai begini memang menyenangkan.
Namun,
Hal seperti ini tak boleh sering-sering dilakukan.
"Aku bicara langsung saja. Bukankah Tetua Buaya Emas mengajakmu bertanding di Arena?"
Bibi Dong pun menghapus senyum samar di wajahnya.
Langsung ke pokok persoalan.
"Yang Mulia Sri Paus juga tahu soal itu?"
Li Mubai agak terkejut.
"Bukan hanya guruku yang tahu, aku pun tahu."
"Berita ini sudah menyebar di seantero Kota Roh."
"Bukan hanya warga Kota Roh, banyak guru roh dari dua kekaisaran besar juga sudah datang, semua ingin menyaksikan pertarungan dua Douluo Bergelar."
Hu Liena yang duduk di samping, akhirnya mendapat kesempatan bicara.
"Serius sebanyak itu?"
Tanpa mereka bilang pun,
Li Mubai tak menyangka berita ini sudah seheboh itu.
Sampai orang-orang dari dua kekaisaran pun datang.
Tapi... sayangnya, ia memang tak berniat pergi.
Meninggalkan Buaya Emas menunggu sia-sia, bukankah menyenangkan?
Memikirkan itu, wajah Li Mubai tersenyum geli.
Ia sama sekali tak khawatir Buaya Emas akan menjelek-jelekkannya.
Nama baik kadang berguna, kadang tak ada artinya.
Bagi Li Mubai,
Itu tak terlalu penting.
Ia tak peduli apa kata orang.
Mau orang berkata apa pun, statusnya sebagai Douluo Bergelar tak akan berubah.
Kalau begitu,
Buat apa repot-repot bertarung?
Lagi pula,
Ia juga tak yakin bisa mengalahkan Buaya Emas.
Orang tua itu sudah lama bersembunyi di Balai Persembahan, kekuatannya pasti di atas Li Mubai.
Kalau bertarung, pasti akan dipermalukan.
Saat Buaya Emas muncul di Rumah Harum itu saja, Li Mubai sudah bisa membaca kemarahan di matanya.
Sebagai orang yang sudah kenyang makan asam garam dunia kerja abad dua puluh satu,
Tentu Li Mubai tahu Buaya Emas pasti ingin memberinya pelajaran!
Tapi mana mungkin ia membiarkan orang tua itu menang?
Sementara Bibi Dong mendengar suara-suara di sekeliling, dalam hati ia membenarkan dugaannya.
Namun ia takkan membiarkan Li Mubai berbuat semaunya.
Maka ia pun berkata,
"Aku bicara terus terang saja. Aku ke sini karena ingin kau menerima tantangan persahabatan dari Buaya Emas."