Bab Lima Puluh Dua: Aku Ini Warga Negara yang Taat Hukum!
“Apa?” Mendengar laporan dari pelayan, Bibidong terpaku sejenak. Li Mubai pun demikian, bahkan Si Kecil dan Kepala Li juga terdiam di tempat.
“Kamu yakin di rumahnya sama sekali tidak ada emas, perak, atau permata?” Bibidong mengangkat alis, sekali lagi menanyai pelayan itu. Jelas ia pun tidak percaya kepala kantor itu bisa begitu bersih. Sampai di jabatan seperti itu, mana mungkin masih tetap bersih? Toh, bahkan bawahannya saja bisa menilap begitu banyak uang, apalagi si gendut yang memimpin, pasti jumlah yang dikorupsinya jauh lebih besar!
Maka, ketika pelayan melaporkan hasilnya, Bibidong sama sekali tidak percaya. “Lapor Yang Mulia Paus, hamba memang tidak menemukan uang dalam jumlah besar atau barang berharga di kamarnya. Di rumahnya pun tidak ada ruang bawah tanah atau kamar rahasia. Selain perabotan yang memang terlihat mewah, tidak ada hal lain yang mencurigakan,” ucap pelayan itu dengan hormat, memaparkan temuannya secara rinci.
Bibidong menatap Kepala Li yang masih terpaku, hatinya mulai ragu, mungkinkah aku sudah salah menilainya? Dari yang awalnya ketakutan hingga kini melamun di tempat, Kepala Li akhirnya tersadar juga. Wajahnya penuh tanda tanya. Ia tahu benar kondisinya sendiri. Selama bertahun-tahun di kantor penjaga kota, entah sudah berapa banyak barang bagus yang ia bawa pulang. Seharusnya, rumahnya sudah penuh dengan barang-barang itu.
Tapi mengapa pelayan itu bilang tidak ada yang aneh? Jangan-jangan, istrinya memang cerdik, sehingga semua harta itu sudah diamankan lebih dulu? Pasti begitu. Kalau tidak, mana mungkin semua barang itu lenyap begitu saja. Sungguh istri yang hebat! Memikirkan itu, Kepala Li tak kuasa menahan senyum. Ia bangga punya istri seperti itu. Kalau bukan karena istrinya, hari ini ia pasti tamat, harus mengakui dosa seperti Si Kecil tadi.
Terdorong rasa syukur, Kepala Li menurunkan pandangannya ke arah Si Kecil yang masih berlutut. Melihat bawahan itu terpaku di lantai, Kepala Li pun tak bisa menahan tawa dalam hati. Anak ini tadi ingin melihat aku jatuh, sekarang dia sendiri yang kena batunya. Sekarang, aku sudah terbukti bersih dan menjadi pejabat teladan!
Si Kecil pun akhirnya sadar, menengadah memandang Kepala Li. Tatapan mereka bertemu. Melihat sorot penuh kemenangan di wajah Kepala Li, Si Kecil pun jadi makin murka.
Tadi, saat mendengar pelayan berkata rumah si gendut tidak ada yang aneh, ia benar-benar terpukul. Ia sudah cukup lama bekerja di kantor penjaga kota, dan selama itu, ia tahu cukup banyak tentang si gendut ini. Dari yang ia lihat sendiri, Kepala Li berkali-kali membawa barang ke rumah. Tak jarang, ia melihat orang-orang mengantarkan barang mewah ke kantor, menyerahkannya pada si gendut. Nilai barang-barang itu berkali-lipat dibanding apa yang pernah ia terima. Itu saja yang ia tahu langsung, bisa jadi masih banyak lagi yang lebih mahal.
Mana mungkin pejabat seperti ini bisa jadi pejabat baik? Jelas-jelas serigala berbulu domba! Kalau aku harus menderita, kau pun jangan harap hidup tenang… Dengan pikiran itu, Si Kecil pun langsung memprotes, “Yang Mulia, si gendut itu tidak mungkin pejabat bersih. Dari apa yang aku lihat sendiri, ia menerima suap setidaknya lima kali! Dan barang yang ia terima pun bukan barang sembarangan, semuanya bernilai tinggi. Kalau di rumahnya tidak ditemukan barang, pasti karena ia sudah memindahkannya lebih dulu! Kekayaan yang ia kumpulkan bertahun-tahun pasti jauh lebih besar dari milikku di ruang bawah tanah! Mohon Yang Mulia menyelidiki lebih lanjut, paksa dia mengaku dan mengembalikan semua yang telah ia makan!”
Si Kecil tampak sangat emosional. Matanya menatap Kepala Li tanpa goyah sedikit pun. Ia memang sudah lama tak suka pada Kepala Li. Tapi karena perbedaan pangkat, ia selalu menahan diri. Sekarang, setelah yakin hidupnya tamat, apa lagi yang harus ia pedulikan? Bahkan ia tak segan memangilnya dengan sebutan ‘si gendut’.
Mendengar itu, Kepala Li sama sekali tidak terpengaruh. Toh, Si Kecil tidak punya bukti nyata. Tanpa bukti, ia tidak khawatir. Satu-satunya yang ia perhatikan hanyalah Bibidong. Ketika ia melihat raut berpikir di wajah Bibidong, ia mulai panik. Walaupun pelayan Bibidong tidak menemukan apa-apa di rumahnya, ia tetap takut Bibidong percaya pada Si Kecil dan benar-benar memerintahkannya untuk disiksa.
Berdasarkan pengalamannya, Bibidong memang bisa saja melakukan hal seperti itu. Siksaan di Katedral Roh bukan main-main, bisa berujung kematian. Walaupun ia seorang spirit master tingkat empat puluh, belum tentu tahan menghadapi siksaan itu.
“Kau ini, bicara pun harus ada buktinya!” seru Kepala Li. “Apa-apa harus ada dasarnya! Kalau seperti itu, besok-besok semua orang bisa saling memfitnah. Bukankah Yang Mulia Paus tadi sudah mengirim orang ke rumahku? Perlu aku ulang hasilnya kepadamu?”
Ia buru-buru membela diri, karena ia melihat Bibidong mulai mempertimbangkan ucapan Si Kecil. Kalau ia diam saja, bisa-bisa Bibidong benar-benar mengambil tindakan. Maka ia pun langsung bicara untuk menyelamatkan diri. Meski tampak membantah Si Kecil, ia sebenarnya sedang berusaha meyakinkan Bibidong.
Benar saja, setelah mendengar itu, Bibidong pun berkata, “Kalau begitu, urusan hari ini cukup sampai di sini. Kepala Li, malam ini kau harus bermalam di kantor penjaga kota.”
“Baik, sudah seharusnya demikian,” Kepala Li buru-buru menjawab. Ia tahu, maksud Bibidong adalah agar tidak ada yang curiga. Malam ini, tidak hanya dua orang, besok pasti semua pegawai akan diperiksa. Ia dikunci di kantor agar info tidak bocor.
“Tetua Li, bagaimana? Aku sudah datang sendiri, kau masih belum mau keluar dari sel?” Bibidong melirik ke arah Li Mubai yang masih di dalam penjara.
Di dalam sel, Li Mubai sedang asyik menonton ‘drama’ yang terjadi, tiba-tiba ia dipanggil oleh Bibidong.
“Yang Mulia, bukannya aku tidak mau keluar, tapi aku memang ditahan di sini, tahu! Bukan aku yang tidak mau pergi, tapi mereka yang tidak membiarkanku keluar,” keluh Li Mubai.
“Mereka tidak membiarkanmu keluar? Kau pikir mereka bisa menahan seorang Douluo sepertimu?” Bibidong menatap curiga.
“Kau tahu apa, aku ini warga negara yang taat hukum!” Li Mubai mendongak bangga, langsung menjawab tanpa ragu.