038: Jika Tidak Suka, Harus Berani Melawan
Kehadiran Sun Demao memecah keheningan canggung yang dirasakan Zhou Kun, membuatnya langsung bangkit dari kursi dan berlari menghampiri. Sun Demao, yang tengah larut dalam pikirannya, terkejut melihat Zhou Kun muncul tiba-tiba di hadapannya, hingga hampir saja termos tuanya terlempar dari tangan.
“Pak Sun!” sapa Zhou Kun dengan senyum mengembang.
Sun Demao mendorong kacamatanya ke atas batang hidung. “Zhou Kun.”
“Ya, benar, ini saya.”
“Hahaha, kenapa tiba-tiba kamu terpikir datang ke sekolah?” tanya Sun Demao sambil berseloroh.
Zhou Kun menggaruk kepala, menjawab, “Saya kangen Bapak, sekalian karena beberapa hari ini ada di kampung, jadi mampir sebentar.”
Sun Demao menyeringai. “Kamu ini sebenarnya ingin menengok saya atau pamer? Kudengar sekarang kamu sudah jadi penulis terkenal, hebat sekali, ya. Novel-novelmu sudah saya baca semua.”
“Serius, Pak? Tak disangka Bapak adalah penggemar saya,” jawab Zhou Kun sambil tersenyum nakal.
“Jangan GR. Saya cuma ingin tahu hasil didikan sendiri, apakah memalukan atau tidak saja,” Sun Demao menjelaskan setengah bercanda.
Zhou Kun ikut tertawa bersamanya.
“Pak Sun, saya tidak memalukan Bapak, kan?”
“Lumayanlah, hanya saja di beberapa bagian pilihan katanya kurang tepat, dan ada beberapa penggunaan tanda baca yang tidak pas. Saya tahu kalian penulis sekarang harus produktif, tiap hari ada target yang harus diselesaikan. Tapi saya tetap berharap kamu bisa menulis lebih sempurna lagi.”
“Bagaimanapun juga, sebagai penulis, kamu punya tanggung jawab menyampaikan nilai dan pandangan yang benar kepada dunia. Saya sudah baca cerita cinta yang baru-baru ini kamu tulis, terus terang saya tidak sanggup mengikuti.”
Zhou Kun mendengarkan masukan gurunya, yang terasa sangat tajam, lalu buru-buru memindahkan kursinya ke hadapan Sun Demao, memasang sikap rendah hati.
“Pak Sun, silakan lanjutkan.”
“Tak ada lagi yang perlu saya sampaikan. Saya hanya berbicara dari sudut pandang pribadi.”
“Tidak, Pak. Masukan Bapak sangat tepat. Sejak mulai menulis buku ini, saya terus-menerus bertanya dalam hati, ‘Apa benar saya cocok menulis kisah cinta?’ Saya pun tidak tahu, hanya ingin menantang kelemahan saya sendiri.”
“Lalu hasilnya?”
“Ternyata memang kelemahan saya, Pak. Setiap hari saya mencari bahan, mencari kisah cinta, tapi tak ada satu pun yang cocok dijadikan alur utama. Sebenarnya, karena saya memang belum pernah pacaran,” Zhou Kun menambahkan sambil bercanda.
Sun Demao menunjuknya. “Kamu ini…”
“Pak Sun, Bapak dari tadi tidak melihat saya, ya?” Suara Li Shihan yang manja terdengar mendekat, bibirnya merengut penuh protes.
Baru saat itu Sun Demao menyadari kehadirannya. Tadi karena Li Shihan membelakangi pintu dan Zhou Kun yang tiba-tiba datang, ia tidak memperhatikan dengan seksama.
“Shihan? Kamu juga datang?”
Li Shihan mengangguk.
“Kalian berdua…” Sun Demao menyipitkan mata, “Jangan-jangan kalian pacaran, ya?” tanyanya pelan pada Zhou Kun.
“Tidak, tidak, kami baru saja bertemu beberapa hari lalu, jadi sekalian mampir,” jawab Li Shihan cepat-cepat.
Zhou Kun mengangguk pelan, seolah membenarkan penjelasannya.
Mereka bertiga berbincang di ruang guru sekitar satu jam, hingga sepasang pria dan wanita mengetuk pintu.
Sun Demao memberi isyarat agar Zhou Kun dan Li Shihan duduk sejenak, kemudian berdiri membuka pintu.
“Selamat siang, Pak Sun, saya ibu dari Han Li.”
“Selamat siang, Pak Sun, saya ayah dari Gao Jie.”
Keduanya memperkenalkan diri. Sun Demao mengundang mereka masuk, sementara Zhou Kun dan Li Shihan dengan pengertian menyerahkan kursi mereka. Diam-diam mereka berdiri di sisi ruangan.
“Kau percaya tidak, dua orang itu pasti ketahuan pacaran,” bisik Zhou Kun pelan di telinga Li Shihan.
Li Shihan mendengus singkat. “Bisa jadi.”
“Kamu tidak merasa situasi ini mirip dengan kita dulu?”
“Mirip? Tidak merasa begitu. Kita dulu kan tidak pacaran, hanya dikira pacaran saja,” jawab Li Shihan dingin.
Zhou Kun hanya bisa menghela napas. Berhadapan dengan Li Shihan, ia serasa petani yang bertemu tentara—punya tenaga tapi tak bisa dipakai.
Tebakan Zhou Kun terbukti benar. Biasanya, jika orang tua laki-laki dan perempuan dipanggil bersamaan ke sekolah, sembilan dari sepuluh kasus pasti urusan cinta monyet.
“Izin masuk!” suara seorang laki-laki dan perempuan terdengar dari luar.
“Masuklah.”
Anak laki-laki masuk lebih dulu, diikuti anak perempuan yang bersembunyi di belakangnya.
Plak!
Baru saja masuk, anak laki-laki itu langsung kena tamparan keras dari ayahnya.
Suara tamparan yang nyaring, terdengar sangat menyakitkan.
Anak laki-laki itu memegang pipinya, memandang ayahnya dengan tatapan penuh amarah, tanpa takut, hanya benci.
Sementara itu, ibu si gadis lebih lembut. Ia menarik putrinya ke dekat Zhou Kun dan Li Shihan, lalu bertanya pelan, “Lili, kamu benar pacaran?”
Han Li menunduk, rambut panjang menutupi wajahnya.
“Jawab, kamu benar pacaran?” Ibunya tampak marah, namun berusaha menahan emosi.
Han Li mengangguk pelan.
“Ih, kamu ini. Bagaimana bisa melakukan hal seperti ini? Semua keinginanmu selama sekolah kami usahakan penuhi, bukan karena kami kaya, melainkan supaya kamu tidak mengulang nasib kami. Kenapa di saat genting seperti ini malah pacaran? Tahu tidak kalau gagal ujian akibatnya apa?” Ibunya mencoba berbicara selembut mungkin.
Li Shihan yang berdiri di sampingnya menatap penuh iri. Andai ibunya sendiri punya setengah saja kelembutan ibu Han Li, pasti hidupnya tak seperti sekarang.
“Bu…”
“Belajarlah yang benar, Nak. Nanti kalau kau sudah kuliah, sudah lulus, mau pacaran terserah, kami tidak akan ikut campur. Tapi tahun terakhir ini, jangan pacaran dulu, ya?” Suara ibunya hampir seperti memohon.
Berbeda dengan itu, di sisi anak laki-laki suasananya penuh ancaman. Ayahnya menarik kerah bajunya dan menggeram pelan, “Kamu sudah bikin malu keluarga! Bapak keluarin banyak uang buat kamu sekolah, ujung-ujungnya malah pacaran, ya?”
“Kalau kamu memang nggak niat belajar, pergi saja dari sini, jangan merusak hidup orang lain, tahu?!”
“Bikin Bapak emosi saja!”
Setiap ucapannya diselipi makian. Nasihat dari Sun Demao pun tidak mempan. Zhou Kun, yang sedari tadi berdiri tak jauh, melangkah mendekat.
Melihat itu, Li Shihan buru-buru menarik lengannya. “Jangan ikut campur,” bisiknya dengan gerakan bibir.
Namun, amarah Zhou Kun sudah terlanjur meletup, tak ada yang bisa menahannya.
Ia menyingkirkan tangan Li Shihan dan langsung berdiri di hadapan ayah si anak laki-laki. Dua pasang mata saling bertatapan, mengukur satu sama lain. Dari cara berpakaiannya, jelas pria itu orang berkecukupan.
“Anda siapa?” tanya ayah anak laki-laki itu pada Zhou Kun.
“Siapa saya tidak penting. Ada satu hal yang ingin saya tanyakan.”
“Silakan.”
“Anda suka tidak, kalau ada orang bicara pada Anda, tiap kalimatnya penuh makian dan kata kasar?” Zhou Kun langsung ke pokok persoalan.
Ayah anak laki-laki itu membelalakkan mata. Sun Demao dan Li Shihan pun buru-buru mendekat.