025: Sebuah Pertempuran Besar
Setelah membersihkan diri secara sederhana, ia berjalan tanpa tujuan mengelilingi kamar dua kali. Terlintas di benaknya bahwa sudah lama ia tak mengunjungi kedai kopi, maka ia pun memanggul ransel dan keluar dari kamar.
“Lama tak jumpa,” sapa seorang pegawai kedai kopi sambil tersenyum saat melihatnya.
Zhou Kun meringis, “Akhir-akhir ini banyak urusan,” jawabnya setengah bercanda.
“Haha, masih seperti dulu?”
“Iya,”
Sembari menunggu kopi, ia menoleh mengitari ruangan, tanpa sengaja perhatiannya tertarik pada seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun yang duduk di sudut. Perempuan itu mengenakan pakaian yang tampak seperti barang murah dari pasar, rambutnya diikat asal-asalan dengan karet, wajahnya polos tanpa bedak ataupun concealer, beberapa bintik hitam jelas terlihat.
“Hei, kopimu sudah jadi.”
Zhou Kun berbalik, tersenyum sambil menerima kopi itu. Biasanya, ia akan mencari tempat duduk di luar, tapi hari ini berbeda. Ia membawa kopinya dan duduk di tempat yang paling dekat dengan perempuan itu.
Agar tak menimbulkan rasa tak nyaman, ia hanya sesekali melirik. Kenapa orang dengan penampilan seperti itu bisa berada di kedai kopi? Pertanyaan itu berulang-ulang bergema dalam benaknya.
Dering telepon terdengar dari meja perempuan itu. Zhou Kun pura-pura santai menoleh ke arahnya sambil mengangkat cangkir kopi.
Perempuan itu mengambil ponsel, melirik sebentar, lalu memutuskan panggilan dan meletakkannya kembali.
Telepon berdering lagi, dan lagi-lagi ia menolak panggilan itu.
Pemandangan itu terasa sangat akrab bagi Zhou Kun. Telepon terus berbunyi dan terus pula diputuskan, berulang hingga belasan kali. Akhirnya, perempuan itu tak tahan dan mengangkat telepon.
“Kamu sudah cukup belum?” gumamnya dengan suara rendah dan marah.
“Ngomong hal itu sama aku sekarang apa gunanya? Kita berdua hanya punya satu kemungkinan.”
“Sudahlah, jangan banyak alasan. Dulu aku benar-benar buta sampai menikah dengan bajingan sepertimu... Demi kamu aku berhenti kerja, siang jadi pembantu di rumah, malam jadi pelayan. Saat kamu bersenang-senang di luar, pernahkah kamu memikirkan aku?”
“Aku tidak ingin membahas ini sekarang. Cerai, titik, tidak ada diskusi.”
“Jangan ganggu aku lagi.”
Dengan teriakan, perempuan itu mematikan ponsel. Ia menunduk, kedua tangan mencengkeram rambut, menangis tersedu-sedu.
Pengunjung kedai kopi tak banyak, tapi saat itu semua mata tertuju padanya, termasuk Zhou Kun.
Ada yang bilang, setelah menikah perempuan rela meninggalkan hutan lebat hanya untuk satu pohon, sementara laki-laki sudah memilih satu pohon tapi tetap ingin memiliki seluruh hutan. Menurut Zhou Kun, tak ada yang bisa digeneralisasi. Baik laki-laki maupun perempuan, selalu ada segelintir yang benar-benar di luar nalar.
Zhou Kun diam-diam memutuskan untuk menulis kisah semacam ini dalam novelnya. Di zaman sekarang, sudah bukan masanya perempuan hidup bergantung pada suami, ekonomi dan pemikiran mandiri adalah hukum dasar hidup, baik menikah ataupun belum, harus tetap dipertahankan.
Saat ia tengah memikirkan bagaimana akan menulis kisah ini, seorang perempuan lain masuk ke kedai dengan tergesa-gesa.
Ia langsung duduk di hadapan perempuan yang menangis, “Kamu tak apa-apa?” tanyanya penuh perhatian.
“Bajingan itu... Aku ingin membunuhnya,” jawab perempuan itu dengan gigi terkatup.
“Benar-benar tak menyangka dia bisa berbuat seperti itu... Aku... Aku lebih percaya suamiku sendiri yang berbuat seperti itu daripada Wang Yong melakukan hal semacam itu.” Ucapan perempuan itu membuat Zhou Kun penasaran.
Sepertinya Wang Yong yang dimaksud adalah suami perempuan tersebut. Mengapa ia merasa suaminya tak mungkin berbuat demikian? Apakah karena wajahnya yang terlihat polos?
“Jangan sebut namanya lagi. Perceraian sudah keputusan bulat. Kenapa dulu aku sebodoh itu, demi dia sampai rela berhenti kerja. Sekarang aku benar-benar sadar, begitu perempuan kehilangan penghasilan, harus minta uang setiap hari pada orang lain, saat itu pula hilang kendali atas hidupnya.”
“Setiap hari aku di rumah seperti pembantu, dari pagi sampai malam membersihkan rumah, mencuci, memasak, hanya ingin memberikan lingkungan yang baik, rumah yang hangat. Tapi... ternyata dia suka yang menantang, tidur dengan perempuan lain, haha, lucu, benar-benar lucu.”
Tawa sinisnya membuat bulu kuduk Zhou Kun merinding.
Sampai di sini Zhou Kun sudah bisa menebak duduk perkaranya. Kopi dalam genggamannya sudah habis, ia merapikan tas dan bersiap untuk pergi.
Tiba-tiba, terdengar suara keras dari pintu, seorang perempuan muda dengan dandanan mencolok masuk ke dalam. Ia berdiri di ambang pintu, memandang ke sekeliling.
Ketika Zhou Kun melewatinya, ia bisa merasakan aura permusuhan yang pekat.
Ini jelas bukan hendak minum kopi, tapi seperti hendak menuntut balas.
Saat perempuan muda itu melihat perempuan yang duduk tadi, ia pun melangkah mendekat.
Zhou Kun dapat menebak, ini pasti satu lagi yang datang membela teman baiknya.
Namun, percakapan selanjutnya membuat Zhou Kun mengurungkan niat untuk pergi.
“Kamu sakit jiwa ya?” perempuan muda itu langsung memaki.
“Perempuan penggoda, jaga mulutmu! Hati-hati kubuat mulutmu robek di sini!” balas perempuan yang lebih tua.
“Aku heran, kalian para istri tua ini kenapa menopause-nya maju? Suamimu sendiri tak bisa dijaga, masih berani menyalahkan orang lain!”
Seorang pelayan menepuk pundak Zhou Kun dan berbisik, “Biasanya aku cuma dengar istri sah menyerang selingkuhan, tapi ini pertama kali selingkuhan menyerang istri sah.”
Zhou Kun mengangkat bahu dan tetap menonton.
Tiga perempuan itu bertengkar sengit di sekeliling meja kopi. Pengunjung di dalam dan luar kedai kopi mendekat, tapi tak satu pun berniat melerai.
“Aku tak mau bertengkar dengan kalian. Hari ini aku ke sini cuma mau tanya satu hal, kapan kau ceraikan Wang Yong?” tanya perempuan muda itu pongah.
“Dengan tampang seperti kamu masih berani bermimpi naik derajat? Kebanyakan nonton sinetron, sana pulang!” balas perempuan yang lebih tua.
“Cih, lihat baju kamu, paling mahal dua puluh ribu perak. Lihat baju yang kupakai, semua Wang Yong yang belikan. Atasan ini saja tiga juta, pernah lihat? Wang Yong selalu bilang, kamu tiap hari cuma pakai celemek, bersih-bersih dan masak, bau minyak goreng, sampai dia mual kalau dekat kamu…”
Ucapan itu langsung membakar emosi istri sah.
Plak!
Secangkir kopi melayang menampar wajah perempuan muda itu, diikuti dengan pukulan telak.
Dua perempuan langsung mencengkeram rambutnya, menampar, memukul perut, segala jurus aneh dikeluarkan.
Dalam sekejap, kedai kopi berubah riuh dengan teriakan dan makian.
Orang-orang yang menonton segera mengeluarkan ponsel dan mulai merekam.
“Hei, kenapa kamu tidak melerai? Kalau dibiarkan, kedai kopi kalian bisa hancur,” Zhou Kun mengingatkan pelayan yang asyik menonton.
Barulah pelayan itu tersadar, buru-buru mengeluarkan ponsel dan menelepon 110, lalu keluar dari balik meja kasir, “Jangan berantem! Berhenti! Aduh, jangan pukul aku juga!”