Aku, sang harimau tua, telah dijual oleh si rubah.
Terutama setelah menjadi hewan, He Xiaoxun hanya perlu meletakkan kepalanya di lengan empuknya sendiri dan langsung tertidur. Sungguh nyaman. Karpet mahal mana pun tidak bisa menandingi kulit harimau asli, bulu harimau asli, dan kelembutan bulu harimau sungguhan.
"Xuanyuan Jing, kenapa setiap hari kamu duduk di sini membaca dan menulis? Bukankah kamu perampok gunung? Kenapa tidak pergi merampok rumah orang?" He Xiaoxun merasa Xuanyuan Jing tidak menjalankan profesinya sebagai perampok dengan sungguh-sungguh.
"Apakah aku tampak seperti perampok gunung?" Wajah Xuanyuan Jing jelas-jelas penuh dengan tanda tanya besar.
"Cuma karena mereka memanggilku kepala perampok?"
He Xiaoxun berkata, "Itu juga yang membuatku heran. Kau sama sekali tidak terlihat menakutkan."
He Xiaoxun berbalik mencari posisi yang lebih nyaman, dari tengkurap menjadi telentang dengan keempat kaki terbuka.
He Xiaoxun juga paham, biasanya pria-pria kasar yang wajahnya penuh luka dan bertato hanya sok garang, sedangkan anjing yang benar-benar menggigit biasanya tidak banyak bicara.
Tapi untuk jadi raja perampok gunung, biasanya perlu tampang galak. Sementara Xuanyuan Jing, jika berdiri sambil melontarkan kalimat standar, "Pohon ini kutanam, jalan ini kubuka, kalau mau lewat sini, tinggalkan uang jalan," bisa-bisa tuan tanah di seberang malah balik bertanya, "Adik, umurmu berapa? Sudah menikah belum? Mau nggak masuk jadi menantu?" Seluruh harta dan kecantikan diserahkan dengan dua tangan.
Xuanyuan Jing menepuk perut He Xiaoxun, seperti sedang menggelitik.
"He Xiaoxun, kau salah paham. Aku ini orang baik-baik, tahu?"
He Xiaoxun hanya membalas dengan suara dengkuran, "Hrmm... hrmm..."
Xuanyuan Jing menarik telinganya, He Xiaoxun menatapnya setengah sadar, "Jangan ganggu, dong."
"Xiaoxun, malam ini ikut aku turun gunung, ya."
"Mau ke mana?"
Xuanyuan Jing berkata, "Bakar ketan isi."
Begitu mendengar soal makan, semangat He Xiaoxun langsung menyala.
"Enak nggak? Aku belum pernah makan itu, hehe."
Xuanyuan Jing duduk bersila di samping He Xiaoxun, telapak kakinya yang tanpa alas menempel pada punggung harimau milik He Xiaoxun, menikmati kelembutan bulu aslinya.
"Xiaoxun, kamu suka makan tahu busuk nggak?"
"Nggak suka, baunya aneh banget."
Waktu kecil, He Xiaoxun sering diajak ayahnya pulang ke rumah nenek. Orang tua di kampung suka makan bubur pakai tahu busuk. Tahu busuk itu baunya menyengat dan kehijauan, di atasnya kadang tumbuh jamur, bahkan kadang ada belatung yang merayap.
Xuanyuan Jing berkata, "Ketan isi yang sudah lama, mirip-mirip dengan tahu busuk yang berjamur itu."
He Xiaoxun langsung merasa mual.
"Bisa diganti yang lain nggak? Makan roti kukus sama acar saja deh, aku nggak nuntut banyak." Xuanyuan Jing hanya tersenyum tanpa berkata-kata.
Senyum itu jelas mengandung maksud tersembunyi.
Xuanyuan Jing, serigala berekor besar ini, ternyata tidak sepolos tampilan luarnya.
Menjelang senja, sebelum cahaya terakhir menghilang, He Xiaoxun menggeliat bangun, menggigit sehelai pakaian, masuk ke balik sekat, lalu keluar sebagai gadis muda yang anggun dan mempesona.
Pakainnya terbuat dari kain sutra terbaik, Xuanyuan Jing rela mengeluarkan banyak uang agar para pelayan membelinya dari kaki gunung, memenuhi satu lemari penuh.
Hari ini pakaian biru bersulam awan dan burung ibis merah itu terlihat sangat elegan dan mewah. Tubuh indah He Xiaoxun membuatnya tampak seperti putri bangsawan sejati.
Xuanyuan Jing memandangnya tanpa berkedip, lalu berkata tulus, "Memang lebih cantik jadi manusia."
"Jujur saja, aku juga lebih suka jadi manusia."
Xuanyuan Jing telah memakai pedangnya, "Ayo berangkat."
Mereka berdua berangkat lewat jalan setapak di belakang gunung. Jalanan sunyi, tak tampak seorang pun, hanya suara serangga di semak-semak yang terdengar.
Tak seperti kota yang dipenuhi lampu jalan, di gunung hanya ada cahaya bulan. Kadang-kadang awan menutupi bulan, membuat He Xiaoxun berjalan dengan sedikit waswas.
Xuanyuan Jing berjongkok di depan He Xiaoxun, "Adik Harimau, biar aku gendong."
"Aduh, nggak enak ah, aku berat, lho."
Sejak usia tujuh tahun, ayahnya pun sudah tak pernah lagi menggendongnya. Sebagai gadis aneh yang tak pernah berpacaran, He Xiaoxun juga enggan terlalu dekat dengan Xuanyuan Jing.
"Ayo, kamu jalannya lambat sekali." Tanpa banyak bicara, Xuanyuan Jing menarik He Xiaoxun, dan tiba-tiba tubuh He Xiaoxun terangkat ke udara. Ia melihat di bawahnya hamparan pegunungan, dan di telapak kaki bersentuhan dengan pedang milik Xuanyuan Jing.
"Xuanyuan Jing, kamu bisa terbang?"
"Hanya trik kecil." Xuanyuan Jing tampak begitu berwibawa dan tenang.
He Xiaoxun girang bukan main, tak menyangka ada pengalaman baru seperti ini.
Ia memegang erat lengan baju Xuanyuan Jing, takut jatuh dan jadi gepeng.
"Xuanyuan Jing, aku bisa belajar ini juga nggak?" Apa itu helikopter, balon udara, atau paralayang, semua kalah seru dibanding terbang dengan pedang. Xuanyuan Jing hanya perlu menggerakkan jari, pedangnya langsung mengarah sesuai keinginan.
"Bisa. Kalau kamu sudah belajar Kitab Ilmu Binatang Roh sampai tingkat menengah, kamu juga bisa terbang."
Keren sekali, He Xiaoxun tiba-tiba merasa sedikit kagum pada Xuanyuan Jing.
Xuanyuan Jing memeluk pinggang He Xiaoxun dengan tangan kirinya, "Hati-hati." Belum sempat He Xiaoxun protes, mereka sudah melesat menembus awan.
Pandangan He Xiaoxun tertutup, tapi ia bisa merasakan pelukan Xuanyuan Jing begitu erat, membuatnya merasa aman. Di dalam awan, kilat dan guntur bersahut-sahutan, He Xiaoxun menggigil, lalu menyembunyikan kepala di dada Xuanyuan Jing.
"Jangan takut, ada aku di sini." He Xiaoxun pun semakin erat menggenggam lengan baju Xuanyuan Jing.
Keluar dari balik awan, He Xiaoxun mulai terbiasa melihat pemandangan di bawah kakinya.
Rasanya cukup menegangkan, apalagi tadi sempat begitu dekat dengan Xuanyuan Jing, mencium aroma rumput segar dari pakaiannya.
Entah sejak kapan, He Xiaoxun yang tadinya cemas, kini malah bergandengan tangan dengan Xuanyuan Jing.
Dengan pedang sebagai tunggangan, mereka terbang menembus angkasa, dan ketika mendarat, sudah sampai di sebuah desa.
Begitu menyentuh tanah, Xuanyuan Jing melepas tangan He Xiaoxun. Hatinya mendadak terasa kosong.
"Xuanyuan Jing, ini di mana?"
"Desa Xu." Dalam sinar bulan, He Xiaoxun melihat rumah-rumah desa itu tertata rapi, namun semuanya gelap gulita, tak satu pun yang menyalakan lampu.
"Xuanyuan Jing, kamu yakin di sini ada makanan malam?"
Lebih dari itu, He Xiaoxun penasaran, Xuanyuan Jing terbang menembus awan sejauh itu, masak hanya demi makan ketan isi?
Naluri He Xiaoxun berkata, pasti ada hal lain. Tempat ini terasa aneh.
Di ladang desa, bahkan suara anjing pun tidak terdengar. Suasananya begitu sunyi, tidak wajar.
"Xuanyuan Jing, jangan-jangan kamu mau menjual aku?"
"Tentu saja tidak. Harimau hidup jauh lebih mahal daripada harimau yang cuma ditimbang kiloannya."
He Xiaoxun menoleh, ternyata Xuanyuan Jing sudah menghilang.
"Xuanyuan Jing!" panggil He Xiaoxun.
"Di sini," terdengar suara dari atas pohon besar, sosok putih tinggi tegap itu tak lain adalah Xuanyuan Jing.
"Kamu ngapain di atas pohon?"
"Xiaoxun, pekerjaan ini aku serahkan padamu." Xuanyuan Jing rebahan santai di dahan, melambaikan tangan pada He Xiaoxun. "Semangat ya! Xiaoxun, aku percaya kamu pasti bisa."
Pekerjaan? "Bukannya kita ke sini buat makan malam?"
Xuanyuan Jing mengacungkan satu jari, menggeleng pelan, "Makan malam sepertinya nggak keburu. Xiaoxun, nanti kalau kamu sudah menghabisi semua ketan isi, besok pagi aku belikan babi panggang yang renyah buatmu."