Bab Lima: Mengapa?
“Haah... haah...”
Yan Jin terengah-engah, berlari sekuat tenaga seperti anak bayi yang baru belajar berjalan. Sesekali ia menoleh ke belakang, samar-samar melihat dua bayangan hitam melaju cepat mendekat. Pemandangan itu membuat jantungnya bergetar hebat—
Habis sudah!
Ia takkan bisa lolos!
Jalan setapak di hutan lebat ini begitu terpencil, kecil kemungkinan ada orang yang datang menolongnya...
Nyaris mustahil!
Apa hari ini ia benar-benar akan mati di tempat ini?!
Pandangan Yan Jin mulai menghitam, tubuhnya memang lemah sejak kecil, bisa bertahan sejauh ini pun sudah sangat luar biasa.
Tak kuat lagi berlari...
Ia sungguh... sudah tak sanggup lagi!
Keputusasaan memenuhi hatinya, Yan Jin merasa sesak napas, matanya terasa perih dan hangat. Ia hanya ingin jatuh tersungkur dan menangis sekencang-kencangnya. Ia masih belum ingin mati!
Tiba-tiba, dari balik rumpun alang-alang setinggi orang dewasa, sebuah tangan muncul dan menyeret Yan Jin ke dalam!
Bersamaan dengan itu, sebuah tangan lain yang cekatan membekap mulut Yan Jin, mencegahnya berteriak karena panik.
“Mmm... mmm?!”
Secara refleks Yan Jin meronta, mengira siapa pun yang muncul di hutan ini pasti adalah pembunuh berpakaian hitam yang sedang mengejarnya!
“Tenanglah, aku datang untuk menyelamatkanmu.”
Suara seorang perempuan, tenang dan lembut, terdengar di telinganya, “Jangan melawan. Kalau kau membuat alang-alang ini berantakan, mereka akan tahu keberadaan kita.”
Nada suara itu membawa wibawa yang membuat siapa pun ingin memercayainya. Entah mengapa, Yan Jin merasa bisa mempercayai perempuan ini. Meski hatinya masih dipenuhi rasa takut, ia berusaha menahan diri dan berhenti meronta, lalu bersama-sama perempuan itu berjongkok dan bersembunyi di balik alang-alang.
Perempuan itu kemudian menggunakan tangan satunya untuk merapikan alang-alang yang sempat tergeser, lalu berbisik pelan pada Yan Jin, “Jangan bicara dulu. Ikuti aku, kita perlahan-lahan menjauh.”
Yan Jin langsung mengangguk.
Melihat Yan Jin sudah tenang, perempuan itu pun melepaskan tangan yang membekap mulutnya.
Begitu bebas, Yan Jin menoleh, berusaha melihat siapa penyelamatnya, namun hanya bisa melihat punggung seseorang yang berjalan perlahan, membungkuk tanpa menimbulkan suara di antara alang-alang.
Di samping perempuan itu, ada satu orang lagi. Dari siluetnya juga tampak perempuan, cara berpakaiannya memang bukan seperti nona dari keluarga terhormat, tapi juga tidak seperti rakyat biasa, kemungkinan besar pelayan dari keluarga kaya.
Sambil berpikir, Yan Jin meniru mereka, berjalan membungkuk.
Ketiganya baru berjalan sekitar dua puluh meter, tiba-tiba dari sisi lain rumpun alang-alang terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa.
Tubuh Yan Jin langsung menegang, dia tidak berani bergerak sedikit pun.
Itu pasti dua pembunuh berbaju hitam itu! Mereka sudah sampai di sini!
Apa mereka akan membunuhnya juga, seperti membunuh kusir dan pelayannya?!
Yan Jin menggigil, ujung jarinya terasa dingin.
Saat itu juga, telapak tangan hangat dan lembut menutupi punggung tangannya.
Yan Jin tertegun, mendongak dan menatap sepasang mata dalam yang teduh. Tatapan tenang itu membawa ketenangan, menenangkan hati Yan Jin yang gelisah.
Perempuan di depan mengangkat satu jari ke bibir, memberi isyarat tanpa suara: “Ayo.”
Setelah itu, ia menarik tangan Yan Jin, melangkah tanpa suara.
Mungkin karena ada yang menggenggam tangannya, Yan Jin merasa sedikit lebih tenang. Ia akhirnya bisa menggerakkan kaki yang semula kaku dan mengikuti perempuan asing itu masuk lebih dalam ke rumpun alang-alang.
“Orangnya ke mana?!”
Saat itu, dari sisi lain alang-alang terdengar suara laki-laki serak penuh ancaman, “Mana mungkin seorang gadis kecil bisa menghilang secepat itu?!”
“Mungkin dia bersembunyi.” Suara laki-laki lain, tajam dan melengking, terdengar seperti logam yang digoreskan di kaca, bikin bulu kuduk merinding. “Tak banyak tempat bersembunyi di sekitar sini. Kau cari ke sana, aku ke sini! Jangan biarkan anak itu lolos!”
“Sialan... Jangan memerintah aku!”
Suara serak itu terdengar kesal, “Aku ke sini, kau ke sana!”
Hubungan mereka tampaknya tidak akur.
“Terserah kau.” Suara tajam itu terdengar pahit, seperti menahan diri demi tugas, tidak ingin bertengkar.
Di kedalaman alang-alang, sekitar tiga puluh meter jauhnya, Yan Jin berjalan sambil mendengarkan percakapan mereka. Punggung bajunya sudah basah oleh keringat dingin. Kalau dua orang itu masuk ke alang-alang, apa yang harus mereka lakukan?
Dengan jarak sedekat ini, kalau mau melarikan diri pun, sudah tak mungkin!
“Tiara.”
Tiba-tiba, suara pelan terdengar di telinganya.
Yan Jin tertegun, melihat perempuan yang menggenggam tangannya memberi isyarat untuk tiarap.
Walau tak mengerti maksudnya, Yan Jin menurut.
“Zhiqiu.”
Perempuan itu berbisik pada rekannya, “Nanti, bantu aku pegang kakinya.”
Kakinya?
Yan Jin kaget, tanpa sadar bertanya pelan, “Untuk apa memegangi kakiku?”
Perempuan itu menoleh sebentar, menatap Yan Jin dan menggeleng pelan.
Yan Jin langsung paham, ternyata ia salah mengira.
Tapi, selain dia sendiri dan perempuan yang dipanggil Zhiqiu, siapa lagi yang akan dipegang kakinya?
Ia menoleh ke arah Zhiqiu, dan mendapati Zhiqiu pun tampak kebingungan, tak paham maksud perempuan itu.
“Syur... syur...”
Saat itu, dari sisi lain alang-alang terdengar suara langkah kaki.
Jantung Yan Jin mencelos. Pembunuh itu sudah dekat!
Perempuan itu pun menyadarinya, ia menggerakkan telinga, lalu menarik Zhiqiu mundur dua langkah ke samping, menjaga jarak sekitar satu meter.
Yan Jin berjarak dua meter dari mereka, samar-samar melihat perempuan itu memegang sesuatu di kedua tangannya. Sayang, hari mulai gelap dan cahaya di antara alang-alang pun remang, tak bisa dilihat jelas.
Saat itu, tak jauh dari situ, sosok tinggi besar muncul samar-samar, melangkah lebar ke arah mereka. Di tangannya tergenggam sebilah pedang panjang, sesekali menebas alang-alang yang menghalangi.
Pembunuh berpakaian hitam itu kian mendekat... lima meter... tiga meter... dua meter...
Dengan jarak sedekat itu, jika cukup jeli, pasti bisa melihat perempuan itu!
Jantung Yan Jin nyaris meloncat keluar. Kalau sampai ketahuan...
Tiba-tiba, ketika jaraknya hanya tinggal satu meter, perempuan itu melompat dan menyerang!
Pembunuh itu hanya fokus menemukan Yan Jin, sama sekali tidak waspada—
Hanya seorang gadis lemah yang hidupnya tergantung pada obat, apa yang perlu ditakuti?
Tapi siapa sangka, dari balik alang-alang akan muncul orang keempat yang begitu lincah?!
Saat lawan sudah begitu dekat, baru pembunuh itu tersadar dan hendak menebas dengan pedangnya—
“Crack!”
Di telinganya terdengar suara telur pecah.
Tubuh pembunuh itu langsung kaku, kehilangan semua tenaga. Satu-satunya sensasi yang tersisa hanyalah nyeri luar biasa di selangkangan!
Pedangnya jatuh ke tanah, menimbulkan suara berat.
Mulutnya terbuka lebar, menghembus napas dingin.
Saat itu juga, secarik kain disumpalkan ke dalam mulutnya, menahan suara rintihannya. Lawannya memanfaatkan kelengahan itu, membanting tubuhnya, lalu dengan kekuatan penuh menusukkan peniti emas ke tenggorokannya, menggoreskan luka panjang yang membuat daging tergulung, darah menyembur deras!
Semuanya terjadi dalam sekejap!
Belum juga selesai merasakan sakit akibat telurnya remuk, tenggorokannya sudah dilanda rasa sakit yang membuatnya tak bisa bersuara!
Ia berusaha meronta, ingin menarik perhatian rekannya yang ada di kejauhan.
Namun entah siapa yang menahan kedua kakinya erat-erat, membuatnya tak bisa bergerak!
Dunia di matanya mulai menghitam, ia sulit bernapas, wajahnya yang merah berubah keunguan. Jika terus begini...
Ia akan mati!
Tidak! Harus ada yang menolongnya!
Dengan sisa tenaganya, ia menggoyangkan alang-alang di sampingnya sekuat tenaga—
Sial... Cepat tolong aku!
“Ada apa itu?”
Dari seberang alang-alang, puluhan meter jauhnya, rekannya menyadari ada yang tak beres. Suara tajam itu mendekat dengan cepat, “Ding Wei?”
Ding Wei, yang tergeletak di antara alang-alang, untuk pertama kalinya merasa suara rekannya begitu merdu. Matanya memancarkan harapan. Namun, saat itu juga—
“Sial! Jangan ke sini!”
Suara serak yang sangat dikenalnya terdengar di samping telinganya, penuh kekesalan, “Aku nginjak tai!”
Mata Ding Wei membelalak, menatap wajah asing yang hanya berjarak setengah meter darinya, tapi berbicara dengan suara yang sangat ia kenal, memaki, “Sial! Bau sekali!”
Sambil berkata begitu, perempuan itu juga menggoyang-goyangkan alang-alang, seolah-olah sedang melakukan sesuatu, misalnya...
Mengelap kotoran.
Dari luar, rekan pembunuh itu mendengar makian tersebut, langsung berhenti dan mundur cepat, “Aku cari ke tempat lain!”
Tanpa ragu sedikit pun, langsung pergi menjauh!
Keterkejutan di mata Ding Wei membeku, pelan-pelan berubah menjadi keputusasaan, hingga akhirnya kosong, kehilangan cahaya, dan sunyi tanpa suara.
Hingga detik terakhir hidupnya, Ding Wei tetap tak mengerti—
Bagaimana mungkin seorang gadis remaja bisa memiliki suara yang persis sama dengannya?!