Bab 5: Kisah Bersekolah di Era Lima Puluhan
Mendengar sang adik, si bungsu, hendak ikut bersekolah dengannya, Kakak Kedua Liao merasa kurang berkenan.
Liao Sanyong menepuk lengan putranya itu dengan keras, "Memangnya ini untuk siapa?! Kalau bukan karena nilaimu yang berantakan, Ayah pun tidak sudi mengeluarkan biaya sekolah tambahan agar si bungsu ikut bersamamu!"
Liao Aidang mengerucutkan bibirnya, "Tiba-tiba membawa adik perempuan untuk bersekolah di kelas tiga SMA, bagaimana nanti pandangan teman-teman sekelasku? Malu sekali aku..."
Liao Shan yang baru saja membawa semangkuk bubur berisi ubi ke ruang tengah tepat mendengar ucapan itu. Ia tersenyum dingin, "Heh, dulu saat kau mendapat nilai dua, kau tidak merasa malu."
Dengan ketus, ia meletakkan mangkuk itu di depan Liao Aidang tanpa terlalu kasar, namun juga tidak terlalu lembut.
Liao Aidang hendak memelototinya.
Namun, Liao Shan hanya menatapnya datar seraya berujar, "Dasar kacang lupa kulitnya. Sia-sia saja dua hari lalu aku mengajarimu soal-soal itu."
Liao Aidang terdiam, ia menggaruk hidungnya dengan canggung. Sudahlah, ia akan bersiap mental untuk ditertawakan.
Namun, selalu ada saja orang yang justru merasa keberatan dengan urusan keluarga orang lain.
Di ladang, saat waktu senggang, para wanita biasanya berkumpul untuk berbincang. Jika tidak membicarakan suami, mereka membicarakan anak-anak. Saat Chen Meifen menceritakan bahwa bulan depan Liao Shan akan bersekolah bersama kakak keduanya, para wanita itu terkejut dan mulai bergosip.
"Bukankah si bungsu baru saja lulus SMP? Kenapa tiba-tiba langsung ikut kakak keduanya masuk kelas tiga SMA?" tanya Ma Chunhua, istri dari sepupu jauh Liao Sanyong, dengan heran.
Zhao Yan, kakak ipar kedua Liao Sanyong, berpikir sejenak, "Apa namanya itu... lompat kelas! Benar, kan? Memangnya bisa si bungsu melakukannya? Jangan sampai ia tidak bisa mengikuti pelajaran dan malah membuang-buang uang sekolah setahun."
Chen Meifen tersenyum lembut, "Otak si bungsu encer, soal-soal yang tidak bisa dikerjakan kakak keduanya saja dia tahu." Memangnya siapa yang sedang mereka remehkan?
"Untuk apa anak perempuan disekolahkan setinggi itu?" Liao Guihua menyambar dengan nada sinis, "Di desa kita mana ada anak perempuan yang sekolah SMA? Tidak malu dilihat orang apa."
Amarah Chen Meifen tersulut. Ia membuka mulut hendak membantah, namun pola pikir yang telah ia jalani selama empat puluh tahun membuatnya tidak tahu harus membalas apa. Ia hanya bisa memasang wajah dingin yang penuh kemarahan.
Ma Chunhua baru menyadari bahwa ekspresi dingin Chen Meifen sangat mirip dengan putranya, Aidang. Dulu ia mengira anak itu mirip ayahnya. Ia buru-buru mencairkan suasana, "Kalau otaknya pintar, ya harus disekolahkan, kan? Meifen, kau memang beruntung. Sebentar lagi Aidang akan ikut ujian masuk universitas, anak-anak juga sudah besar. Tidak seperti kami, sudah susah payah membesarkan anak, sekarang harus mengasuh cucu lagi, seolah tak ada habisnya!"
Wajah Chen Meifen sedikit melunak, ia membalas ucapan Ma Chunhua, "Kakak, aku justru iri padamu. Lihatlah anak sulungku, sampai sekarang belum ada kejelasan..."
Liao Guihua mendengus dingin, lalu membawa cangkulnya pergi ke ladang, tampak berhenti mengoceh.
Namun, apakah ia benar-benar berhenti?
Orang ini memang tipe yang iri melihat orang lain hidup lebih baik.
Tak sampai dua hari, gosip mengenai Liao Shan yang akan terus bersekolah tersebar di seluruh desa. Bahkan para pria pun mulai menyindir Liao Sanyong dengan senyum mengejek, bertanya apakah otaknya sudah rusak sampai-sampai membiayai anak perempuan sekolah SMA.
Liao Sanyong yang merasa malu hingga wajahnya memerah pun pulang dengan marah dan melarang Liao Shan untuk bersekolah.
Liao Shan terkejut, namun ia segera menyadari penyebabnya; ia pun telah mendengar gosip di desa.
Ia tidak membela diri, melainkan menatap Liao Sanyong dengan sungguh-sungguh, "Ayah, untuk apa aku bersekolah?"
Liao Sanyong yang terpengaruh oleh ketenangan putrinya perlahan mendinginkan kepala.
"Apakah aku bersekolah untuk diriku sendiri?" lanjut Liao Shan, "Jika aku ingin sekolah, kenapa aku harus langsung masuk kelas tiga SMA? Kenapa tidak kelas satu atau dua saja?"
Ayah Liao mulai tenang, "Untuk kakakmu."
"Benar. Aku sekolah demi Kakak Kedua. Kalau puluhan tahun lalu, aku ini ibaratnya teman belajar. Tentu saja, sekarang sudah zaman baru, cukup kita saja yang tahu alasan ini," ucap Liao Shan dengan wajah meyakinkan, "Orang luar tidak tahu dan menganggap kita bahan tertawaan. Nanti saat Kakak Kedua lulus ujian universitas, kitalah yang akan melihat mereka sebagai bahan tertawaan."
Ayah Liao seolah baru saja tercerahkan, "Benar, benar sekali! Mereka itulah yang bahan tertawaan, bahkan tidak mampu menyekolahkan anak sendiri."
Sembari berkata demikian, ia menepuk punggung Liao Aidang yang baru saja masuk ke rumah, "Belajarlah yang benar, kerahkan seluruh tenagamu!"
Liao Aidang yang hampir terjungkal merasa bingung: Kenapa lagi-lagi ini jadi urusanku!
Ayah Liao yang sudah termakan kata-kata manis itu pun kini merasa seolah dirinya yang paling bijak saat mendengar sindiran warga desa. Begitulah, bulan September tiba, dan anak-anak yang harus bersekolah pun bersiap-siap berangkat.
Liao Shan tahu dari ingatan masa lalunya bahwa sekolah itu melelahkan, tapi ia tidak menyangka akan seberat ini.
Pertama, mereka harus berangkat sebelum fajar, berjalan kaki selama lebih dari satu jam, dan mendaki Gunung Empat Gadis untuk sampai ke sekolah. Sekolah itu pun hanyalah rumah penduduk yang sudah tidak terpakai, terdiri dari beberapa bangunan satu lantai. Ada satu guru untuk tingkat SD dan satu untuk tingkat SMP. Siswa kelas satu hingga empat duduk dalam satu ruangan, kelas lima dan enam di ruangan lain. Siswa SMP tiga tingkat duduk bersama, sementara kelas satu dan dua SMA di satu ruangan, dan kelas tiga SMA memiliki ruangannya sendiri.
Dinding kelas sudah terkelupas, atapnya dari jerami, bahkan ukurannya tidak lebih besar dari ruang tengah rumahnya.
Liao Shan berdiri di luar kelas dan mengintip ke dalam. Ia sudah melihat gambaran sekolah ini dari ingatannya, namun saat benar-benar berdiri di sini, rasanya seperti berpindah dari menonton film 3D ke dalam permainan meloloskan diri; ia benar-benar terguncang.
Saat Liao Shan masih tertegun, guru bagian SMP, Li Desheng, menyambut mereka dengan senyum ramah, "Liao Aidang, Liao Shan, selamat kembali belajar." Setiap semester baru, ia merasa lega dan senang melihat anak-anak yang bisa datang bersekolah, karena banyak sekali anak yang tiba-tiba berhenti.
Li Desheng adalah pria paruh baya yang berpenampilan rapi dan berwibawa, mengenakan baju panjang khas cendekiawan yang tampak kontras dengan suasana pegunungan, demi menjaga harga diri seorang terpelajar. Ia menyapa dengan hangat, "Liao Shan, siswa yang sekelas denganmu di kelas satu SMA sudah ada beberapa yang datang..."
Ia membawa mereka ke ruang kelas satu dan dua SMA.
Liao Shan tersadar, "Pak Guru Li, saya akan masuk kelas tiga SMA bersama kakak saya."
Li Desheng tertegun. Ia telah mengajar Liao Shan selama tiga tahun di SMP dan tahu anak ini sangat cerdas, selalu meraih peringkat pertama. Namun, di kelas tiga SMA hanya ada satu kelas, dan isinya pun hanya empat orang...
Melihat keraguan sang guru, Liao Shan segera mengeluarkan lembar jawaban kakaknya, "Pak Guru, lihat ini. Ini adalah lembar yang saya perbaiki untuk Kakak. Saya menguasai semua soal ini, saya yakin bisa mengikuti pelajaran kelas tiga SMA."
Li Desheng menerima lembar jawaban itu dan memeriksanya cukup lama, sebelum akhirnya menyetujui permintaan Liao Shan untuk melompat kelas, dan meminta Liao Aidang untuk membimbing adiknya.
Li Desheng masih merasa bingung; apakah di pelosok gunung ini begitu banyak anak jenius? Tahun lalu ia baru saja melepas satu, tahun ini ada lagi?
Liao Shan mengikuti kakaknya masuk ke kelas tiga SMA, melirik ke sekeliling, dan tak tahan untuk berbisik kagum, "Wah, Kak, teman sekelasmu banyak juga ya."
Di dalam kelas, termasuk Liao Aidang dan Liao Shan, ada tujuh orang. Itu lebih banyak daripada jumlah siswa kelas satu dan dua SMA di sebelah. Padahal ini kelas tiga SMA, jarang sekali ada keluarga petani yang sanggup menyekolahkan anaknya hingga tingkat ini.
Liao Aidang berjalan dengan santai ke kursi paling belakang, lalu terkekeh, "Separuhnya adalah orang-orang dari Desa Chen yang sedang bersemangat tinggi."
Sekolah ini menerima siswa dari empat desa sekitarnya, yakni Liao, Chen, Zhao, dan Li, yang semuanya merupakan desa dengan marga besar, meskipun jumlah siswa yang datang tidaklah banyak.
Liao Shan segera teringat sesuatu, "Anak janda Chen?"
"Ya," jawab Liao Aidang setelah duduk dan menarik kursi di sampingnya untuk sang adik, "Anak itu membuat kejutan besar. Beberapa orang yang tadinya putus sekolah pun tahun lalu kembali mendaftar. Orang-orang Desa Chen sedang menunggu agar ujian masuk universitas berikutnya bisa melahirkan lebih banyak mahasiswa."
Liao Aidang berkata terus terang, "Mana mungkin semudah itu."
Anak laki-laki di depan mereka menoleh, tidak marah mendengar ucapan itu, malah tertawa ceria, "Liao Aidang, jangan bicara sinis begitu. Aku tidak meminta seperti sepupuku yang masuk Universitas Qinghua, aku tidak pilih-pilih, universitas mana pun jadi."
"Jadi atau tidak itu urusan universitas, Si Gendut, pastikan dulu nilaimu cukup," Liao Aidang memutar bola matanya. Keduanya setara, mereka adalah peringkat terbawah di kelas.
"Siapa tahu bisa lulus," ucap anak itu dengan optimis, lalu menoleh ke arah Liao Shan, "Adik siapa ini? Wajahnya terlihat familier."
Liao Aidang mengambil buku catatannya dan memukul punggung temannya itu, "Sudahlah, jangan karena baru membaca beberapa bab 'Mimpi Paviliun Merah' lalu meniru gaya bicara Jia Baoyu! Ini adikku."
Liao Shan menahan tawa, "Halo, namaku Liao Shan."
"Aku Chen Lei, seumuran dengan kakakmu," sapa Chen Lei dengan akrab, "Adik berapa umurnya? Kelas berapa..."
Saat mendengar Liao Shan datang untuk masuk kelas tiga SMA, Chen Lei tampak terkejut, menatapnya seolah melihat keajaiban.
Liao Shan pun menatap Chen Lei dengan perasaan serupa. Bisa dipanggil "Si Gendut", Chen Lei memang memiliki tubuh yang cukup berisi. Tentu saja jika dibandingkan dengan masa depan, ia hanya terlihat sedikit subur, tidak terlalu gemuk. Namun, di zaman yang serba kekurangan ini, itu adalah pemandangan langka. Kebanyakan orang yang ditemui Liao Shan terlihat kurus kering dan kurang gizi, termasuk dirinya sendiri, yang tampak terlalu kecil untuk ukuran lima belas tahun, lebih mirip anak usia dua belas atau tiga belas tahun.
Setelah menyambut semua siswa dan mengumpulkan hasil bumi sebagai biaya sekolah, Li Desheng datang ke kelas. Karena ada murid baru, ia meminta para siswa untuk memperkenalkan diri.
Barulah Liao Shan mengerti apa yang dimaksud kakaknya. Sebelum ia datang, kelas itu hanya berisikan enam orang: tiga dari Desa Chen (Chen Lei si Gendut, Chen Ronghua yang lebih tua dua tahun dari yang lain, dan Chen Xingchang yang duduk di barisan depan), Zhao Weiming dari Desa Zhao, Li Guoqiang dari Desa Li, dan terakhir kakaknya.
Pada pelajaran pertama semester baru, Pak Guru Li membahas ujian masuk universitas yang baru saja diadakan pada bulan Agustus. Ini bisa dibilang ujian nasional resmi pertama yang mengalami banyak perubahan. Mata pelajarannya diubah menjadi delapan: Pengetahuan Politik, Bahasa Nasional, Sejarah dan Geografi Dunia, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan Bahasa Asing (Inggris atau Rusia).
Ruang kelas seketika riuh dengan keluhan.
Pelajaran lain mereka masih bisa memahami, tapi apa itu Bahasa Asing? Bahasa Nasional saja mereka belum lancar menulis semua aksaranya, sekarang harus belajar bahasa asing?
Li Desheng pun pusing. Meskipun bermarga Li, ia bukan penduduk asli Desa Li, melainkan pengungsi dari masa perang. Sebelum kemerdekaan, ia sempat tinggal di Shanghai yang memiliki suasana budaya kental. Di sanalah ia menyelesaikan pendidikan menengahnya, dan buku pelajaran yang ia pakai sekarang adalah buku lamanya. Namun, dulu ia pun tidak terlalu menguasai bahasa asing, hanya tahu alfabet dan beberapa kata sederhana. Bagaimana ia harus mengajar?
Pak Guru Li yang pusing pun akhirnya memulai pelajaran dengan Bahasa Nasional yang ia kuasai. Ia menuliskan sebuah puisi di papan tulis, membacakannya sekali bersama para siswa, lalu meminta mereka menyalin dan mempelajarinya sendiri. Setelah itu, ia pergi ke kelas sebelah untuk mengajar siswa kelas satu dan dua SMA.