Bab 87: Satu Penunggang Mengungguli Segalanya, Raja Penyelamatan
Belum sempat ia bereaksi, He Mu sudah berjalan mendekat bersama sekelompok orang.
“Ada tiga puluh dua orang, mereka tidak terluka parah, hanya keadaannya agak terguncang.”
“Tiga puluh dua orang... baik... baik...” jawab Zhao Lingling dengan terpana.
Sebenarnya, sejak posko ini dibuka hingga sekarang, ia sendiri belum pernah menerima serombongan penyintas sebanyak ini.
Efisiensi He Mu sungguh mengejutkan.
Sementara itu, dua mahasiswa baru dari Universitas Barat Daya yang berdiri di sampingnya, juga tertegun di tempat.
Mereka melihat jelas, peringkat teratas di papan skor tiba-tiba bertambah tiga puluh dua poin, sehingga totalnya menjadi lima puluh.
Padahal posisi kedua saja baru mengumpulkan tujuh belas poin!
“Jadi dia itu He Mu dari Universitas Vokasi Lingzhou yang ada di urutan pertama itu...”
“Gila! Orang ini benar-benar luar biasa!”
Keduanya saling memandang, meski tak mengucapkan apa pun, makna di wajah mereka sudah sangat jelas.
Setelah terdiam sejenak, salah satu dari mereka bertanya pada seorang penyintas paruh baya, “Pak, di mana Anda diselamatkan?”
Pria paruh baya itu tanpa pikir panjang menunjuk He Mu dengan rasa syukur, “Anak muda inilah yang menggali kami keluar dari ruang aman bawah tanah di pusat perbelanjaan!”
Dua mahasiswa baru itu pun tampak menyadari sesuatu, sorot mata mereka perlahan menjadi penuh semangat.
He Mu yang mendengar percakapan itu hanya tersenyum tenang.
Sebagai seseorang yang telah menjalani dua kehidupan, kematangan batinnya jauh melampaui para mahasiswa lain.
Ia tahu persis apa yang dipikirkan kedua mahasiswa itu.
Tak lain, mereka ingin meniru caranya.
Namun, ia sama sekali tidak marah.
Bagaimanapun, tujuan utama misi ini adalah penyelamatan, soal poin hanyalah urusan sekunder.
Jika orang lain bisa meniru metodenya dan dengan cepat menyelamatkan banyak penyintas, ia justru akan sangat senang melihatnya.
Sebab para penyintas yang malang ini adalah nyawa-nyawa yang nyata, bukan sekadar angka di papan skor. Menyelamatkan mereka secepat mungkin jauh lebih penting dari apapun.
Tentu saja, ia tetap mengincar posisi pertama. Itu hanya berarti ia harus mengorbankan waktu istirahat dan berpikir lebih keras.
...
Mahasiswa yang bisa masuk Universitas Barat Daya jelas bukan orang bodoh. Setelah mendengar penjelasan penyintas itu, mereka segera menyadari sesuatu, lalu secara bersamaan melirik He Mu dan meninggalkan posko.
Begitu keluar dari posko, mereka segera membuka grup Universitas Barat Daya.
Saat ini, sudah banyak orang di grup yang membahas soal siapa yang tiba-tiba melonjak tiga puluh dua poin itu.
“Ada apa dengan He Mu dari Universitas Vokasi Lingzhou? Awalnya ia memang di urutan pertama, mungkin kebetulan, tapi sekarang langsung tambah tiga puluh dua poin, ini agak aneh.”
“Iya, ada yang pernah dengar tentang orang ini? Dari mana asalnya?”
“Belum pernah dengar, begitu juga dengan Er Leng, saya juga tak kenal.”
...
Membaca pesan-pesan itu, salah satu mahasiswa segera membalas, “Kami baru saja bertemu He Mu di posko dua puluh enam, dia menyelamatkan tiga puluh dua orang dari pusat perbelanjaan, langsung diangkut pakai truk ke posko! Aku dan Li Long sampai ternganga dibuatnya!”
Li Long di sampingnya juga menimpali, “Benar, dia memang punya keahlian dalam penyelamatan. Menurutku kita bisa meniru metodenya, mulai dari pusat perbelanjaan besar dan gedung-gedung besar, sedangkan apartemen biar universitas lain saja.”
Begitu dua orang ini bicara, grup pun sempat hening sejenak.
Tak lama, ketua angkatan baru, Xu Shanhe, ikut angkat bicara.
“Ada yang bisa nyetir, ikut aku.”
...
Grup kembali hening, tak lama kemudian ada yang membalas, “Aku nggak bisa nyetir.”
“...Aku juga nggak.”
...
Semua mahasiswa baru Universitas Barat Daya cuma bisa melongo.
Barulah saat ini mereka sadar, di grup yang begitu besar tidak ada satu pun yang bisa mengemudi.
“Aku coba cari mobil dulu, toh jalanan sepi, nggak bakal celaka.”
“Anak-anak dari Lingzhou Vokasi pasti ada yang bisa, beberapa penyintas juga mungkin bisa.”
“Penyintas terlalu lemah, kalau ketemu monster bisa celaka, kita nggak sanggup tanggung jawabnya.”
...
Setengah jam kemudian.
Saat He Mu keluar dari posko, ia melihat dua mahasiswa baru Universitas Barat Daya yang tadi sedang sibuk di depan mobil kecil, tampak mencoba-coba sesuatu.
Melihat dirinya keluar, mereka buru-buru bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Melihat itu, He Mu hanya bisa tersenyum geli.
Sambil menggeleng, ia mengeluarkan ponsel dan menulis di grup Universitas Vokasi Lingzhou, “Cari truk masing-masing, dan bawa serta alat berat saat berangkat. Kalau ada yang minta bantuan kalian mengangkut penyintas, jangan lupa minta tambahan poin, jangan mau dimanfaatkan. Aku yakin, di sepuluh universitas ini yang bisa nyetir sangat sedikit.”
Pesan itu langsung menarik perhatian banyak teman.
“He Mu, gimana caramu bisa dapat poin sebanyak itu?”
“Aku pakai truk buat angkut penyintas. Nyetir truk, paham? Sekarang, di Kota Yunfeng, bisa nyetir itu keahlian yang sangat berharga.”
...
Setelah mengajari teman-temannya, He Mu pun membuka peta dan mencari target berikutnya.
Sebuah pusat perbelanjaan di sisi lain posko.
Jaraknya sekitar dua kilometer.
Begitu target ditentukan, ia segera masuk ke kabin truk dan melajukan kendaraan menuju lokasi.
...
Waktu berlalu, malam semakin larut.
He Mu terus sibuk di reruntuhan, di wilayah barat daya Kota Yunfeng ada empat pusat perbelanjaan besar, tiga di antaranya sudah ia sisir seorang diri.
Kini ia mulai menyisir gedung perkantoran besar.
Tentu saja, tak semuanya berjalan mulus. Saat membuka pintu ruang aman di pusat perbelanjaan kedua, yang ia temukan hanyalah tumpukan mayat, tanpa satu pun penyintas.
Di ruang aman pusat perbelanjaan ketiga, memang ada lebih dari dua puluh penyintas, tapi persediaan makanan sudah habis sama sekali, dan udara dipenuhi bau darah yang menyengat.
Ia tak berani membayangkan ujian kemanusiaan seperti apa yang dialami para penyintas di dalam, tugasnya hanya memastikan yang masih hidup bisa sampai ke posko.
...
Waktu berlalu, satu hari pun lewat.
Keesokan siang, He Mu kembali ke posko dua puluh enam.
Zhao Lingling sudah terbiasa dengan kedatangannya, sebab berkat He Mu, posko ini jadi sangat ramai, bahkan jumlah prajurit penjaga bertambah dari dua menjadi empat orang.
Poin tugas yang ia dapat juga ikut melonjak.
“Katakan, kali ini bawa berapa orang?”
He Mu meneguk air, lalu menjawab dengan letih, “Enam orang, lima di antaranya luka berat, sekarang terbaring di bak truk.”
Sejujurnya, sehari semalam berlatih jurus tidak akan membuatnya seterengah ini, tapi penyelamatan jiwa menimbulkan beban psikologis yang berat.
Ia pernah bertemu penyintas yang bertahan dengan sisa-sisa napas, lalu menghembuskan nafas terakhir begitu melihatnya.
Ia juga pernah menemukan mayat dengan banyak jejak upaya bertahan hidup, tetapi akhirnya tetap kehilangan tanda-tanda kehidupan.
Ia bisa merasakan keputusasaan dan ketidakberdayaan dalam jejak-jejak itu.
Dan perasaan putus asa itu mau tak mau mempengaruhi batinnya.
Sebenarnya, ia masih cukup kuat, sebab saat bertugas di Kota Selatan ia sudah pernah menyaksikan tragedi yang lebih buruk.
Dibandingkan dirinya, tekanan mental mahasiswa lain jauh lebih besar.
Tak perlu lihat jauh-jauh, di sudut ruang utama posko dua puluh enam saja, dua mahasiswa tampak terduduk lesu.
Tangan mereka berlumuran darah, wajah kosong, mata berkaca-kaca, seolah masih terpaku oleh suatu kejadian yang mengguncang.
...
Setelah menugaskan orang untuk menangani para korban, Zhao Lingling berkata pada He Mu, “He Mu, istirahatlah di posko. Korban yang kamu selamatkan sudah sangat banyak.”
He Mu mengusap pelipisnya, lalu menjawab dengan mata terpejam, “Aku hanya lelah secara mental, badan masih kuat. Sekarang bukan waktunya istirahat. Sudah, aku pergi dulu.”
Selesai bicara, ia menarik napas panjang, lalu membalikkan badan dengan tekad bulat, berjalan menuju truk besar.
Begitu ia naik ke truk, beberapa mahasiswa yang baru saja masuk ke posko pun mulai berbisik.
“Itu dia si Raja Penyelamatan! Gokil banget!”
“Dia sudah lama di urutan satu kan di papan skor?”
“Benar kata dosen, setiap orang punya keahlian masing-masing, jangan remehkan pahlawan di luar sana!”
Sambil berbincang, ada yang mengeluarkan ponsel untuk melihat papan skor.
Di papan skor individu, He Mu dari Universitas Vokasi Lingzhou berada di peringkat satu dengan seratus tiga puluh dua poin.
Di urutan kedua, Er Leng dari Universitas Siqi hanya seratus satu poin.
Sedangkan posisi ketiga, Chu Fan, turun menjadi delapan puluh lima poin.
Pada papan skor total, Universitas Barat Daya menempati urutan pertama, Tim Kesepuluh Militer di posisi kedua, dan Universitas Vokasi Lingzhou di posisi ketiga.
“Seluruh pusat perbelanjaan besar di kota pasti sudah disisir semua, setelah ini kecuali ada yang membunuh monster kuat berturut-turut, rasanya tidak mungkin lagi langsung menambah banyak poin.”
“Selanjutnya yang paling penting adalah kemampuan bertarung.”
Mereka pun menoleh pada posisi ketiga, Chu Fan, dan keempat, Xu Shanhe di papan skor, dalam hati sadar bahwa panggung berikutnya pasti milik dua orang itu.
Namun, tak ada yang berani meremehkan He Mu yang kini masih di peringkat pertama.
Kali ini ada empat ribu orang yang ikut serta, berapa banyak yang bisa bertahan di posisi teratas selama sehari penuh?
Bahkan jika ia sekarang berhenti beraksi, begitu penyelamatan berakhir, dengan seratus lebih poin ia tetap akan berada di posisi terdepan.
Belum lagi, ia adalah peserta pertama dalam misi penyelamatan ini yang mendapat julukan resmi.
“Raja Penyelamatan”
Sekarang, siapa pun yang mendengar julukan itu pasti tahu itu adalah He Mu dari Universitas Vokasi Lingzhou.
Tak perlu bicara yang lain, hanya nama besarnya saja sudah melampaui hampir semua mahasiswa baru dan prajurit muda yang lain.