Bab 2: Cepat Masuk dan Makan
Meskipun Li Qing sudah berusia tiga puluh dua tahun, masih banyak hal yang belum pernah ia alami—misalnya: digoda oleh pria muda tampan yang baru sekali ia temui. Walau dalam hati terasa sedikit tersanjung, Li Qing tetap bisa menahan diri dan tidak serta-merta terbuai hanya karena sedikit perhatian yang samar.
Di luar dugaannya, Li Zhen ternyata sangat menyenangkan.
Agar terlihat lebih dapat dipercaya, Li Zhen menutupi rambut pirangnya yang mencolok dengan wig hitam. Padahal saat itu musim panas, meskipun AC di kantor sangat dingin, ia tetap merasa panas dan berkeringat. Saat waktu rehat sore, kakak Kitty yang biasanya paling takut dingin dan setiap hari mengeluh soal suhu AC, mendekatinya dan bertanya, “Kamu kepanasan ya? Aduh, hari sepanas ini, AC sentral kok nggak dingin sama sekali, gimana ini.”
Li Zhen melirik syal yang melilit erat di tubuh Kitty, menuangkan segelas air panas untuknya, lalu tersenyum, “Nggak panas kok.”
Rita, yang kebetulan lewat dan menumpukan dagu di atas sekat meja, bertanya, “Eh, adik, kamu kuliah patung ya?”
Li Zhen spontan menyodorkan sebutir permen yang ia ambil dari meja rehat, “Iya, Kak.”
Rita yang sedang mengurangi gula, dan biasanya kalau pesan kopi tidak sengaja diberi gula bisa marah besar, kali ini memakan permen itu, mengunyahnya dengan renyah dan tersenyum, “Wah, hebat banget ya.”
Ke Ling dari departemen sebelah lewat dan tertarik dengan keramaian itu, ia berhenti sejenak lalu berkata dengan nada menyindir, “Seru ya di sini.”
Kitty bertanya, “Gimana magangmu di sana?”
Ke Ling memutar bola matanya dan berkata, “Canggung banget, disuruh beli kopi di lantai bawah saja tumpah semua, lorong jadi berantakan, mending jangan keluar dulu.”
Li Zhen langsung menawarkan diri, “Biar aku bantu bersihkan!”
Begitu selesai bicara, ia langsung lari keluar. Ke Ling menatap punggungnya sambil berdecak, “Semangat banget ya.”
Li Qing yang duduk di meja kerjanya berdeham dua kali dengan keras. Rita melirik ke arah mereka berdua lalu mengisyaratkan agar yang lain diam, suasana pun langsung hening dan semua kembali bekerja. Li Qing sedang menelaah naskah, matanya sampai perih menatap layar komputer, akhirnya ia berdiri untuk meregangkan badan dan keluar ruangan.
Dari kejauhan ia melihat Li Zhen di lorong, sedang menggulung lengan baju dan membantu magang yang panik itu mengepel lantai. Li Qing mampir ke toilet; sambil mencuci tangan, ia memperhatikan gaya rambutnya hari itu—rambutnya agak lemas, jadi sebelum ke kantor ia biasanya menata dengan gel agar tampak lebih segar, mengganti kacamata dengan lensa kontak, sehingga alis dan matanya yang menurun jadi lebih hidup.
Tampan, kah?
Ia membatin.
Li Qing merapikan beberapa helai poni yang membandel sambil menoleh ke kanan dan kiri. Saat itu, pintu toilet terbuka. Li Qing, seolah sedang melakukan sesuatu yang salah, buru-buru menurunkan tangan dan kembali menyalakan keran, padahal barusan sudah mencuci tangan.
Yang masuk adalah Li Zhen, membawa alat pel, wajahnya berseri-seri penuh kegembiraan.
“Hai,” bisik Li Zhen, “kebetulan sekali.”
Padahal tidak kebetulan, semua orang di kantor memang ke toilet ini.
Li Qing iseng bertanya, “Sudah bersih semua?”
Tiba-tiba Li Zhen berkata, “Tunggu sebentar.”
“Ada apa?”
“Ada bulu mata yang jatuh di wajahmu,” kata Li Zhen, “Jangan bergerak, aku bantu ambil.”
Li Qing hendak berbalik menghadap cermin, tapi Li Zhen sudah mendekat, membuatnya terpaksa mundur hingga punggungnya menyentuh pinggir wastafel.
Li Zhen bergumam, “Tapi tanganku kotor…”
Li Qing spontan memejamkan mata, karena Li Zhen yang lebih tinggi darinya membungkuk mendekat. Ia merasakan hangat napas di pipi, juga aroma manis, wangi macha canelé dari toko kue favoritnya yang selalu ia pesan saat rehat.
“Sudah,” kata Li Zhen.
Li Qing membuka mata, Li Zhen masih berdiri di sana sambil memegang gagang pel, tersenyum polos tak berdosa. Li Qing menarik napas dalam, lalu kembali mencuci tangan untuk ketiga kalinya tanpa berkata apa-apa dan keluar.
Di departemen, sedang sibuk menyiapkan acara pameran hari titik balik musim panas, semua orang repot setengah mati. Hari pertama magang, Li Zhen tak punya tugas khusus, sepanjang hari jadi tukang suruhan. Sesekali, di sela kesibukan, Li Qing melirik ke arah Li Zhen yang selain membantu sana-sini, juga tampak sibuk sendiri di meja kerjanya.
Sampai waktu pulang, Li Qing tak pernah lagi meninggalkan meja.
Rita, satu-satunya yang berani membantah Li Qing, menatap jarum detik tepat di angka dua belas, langsung berdiri dan berkata, “Sudah waktunya pulang, sampai besok ya semua!”
Semua pun segera berkemas. Li Qing meneteskan obat tetes mata ke mata yang kering, sementara Li Zhen perlahan mendekat ke arahnya. Li Qing tetap waspada, tak melirik sedikit pun. Li Zhen melipat uang lima ribu lusuh yang pernah disita Li Qing menjadi bentuk hati, meletakkannya di samping mouse Li Qing, lalu tersenyum manis.
Dengan suara pelan, Li Zhen bertanya, “Boleh nggak aku ke kantor besok tanpa wig?”
Ke Ling dari departemen sebelah saja rambutnya merah.
Li Qing tertawa, “Nggak boleh, ya.”
Kantor mereka adalah perusahaan media digital, bosnya juga muda, suasananya santai, penampilan dan warna rambut tak pernah jadi masalah, bahkan boleh bawa hewan peliharaan ke kantor. Tapi Li Qing sengaja ingin menggodanya, membuatnya sedikit tidak nyaman.
“Kenapa memangnya?” tanya Li Zhen.
Li Qing menjawab, “Karena aku atasanmu, aku yang beri nilai masa magangmu, dan aku tidak suka anak buah dengan warna rambut mencolok.”
Li Zhen yang kepanasan seharian itu langsung menutup mulut.
“Ayo kita makan di luar,” suara Li Qing lantang mengajak semua orang di kantor.
Kegiatan makan bersama kantor adalah siksaan bagi para introver.
Sekejap saja, semua orang mendadak punya urusan penting—janji dengan pacar, harus pulang kasih makan kucing atau anjing, nonton bola, tiba-tiba merasa tidak enak badan, tidak lapar, rindu rumah, dan sebagainya.
“Aku yang traktir,” kata Li Qing, “di restoran baru seberang itu, barbeque all you can eat.”
Per orang lima ratus ribu.
“Setuju!” Semua langsung mengiyakan dengan riang gembira, mengabaikan segala alasan.
Satu-satunya yang tampak tidak bahagia hanya Li Zhen, ia terlalu kepanasan, masih harus pakai wig saat makan barbeque, keringatnya bercucuran, rasanya kepala mau botak. Semangat Li Zhen langsung turun, tidak antusias lagi saat hendak pulang. Kitty yang melihatnya bertanya, “Kamu nggak enak badan? Kalau mau pulang dulu juga nggak apa-apa, jangan dipaksa.”
Li Qing tersenyum ramah, “Iya, nggak perlu dipaksakan.”
“Tidak apa-apa!” ujar Li Zhen, “Aku sangat ingin makan barbeque.”
Begitu masuk restoran barbeque, teman-teman langsung ramai memesan daging, seolah ingin membuat Li Qing rugi besar. Sebagai anak magang, Li Zhen membantu pelayan memanggang daging untuk semua, baru sebentar saja sudah mandi keringat, lengan bajunya digulung sampai siku. Li Qing teringat, di lengan Li Zhen ada tato, waktu malam nonton film tak terlalu jelas, sekarang pun tak kelihatan.
Li Zhen tak sempat makan banyak, baru sebentar saja sudah kepanasan, punggung kemejanya basah oleh keringat, menempel di kulit.
“Aku ke toilet sebentar!” katanya.
Li Qing sendiri juga belum banyak makan, sudah meletakkan sumpit. Seorang rekan menyarankan, “Makan saja, malam-malam makan daging nggak apa-apa, asal nggak makan karbo nggak bakal gemuk.”
Rita yang juga meletakkan sumpit berkata lirih, “Kita sudah lewat umur di mana nggak makan karbo bisa langsung kurus.”
Li Qing melirik tajam, lalu berkata, “Aku ke luar sebentar, mau merokok.”
Ia keluar, menyalakan sebatang rokok, dan melihat Li Zhen sedang jongkok di pinggir jalan di tikungan. Li Zhen melepas wig, rambut emasnya sudah lepek karena panas, ia mengibas kepala seperti anjing yang baru selesai mandi, bahkan tampak beberapa tetesan keringat beterbangan, membuat Li Qing mendecak kesal.
Li Zhen menoleh dan melihat Li Qing, buru-buru meletakkan wig di kepalanya begitu saja, jadi tampak seperti punya dua macam rambut.
Li Qing tertawa geli, baru mau bilang bahwa besok Li Zhen tak perlu pakai wig, tiba-tiba Li Zhen berseru, “Om—”
“Ayo masuk lagi, makan yang banyak,” Li Qing tersenyum ramah, “lima ratus ribu per orang, kamu baru makan sedikit, jangan sampai aku rugi.”
[Catatan Penulis]
Saya tidak memelihara anjing, juga belum pernah bekerja di perusahaan media digital, semua hanya karangan belaka.
Saya sempat bertanya-tanya pada teman yang bekerja di media digital, dan diam-diam memakai nama Inggris dua teman saya. Kalau mereka keberatan, nanti kuganti jadi Risa dan Katty!
Sudah disimpan? Sudah komentar? (tanya)