Bab 16: Bertahan Sampai Akhir Tanpa Menyerah
Halaman 1 dari 3
Pesawat mereka dijadwalkan berangkat pagi keesokan harinya. Setelah masing-masing kembali ke kamar hotel, Li Qing selesai membersihkan diri lalu membereskan semua barang bawaannya. Saat hendak tidur, Li Zhen mengetuk pintu. Li Qing membuka pintu separuh dan bertanya, “Ada apa?”
“Mau jalan-jalan sebentar lagi?”
“Serius?” Li Qing menoleh melihat jam. Sudah hampir pukul dua belas.
“Serius,” jawab Li Zhen. “Sebentar saja.”
Li Qing menghela napas. “Sudah terlalu malam. Besok pagi kita masih harus mengejar pesawat.”
Cahaya lampu di lorong hotel temaram. Raut wajah Li Zhen tampak separuh terang, separuh gelap. Matanya sangat indah—dengan kelopak ganda dan bulu mata panjang. Bayang-bayang jatuh di kelopak bawahnya, sementara cahaya di matanya berkelip antara terang dan redup, sesekali diselimuti bayang-bayang, seperti hamparan sawah yang diterpa angin.
“Aku baru pertama kali melihat laut,” katanya.
Li Qing mencubit pangkal hidungnya dengan jengkel. “Bercanda juga ada batasnya, ya.”
Dengan wajah memelas, Li Zhen berkata, “Sungguh, ini pertama kalinya aku melihat laut. Temani aku berjalan-jalan.”
Bagaimanapun Li Qing memandangnya, Li Zhen sama sekali tidak terlihat seperti orang yang baru pertama kali melihat laut. Ia belajar seni, bidang yang terkenal menguras biaya, bahkan menyewa studio bersama teman-teman kuliahnya. Ia merawat anjingnya dengan sangat telaten. Meskipun tidak selalu mengenakan pakaian bermerek, penampilannya tetap rapi dan menarik. Ia suka berolahraga dan memiliki kulit yang sehat. Terlepas dari apakah itu sekadar stereotip, Li Qing merasa kondisi keluarganya pasti tidak buruk. Mungkin Li Zhen memang tidak menyukai laut, tetapi mustahil ia belum pernah melihat laut.
“Jangan bohong. Aku tidak mau.” Li Qing hendak menutup pintu.
Li Zhen mengerucutkan bibir. “Kalau kau tidak ikut, aku tidak akan pergi.”
Li Qing mulai merasa kesal.
Cara seperti ini mungkin bisa dianggap sebagai bumbu kemesraan ketika suasana hati sedang baik, tetapi saat ini suasana hatinya sedang buruk. Sejak kembali dari pantai, hatinya terasa sesak tanpa tahu sebabnya. Lagi pula, ia memang sedang beradu keras kepala dengan Li Zhen. Li Zhen bersikeras bahwa ia akan menyukainya, sementara ia sendiri mati-matian menolak.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Li Qing menutup pintu, menyalakan televisi, dan bersiap menonton sebentar sebelum tidur.
Beberapa hari terakhir, Sunday tidur di kamarnya. Biasanya, setiap kali Li Qing menyalakan televisi, anjing itu pasti akan berbaring di depan layar dan menonton dengan sungguh-sungguh, seolah-olah benar-benar bisa memahami apa yang dilihatnya—seperti anak kecil yang kecanduan televisi. Namun kali ini, mungkin karena Li Zhen benar-benar masih berada di luar, Sunday langsung berbaring di dekat pintu dan sesekali merengek lirih dengan nada memelas.
Li Qing semakin jengkel. Ia mematikan televisi, lalu memadamkan lampu untuk tidur.
“Sunday, sst—” katanya dengan kesal.
Anjing itu akhirnya merengek dua kali, lalu benar-benar diam. Cahaya lorong menyelinap dari celah bawah pintu, tetapi tidak cukup terang untuk mengetahui apakah masih ada orang di luar.
Li Qing berguling ke sana kemari sampai selimut mengeluarkan suara gemerisik. Semakin ia berguling, semakin gelisah hatinya. Ia mulai mengintrospeksi diri: mungkinkah ia seharusnya tidak memainkan permainan tarik-ulur yang ambigu ini? Mungkinkah ia juga seharusnya tidak mencium Li Zhen dua kali?
Dua kali.
Halaman 1 dari 3
Ingatannya cukup jelas juga, ejeknya kepada diri sendiri.
Anjing itu diam seolah-olah tidak ada. Li Qing memanggilnya, dan Sunday berlari kecil mendekat, menggosok-gosokkan tubuhnya ke tangan Li Qing yang terjulur keluar dari selimut. Ia merasakan telapak tangannya menjadi basah, lalu anjing itu kembali berlari-lari kecil ke dekat pintu dan berbaring di sana.
Li Qing membenamkan wajah ke bantal, hampir saja membuat dirinya kehabisan napas. Namun pada akhirnya ia tetap bangkit dan duduk, lalu pergi membuka pintu.
Ia tidak menyalakan lampu. Begitu pintu terbuka, cahaya dari luar langsung tumpah masuk.
Li Zhen sedang duduk bersila bersandar pada dinding di samping pintu. Tadinya ia menatap layar ponsel yang sudah mati dengan tatapan kosong. Begitu pintu terbuka, ia segera mendongak dan tersenyum kepada Li Qing.
“Kenapa? Ponselmu hanya bisa menampilkan gambar kepada orang pintar?” kata Li Qing dengan kesal.
“Ponselku kehabisan daya.”
“Pulanglah untuk mengisi daya.”
“Kalau aku pulang untuk mengisi daya, bagaimana kalau kau membuka pintu saat itu? Bukankah aku akan melewatkannya?” jawab Li Zhen dengan sungguh-sungguh.
Ia masih duduk di lantai sambil mendongak, dengan sikap yang sangat merendah. Sepasang matanya yang indah menatap orang di hadapannya dengan penuh perhatian, seolah memperhatikan orang itu adalah hal terpenting saat ini, dan tak ada satu pun di seluruh dunia yang lebih penting darinya.
Li Qing terdiam sejenak, lalu mengangkat tangan sebagai tanda menyerah. “Sudahlah. Kita jalan-jalan. Ayo, cepat.”
Begitu menangkap kata kunci “jalan-jalan”, Sunday langsung bersemangat. Sambil mengibas-ngibaskan ekornya, ia menyelip di antara keduanya dan berputar-putar mengelilingi kaki Li Zhen.
Li Zhen menolaknya dengan kejam. Ia menunjuk ke dalam kamar dan berkata tanpa belas kasihan, “Sunday, kembali.”
“Tidak dibawa?” tanya Li Qing.
Dengan ekor terkulai dan kepala tertunduk lesu, Sunday berbalik masuk. Ia melompat ke sofa kecil khususnya, lalu berbaring dengan muram. Li Zhen menutup pintu dengan cekatan dan berkata, “Tidak. Hanya kita berdua.”
Pantai di tengah malam nyaris tidak berpenghuni. Yang ada hanyalah pasangan-pasangan kekasih yang berjalan-jalan larut malam, tersebar jarang-jarang di sepanjang pesisir.
Li Qing mengenakan jaket tipis di luar kausnya dan berjalan perlahan. Li Zhen tidak takut kedinginan; ia bahkan melepas sepatu dan menginjak air. Angin laut memenuhi kaus tanpa lengannya, mengacak-acak rambutnya hingga berantakan.
Ia benar-benar tampak seperti orang yang baru pertama kali melihat laut dan bermain air. Ia terus menginjak air dengan penuh kesenangan, matanya terpaku pada ombak yang datang bergulung-gulung.
Li Qing berdiri di atas pasir yang tidak terjangkau hempasan ombak, lalu berkata kepadanya, “Kau tidak bisa jalan-jalan sendirian?”
Li Zhen berjalan menghampiri Li Qing sambil terus mengacak rambutnya sendiri hingga semakin berantakan. “Aku tidak berani sendirian. Aku takut air. Lagi pula, aku ingin berjalan bersamamu.”
Anjing takut air, manusia juga takut air.
Sambil melipat tangan di dada, Li Qing berjalan ke depan dan bertanya asal-asalan, “Kenapa takut air?”
Halaman 2 dari 3
Li Zhen mengangkat bahu tanpa menjawab. Ia berjalan dua langkah ke depan, lalu tiba-tiba berkata, “Angin lautnya nyaman sekali. Duduk sebentar di sini, yuk.”
Sambil berkata demikian, ia langsung duduk di tempat. Kedua kakinya diluruskan panjang-panjang. Pasir di tempat itu kering dan nyaman, tetapi Li Qing sudah membersihkan diri dan tidak ingin duduk di atas pasir.
Melihat Li Qing ragu, Li Zhen menarik bagian bawah kausnya, membungkuk, lalu langsung melepas kaus itu. Ia membentangkannya di atas pasir, menepuk-nepuk permukaannya dengan tangan, dan berkata dengan lugas, “Duduklah.”
Li Qing sempat memandang tubuh bagian atas Li Zhen yang telanjang, lalu segera mengalihkan pandangan. “Tidak kedinginan?”
Li Zhen menggeleng. Ia menopang tubuh dengan kedua tangan di belakang, meluruskan kakinya, lalu sedikit menengadahkan kepala, membiarkan angin laut membelai rambutnya. Ia menghela napas lega dengan nyaman.
Li Qing pun duduk. Tiba-tiba ia teringat hari itu di studio tempat Li Zhen mengelas, ketika pakaian Li Zhen juga dibentangkan di atas sofa yang dipenuhi debu.
Dalam menghadapi Li Qing, seolah-olah di tubuh Li Zhen terdapat sebuah sumur yang tak pernah bisa dikuras habis, dipenuhi kehangatan dan antusiasme. Hal itu membuat Li Qing ingin menjulurkan kepala dan mengintip ke dalamnya, tetapi kedalamannya yang tak terlihat juga membuat orang merasa gentar.
Hati Li Qing terasa sesak. Li Zhen pun tidak berkata apa-apa, hanya bersiul pelan. Siulannya tidak terlalu bagus; separuhnya berupa nada siulan, separuh lainnya hanya hembusan napas kosong. Li Qing tidak tahu lagu apa yang sedang ia siulakan.
Li Qing menekuk sebelah kaki, memeluk lutut, lalu dengan malas menyandarkan dagu di atasnya. Dari sudut matanya, ia mengamati Li Zhen—tubuhnya yang padat berotot dan rambutnya yang berantakan.
Tato di punggung Li Zhen sangat besar, membentang di hampir separuh bagian atas punggungnya. Itu pun bukan satu gambar utuh. Dari pengamatan sekilas, Li Qing melihat bahwa tato tersebut tersusun dari berbagai gambar berbeda: ada pola geometris, ada sapuan tinta, ada warna hitam-putih, dan ada pula sedikit warna-warni. Semuanya menjalar mengikuti arah otot dan tulang, seolah dibuat satu per satu berdasarkan dorongan hati. Memang benar-benar sesuatu yang bisa dilakukan Li Zhen.
“Hati-hati masuk angin,” kata Li Qing dengan suara kering.
Tiba-tiba Li Zhen berkata, “Aku sangat menyukaimu.”
Ia benar-benar seperti Sunday—penuh energi dan sulit ditebak. Jantung Li Qing serasa berhenti berdetak sesaat. Ia tergagap. Padahal ada begitu banyak nasihat dan alasan yang bisa ia uraikan perlahan di dalam hati, tetapi kini bahkan satu pertanyaan sederhana tentang alasannya pun tersangkut di tenggorokan, tak mampu terucap.
Li Qing mengumpulkan keberanian dan menatap Li Zhen.
Namun Li Zhen hanya memandang laut, seolah-olah kalimat tadi bukan ia yang mengucapkannya. Atau seolah kalimat itu merupakan sebuah sikap: ia mengatakannya karena ingin mengatakannya, dan kata-kata yang telah terlontar bagaikan batu yang dilemparkan ke laut—tanpa berharap jawaban, tetapi juga seakan-akan ia sudah yakin bahwa Li Qing pasti akan memberikan respons.
Li Qing mengangkat kedua tangan untuk menutupi wajah, lalu menarik napas dalam-dalam. Jari-jari kakinya yang tersembunyi di dalam sepatu menggeliat kaku tanpa tahu harus berbuat apa.
Ia merasakan kehangatan menyentuh jemarinya. Ia menduga Li Zhen telah menggenggam tangannya. Ia juga merasakan butiran pasir yang kasar. Ketika mendongak, ia mendapati Li Zhen sedang menatapnya dengan tatapan yang membara.
Li Zhen meraih tangannya, lalu menekankannya ke dada sendiri.
Di balik daging yang hangat dan kokoh itu, jantungnya berdetak keras—sangat cepat, sangat cepat—menghantam telapak tangan Li Qing dengan setiap denyutnya.
Catatan penulis:
Ungkapan tentang mata yang menyerupai sawah yang diterpa angin ini ditulis oleh Zhang Ailing untuk menggambarkan Qiao Qiqiao. Perumpamaan itu sungguh indah: hamparan padi bergulung seperti gelombang, menyingkap kilau air yang samar di bawahnya—lugu sekaligus dalam. Namun Li kecil kita bukanlah penakluk hati!
Halaman 3 dari 3