Bab Lima Puluh: Mencari Mekanisme, Aksi Pencurian yang Sempurna
Dalam kegelapan yang begitu pekat dan di dalam ruangan yang asing, kemampuan Mu Xiaofeng menemukan celah sekecil itu sungguh luar biasa. Beruntung pikirannya begitu cemerlang, sehingga pada saat genting ini ia masih bisa membandingkan kamar tidur Cao Xuanxuan dengan ruang kerja Cao Lizhong.
Mu Xiaofeng merasa girang, namun ia tidak terburu-buru. Penemuan ini baru permulaan yang baik; yang terpenting adalah benar-benar mendapatkan lukisan itu lalu pergi dari sini tanpa jejak—barulah itu disebut sukses. Langkah berikutnya yang paling krusial adalah menemukan letak mekanismenya, membuka ruang rahasia, dan mengambil lukisan tersebut.
Mu Xiaofeng memperkirakan lebar ruangan, lalu melangkah ke rak buku yang pas menempel di dinding. Dari permukaan, rak buku ini tampak biasa saja, tanpa celah, tanpa tombol rahasia, dan buku-buku di atasnya tersusun rapi, beberapa tampak sering diambil.
Dari sini jelas bahwa ruang kerja Cao Lizhong bukan sekadar pajangan, melainkan tempat ia benar-benar menikmati kegemarannya.
Dalam gelap, Mu Xiaofeng menatap rak buku itu dengan mata tajam, memperhatikan secara berurutan, seolah-olah ia sedang menilai rak buku, padahal ia juga memperhatikan buku-buku di atasnya. Sebenarnya, saat ini Mu Xiaofeng sendirian, tampaknya tak ada bahaya, tetapi ia tak mengetahui kebiasaan Cao Lizhong. Ia juga tidak tahu apakah Cao Lizhong akan kembali ke ruang kerjanya.
Jika Cao Lizhong terbiasa membaca di malam hari, kemungkinan besar Mu Xiaofeng akan ketahuan dan seluruh aksinya malam ini gagal total. Bahkan jika ia cepat melarikan diri lewat jendela, di lain waktu mustahil bisa mencuri lukisan itu lagi.
Tak terlihat keanehan apa pun, Mu Xiaofeng tetap tenang. Ia meraba rak buku perlahan dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah. Ia tidak berani mengetuk atau memukul rak itu, sebab suara sekecil apa pun bisa membangunkan Cao Lizhong, apalagi ruangan di sebelah yang lampunya menyala kemungkinan besar adalah kamar tidur Cao Lizhong.
Dengan pertimbangan betapa berharganya lukisan “Sang Guru Mengajar” bagi Cao Lizhong, serta kewaspadaannya yang tinggi, Mu Xiaofeng sangat berhati-hati. Jika rumah itu kosong, ia pasti akan mengutamakan kecepatan dan tak perlu terlalu memikirkan teknik pencurian.
Mu Xiaofeng mengelilingi rak buku itu, meraba setiap bagiannya, namun hasilnya nihil. Apakah ia sudah salah menebak? Ia pun mengalihkan perhatiannya dari rak buku ke meja kerja Cao Lizhong.
Saat tadi menguping percakapan Cao Lizhong dan pengawalnya dari luar jendela lantai dua, ia ingat jelas setelah pengawalnya pergi, Cao Lizhong membuat sedikit suara. Besar kemungkinan, setelah berbicara dengan pengawalnya sambil duduk di depan meja kerja, ia tidak banyak bergerak dan langsung mengaktifkan mekanisme di rak buku. Jadi, mungkinkah mekanismenya ada di meja?
Lebih baik mencoba segala kemungkinan. Karena rak buku tidak membuahkan hasil, Mu Xiaofeng pun memusatkan perhatian pada benda-benda lain di ruangan itu, dan meja kerja adalah benda yang paling mencolok. Ia pun menaruh perhatian lebih di sana.
Sekilas, meja kerja Cao Lizhong tampak biasa—sangat rapi dan bersih, tanpa keanehan. Di atasnya ada tempat tinta, tempat gantung kuas dengan beberapa kuas berbagai ukuran, serta sebuah kaligrafi besar yang dipajang di dinding, tampaknya hasil karya Cao Lizhong sendiri. Ada pula sebuah buku yang belum selesai dibaca, ternyata itu adalah “Das Kapital.” Mu Xiaofeng heran kenapa Cao Lizhong suka membaca buku seperti itu di waktu senggang, tapi ia tak terlalu memikirkannya.
Di meja juga ada sebuah laptop merek Dell, selain itu tak ada barang lain. Ia berpindah posisi dan memperhatikan tiga laci dan dua lemari kecil di meja. Semua laci terkunci. Melihat tak ada hal aneh, Mu Xiaofeng agak bingung, apakah ia harus membuka laci itu? Kunci pada laci-laci itu tidak istimewa, dengan keahliannya, ia bisa membukanya dengan mudah, namun ia enggan melakukannya. Bagaimanapun, ia sudah mengenal Cao Lizhong, dan mencuri “Sang Guru Mengajar” saja sudah melampaui batas, apalagi jika harus mengobrak-abrik barang pribadinya.
Tentu saja, kecuali jika ternyata mekanisme membuka rak buku memang ada di dalam laci, maka ia tidak akan ragu lagi.
Tiba-tiba, Mu Xiaofeng memperhatikan sesuatu: laptop itu. Umumnya, pebisnis seperti Cao Lizhong lebih suka komputer desktop daripada laptop. Jika ia memakai laptop, mungkin karena kebiasaan pribadi, sehingga tak ada yang aneh. Namun yang membuat Mu Xiaofeng heran adalah laptop itu tidak tercolok ke listrik.
Bisa jadi laptop itu baterainya tahan lama, atau charger-nya disimpan di tempat lain, baru akan dipasang bila digunakan. Namun Mu Xiaofeng punya firasat berbeda—ruang kerja adalah tempat santai, dan komputer di masa kini adalah alat penting dalam hidup. Kalau setiap kali selesai digunakan harus mencabut charger, itu merepotkan, apalagi bagi Cao Lizhong yang tentu tidak menganggap laptop sebagai barang berharga sehingga mesti diperlakukan istimewa.
Mu Xiaofeng tak yakin apakah rahasia itu ada pada laptop, tapi karena sudah terlanjur memikirkan ke arah situ, ia pun nekat menggeser laptop tersebut. Gerakannya sangat hati-hati, laptop itu dipindahkan ke sisi meja. Mu Xiaofeng merasa senang.
Usahanya tidak sia-sia. Di bawah laptop itu ternyata tersembunyi sebuah slot kecil dengan tombol pemutar di dalamnya. Mu Xiaofeng memutar tombol tersebut perlahan—tak terjadi apa-apa, namun ia tetap tenang. Benar saja, sekitar dua puluh detik kemudian terdengar suara lembut dari rak buku. Rak yang menempel dinding itu ternyata dipasang roda, sedikit mundur lalu berputar setengah lingkaran dari sudut yang tak sampai satu meter dari dinding, membentuk sebuah pintu yang hanya cukup dilewati satu orang.
Proses perubahan rak buku itu nyaris tak bersuara, mustahil terdengar oleh telinga biasa. Mu Xiaofeng baru sadar mengapa ia tak menemukan celah pada rak buku—karena bagian yang terbuka adalah di antara buku-bukunya, sedangkan raknya sendiri dibuat sangat presisi tanpa menyisakan tanda sedikit pun.
Tanpa ragu, Mu Xiaofeng segera menyelinap masuk ke ruang rahasia. Meski kecil, ruang itu ternyata menyimpan banyak barang berharga dengan penataan yang sederhana. Lampu di dalam ruang rahasia menyala terang, sehingga Mu Xiaofeng dapat melihat sisi belakang rak berisi barang antik, dan dindingnya digantungkan lukisan serta tulisan tangan tokoh-tokoh besar zaman kuno. Sebagai orang yang paham barang, ia tahu semuanya asli, bukan barang tiruan, dan nilainya jika dihitung pasti lebih dari seratus juta.
Barang-barang itu memang sangat mahal, tapi Mu Xiaofeng adalah pencuri yang memegang prinsip. Malam ini ia hanya mengambil “Sang Guru Mengajar,” tidak tergoda oleh benda berharga lainnya. Ia melihat sekilas isi ruangan, lalu menemukan sebuah lemari kecil. Ia membukanya dan menemukan sebuah tabung silinder.
Mu Xiaofeng tahu, kemungkinan besar inilah tujuan utamanya malam ini. Ia mengambil tabung itu, membuka tutupnya, dan benar—di dalamnya terdapat sebuah lukisan, yakni “Sang Guru Mengajar.”
Di bawah cahaya lampu, Mu Xiaofeng mengamati lukisan itu yang sepenuhnya mencerminkan gaya Wu Daozi. Sosok Kongzi dalam lukisan itu tampak agung dan penuh wibawa, tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangan bersilang memberi salam, penuh rendah hati dan sopan. Rambut dan janggut Kongzi tertata rapi, pancaran matanya tajam, menggambarkan kebijaksanaan seorang bijak. Teknik sapuan kuasnya menunjukkan keahlian tinggi sang pelukis, benar-benar mewarisi esensi gaya “Wu Dai Dang Feng.” Di bagian atas lukisan tertulis: Potret Sang Guru Mengajar; di pojok kanan atas tertulis: Kebajikan setinggi langit dan bumi, ajaran melampaui zaman, merangkum enam kitab, menjadi teladan sepanjang masa; di pojok kiri bawah tertera: Dilukis oleh Wu Daozi, beserta cap merah.
Mu Xiaofeng tahu, banyak pemalsu lukisan terkenal memiliki keahlian tinggi, sehingga meniru dari segala aspek bisa sangat meyakinkan. Dalam waktu singkat, mustahil memastikan keaslian lukisan ini. Namun, bagi Mu Xiaofeng, asli atau palsu bukan masalah, sebab inilah benda yang diminta Shaobaitang untuk ia curi.
Ia melepas jaket olahraganya, memperlihatkan kaus oblong tanpa lengan, lalu dengan hati-hati membungkus lukisan itu dengan bajunya, mengikatnya di punggung, dan menutup kembali tabungnya, menaruh di posisi semula. Setelah memastikan tak ada yang berubah, bahkan tabung itu pun diletakkan persis seperti sebelumnya.
Mu Xiaofeng keluar dari ruang rahasia, kembali ke meja kerja, menutup mekanisme, dan mengembalikan laptop ke tempat semula. Lalu ia memanjat keluar lewat jendela. Begitu di luar, ia menstabilkan tubuhnya, lalu kembali mengeluarkan kait tiga cabang, menggaitkan di atap vila agar sebagian berat badannya tertahan dan tidak jatuh. Setelah itu, ia memutar kembali sekrup jendela, dan lewat lubang kecil yang sudah dibuat di bingkai plastik, ia mengunci kembali jendela itu.
Selesai sudah. Seluruh ruang kerja Cao Lizhong seolah tak pernah dimasuki siapa pun. Tentu saja, lubang kecil di bingkai jendela tidak bisa diperbaiki, tapi letaknya di luar dan takkan terlihat kecuali diperiksa dengan teliti.
Mungkin ada yang berkata, jika Mu Xiaofeng memang pencuri, mengapa repot-repot melakukan semua ini, bukankah lebih baik langsung pergi saja? Sebenarnya tidak demikian. Dari sudut pandang pencuri, apakah lebih baik barang curian cepat atau lambat diketahui oleh pemiliknya? Tentu saja, semakin lama diketahui, semakin baik.
Pencuri sejati harus sangat hati-hati, jangan sampai meninggalkan kebiasaan buruk yang bisa menjadi jejak. Berhasil mencuri tanpa ketahuan adalah puncak keahlian. Mu Xiaofeng selalu menuntut kesempurnaan dalam setiap aksinya.
Kali ini, keberhasilannya mencuri “Sang Guru Mengajar” benar-benar sempurna, layak disebut sebagai kasus pencurian di ruang tertutup yang tak ternoda!