Bab Tiga: Bersiap Siaga
Perempuan hantu ini benar-benar kejam!
“Bukan dia yang melakukannya, garis nasibmu telah diubah seseorang, lalu kau juga berinteraksi dengan perempuan hantu yang sangat kuat, tubuhmu dipenuhi aura hantu. Darah manusia yang dipenuhi aura hantu seperti ini, bagi para roh gentayangan di dunia manusia, adalah santapan yang sangat langka dan berharga.”
Sial, maksudnya aku sekarang jadi seperti biksu suci yang semua hantu ingin makan?
Bibi kedua sepertinya bisa membaca pikiranku, ia mengangguk pelan. Setelah berkata begitu, ia pun duduk bersila untuk beristirahat, meninggalkanku sendirian berdiri melongo.
Aku juga tidak tahu harus berbuat apa, jadi aku hanya duduk menjaga bibi kedua. Ia duduk berdiam diri begitu lama, sampai-sampai sudah berlalu empat atau lima jam.
Akhirnya ia membuka mata, wajahnya walau masih tampak pucat, tapi jauh lebih baik dari sebelumnya.
“Kenapa kau masih di sini? Bukankah sudah kubilang, lakukan saja apa yang harus kau lakukan?”
“Bibi, sekarang mana mungkin aku tenang untuk melakukan apa pun? Aku hampir dimakan hantu, tolong lihatkan aku, apa yang bisa kulakukan? Masak aku hanya duduk menunggu kematian?”
“Kau bisa apa? Apa kau sanggup melawan hantu? Lagi pula, selama aku di sini kau takut apa? Kalau benar-benar tidak ada yang bisa dikerjakan, di lemari sana ada sebuah buku, ambil saja dan baca sendiri! Jangan ganggu aku beristirahat!”
Selesai berkata, bibi kedua kembali memejamkan mata.
Aku segera mengambil buku itu.
“Rahasia Ilmu Cepat Jampi dan Rajah”, namanya terdengar keren, tapi begitu kulihat sampulnya, aku langsung terdiam. Bukankah ini buku murahan yang dijual di pinggir jalan? Harganya hanya sepuluh ribu rupiah satu. Buku rahasia rajah yang hebat, bukankah seharusnya berupa tulisan tangan?
Terserah lah, lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali!
Aku mulai membolak-balik halaman, rajah-rajah di dalamnya makin kulihat makin rumit. Terpaksalah aku memilih rajah pelindung diri yang paling sederhana, lalu meniru gambarnya dengan pena dan kertas di ruang kerja bibi. Soal manjur atau tidak, hanya Tuhan yang tahu.
Meski begitu, selesai menggambar hari sudah gelap. Aku merangkul rajah pelindung itu seolah-olah mendapat harta karun, keluar dari ruang kerja, dan melihat bibi kedua sudah sibuk melakukan sesuatu di ruang tamu.
“Duduklah di bangku sana, pejamkan matamu. Aura dingin semakin kuat, aku curiga mereka akan segera datang.”
Suara bibi kedua sedikit serak, tapi lebih banyak menampakkan kehati-hatian dan ketegasan.
Aku buru-buru duduk di bangku.
“Ada yang perlu kulakukan?”
“Duduk diam dan pejamkan mata saja.”
Baru saja kata-kata itu selesai, aku langsung merasakan angin dingin bertiup di sebelahku, tubuhku langsung menggigil.
Tiba-tiba terdengar suara benturan keras di telingaku.
Tanpa sadar aku membuka mata, hanya melihat seberkas cahaya perak menyala di depan bangku.
“Ada apa?” tanyaku dengan penasaran pada bibi kedua.
“Ada dua hantu kecil, mereka menabrak penghalang sampai mati sendiri!” jawab bibi santai tanpa henti mengerjakan pekerjaannya.
“Kenapa aku tidak bisa melihat apa-apa?”
“Kalau kau mau lihat, tempelkan ini di tengah keningmu!”
Sebuah manik hitam dilemparkan ke hadapanku, ternyata itu sebuah bola mata. Aku hampir saja melemparnya karena kaget, tapi akhirnya tetap bisa menahan diri.
Masa takut hanya karena sebutir mata mati? Aku tempelkan manik itu di tengah kening, lalu melirik ke sekeliling, tapi belum melihat apa-apa. Sepertinya setelah dua hantu kecil itu mati, tidak ada lagi yang datang.
Saat aku hendak menarik napas lega dan melepas bola mata aneh itu, tiba-tiba udara dingin menyusup sampai ke tulang belakangku.
Tanpa sadar aku mendongak, segumpal kabut hitam meluncur ke arahku dengan kecepatan luar biasa. Sensasinya lebih menegangkan daripada menonton film 3D, jantungku serasa mau copot. Baru kali ini aku benar-benar merasa begitu dekat dengan kematian.
Tidak mungkin lari, gerakannya terlalu cepat. Satu-satunya yang sempat kulakukan hanyalah mengangkat tangan menghalangi di depan dada.
Jangan-jangan, nama baikku akan berakhir di sini?
Untungnya, cahaya perak itu kembali muncul, menahan bayangan hitam itu. Kalau tidak, hari ini aku pasti cacat atau mati.
Hebat juga jurus bibi kedua, aku sempat kagum, tapi perubahan mendadak membuat hatiku mencelos lagi.
Bayangan hitam itu ternyata belum hancur oleh cahaya perak, malah melayang-layang di depan mataku.
Ia berhenti, dan akhirnya aku bisa melihat jelas. Dalam kabut hitam itu tersembunyi wajah manusia, tanpa mata, tanpa hidung, hanya ada mulut. Mulut itu menatapku, lalu tiba-tiba terbuka lebar.
Semakin lama semakin besar, hingga mencapai batasnya, mengeluarkan suara tajam seperti mengancamku.
Jantungku mencelos, tapi dengan perlindungan cahaya perak, aku masih bisa menahan diri.
Tindakanku ini rupanya membuat mulut besar itu marah, ia kembali menganga, kulit di kedua sisi mulut mulai merekah, darah muncrat ke mana-mana, kulit wajahnya merekah dan akhirnya seluruh muka ditelan oleh mulut besar itu.
Kali ini aku benar-benar takut. Jika tadi mulut itu hanya pamer kekuatan, sekarang jelas-jelas bisa menelanku bulat-bulat!
Mulut besar, jauh lebih besar dari wajah manusia, meluncur ke arahku, seolah kekuatannya bertambah berkali lipat dalam sekejap.
Sekitar terasa semakin dingin, bulu kudukku pun berdiri semua.
Aku tidak yakin apakah cahaya perak bisa menahan, buru-buru meraih rajah pelindung di saku. Jika cahaya itu gagal, aku akan segera menggunakannya untuk menyelamatkan diri.
Mulut besar itu menabrak cahaya perak, jantungku hampir meloncat ke tenggorokan. Pada saat genting itulah, terdengar suara gemuruh menggelegar di telingaku.
“Makhluk terkutuk, berani-beraninya kau!”
Itu suara bibi kedua.
Sebuah rajah kuning menempel tepat pada hantu itu, keduanya terbakar habis tanpa sisa.
“Bibi, kenapa baru datang, aku hampir mati ketakutan!”
Ketegangan ini benar-benar luar biasa.
“Bukankah kau ingin melihat hantu? Aku biarkan kau lihat dengan jelas, sekalian mengetes nyalimu.”
Astaga, aku hampir mati ketakutan, ternyata hanya untuk menguji keberanianku.
“Bibi, bisakah kita jangan terlalu mengejutkan seperti ini?”
“Baru makhluk yang belum berbentuk, bahkan belum bisa disebut hantu kecil, sudah membuatmu ketakutan seperti ini!”
Tatapannya pada diriku seolah-olah berkata, dasar penakut.
“Heh, aku hanya belum pernah melihat sebelumnya!”
Dalam situasi seperti ini, tentu aku tidak boleh kalah.
Kupikir bibi kedua masih ingin bercanda, tapi wajahnya tiba-tiba berubah serius.
“Duduk diam, jangan bergerak sedikit pun. Sekarang yang besar benar-benar datang!”