Bab 29: Pemelihara Roh Jahat
Ucapan Su Xiaomei terdengar sangat masuk akal.
"Lalu, bagaimana kita harus menghadapi Makhluk Berkepala Kuda itu?"
Tidak bisa dibunuh, tapi juga tidak mungkin melepaskannya begitu saja, kan? Memeliharanya? Itu jelas lebih mustahil.
"Aku punya cara yang bagus untuk mengurusnya!" kata Su Xiaomei sambil menatapku dengan senyuman aneh di wajahnya. Entah kenapa, melihat senyum itu membuat bulu kudukku merinding.
"Aku berencana mengubahnya menjadi inti roh untukmu!"
"Inti roh? Aku tidak mau!"
Aku langsung menolaknya tanpa ragu.
Meski Makhluk Berkepala Kuda itu ingin membunuhku, aku bukan seperti Su Xiaomei yang bisa memakan arwah. Meski inti roh itu sudah diolah, aku tetap saja merasa tidak sanggup menerima hal itu.
"Kau yakin tidak mau? Memakan inti roh ini akan memberimu banyak keuntungan," katanya sambil mengayun-ayunkan bola hitam yang terbentuk dari Makhluk Berkepala Kuda itu di depanku.
"Apa keuntungannya?"
"Di dalam tubuhmu akan ada wadah untuk menampung energi arwah. Tanpa kehadiranku, kau tetap bisa menggunakan ilmu arwah!"
Kedengarannya memang menggiurkan, tapi itu tidak cukup untuk membuatku melanggar prinsipku.
"Tidak mau!"
"Jangan keras kepala!" Su Xiaomei mulai menunjukkan ekspresi serius.
"Kalau kau tidak memakannya, kita juga akan mendapat masalah. Menurutmu, jika satu petugas arwah menghilang, pihak Alam Kematian tidak akan menyelidikinya?"
Awalnya kukira Su Xiaomei sedang menipuku, tapi melihat keseriusannya, aku jadi tak bisa tidak mempercayainya.
"Kalau aku memakannya, mereka tidak akan menyelidiki?"
"Tentu saja. Aku akan menggunakan ritual rahasia untuk memindahkan identitasnya padamu. Mulai sekarang, kaulah petugas arwah Alam Kematian. Dengan begitu, posisi petugas itu tetap ada, dan kita tidak akan dicari-cari."
Dengan bujukan lembut Su Xiaomei, akhirnya aku menerima inti roh itu.
Su Xiaomei menggunakan ritual rahasia dan menanamkan inti roh itu ke dalam tubuhku.
***
Aku merasakan tubuhku diselimuti hawa dingin, seolah-olah seluruh badanku membeku menjadi serpihan es. Secara naluriah, aku ingin menggunakan kekuatan liontin giok untuk menghangatkan diri, tapi Su Xiaomei mencegahku dengan paksa.
"Tahanlah, ini bagian dari prosesnya!"
Dengan kekuatan tekad, aku bertahan walau merasa seperti sekarat. Akhirnya, hawa dingin itu perlahan-lahan menghilang, dan aku merasakan sesuatu yang baru di dalam tubuhku.
Ada beberapa kenangan samar milik Makhluk Berkepala Kuda itu, dan aku juga merasakan ada sebuah mutiara hitam di dalam pusat tenagaku.
"Inti roh ini sudah kuubah. Biasanya akan terbungkus energi arwahku. Jika kau ingin menunjukkan identitasmu sebagai petugas arwah, kau cukup membuka bungkusnya. Jika tidak, tutup saja!"
Su Xiaomei benar-benar memikirkan semuanya dengan matang. Dengan cara ini, pihak Alam Kematian tidak akan menyadari apa-apa dan tidak akan menimbulkan masalah.
Setelah semua urusan selesai, aku tertidur lelap. Saat terbangun, kulihat ponselku dan langsung terkejut—sudah sore di hari berikutnya.
Pagi ini ada jadwal kuliah. Berarti aku bolos! Celaka, bisa-bisa nilainya jelek! Aku buru-buru menelepon, dan mendapat kabar menggembirakan: hari ini dosen sedang baik hati, tidak absen.
Setelah makan, aku segera menyetir ke kampus. Sore ini ada mata kuliah Dasar-dasar Ideologi, yang dibimbing oleh dosen pria paruh baya yang sangat kaku, dengan rambut botak di tengah kepala. Dia benar-benar tidak bisa diajak kompromi, bolos pasti langsung tidak lulus!
Untungnya aku tidak terlambat. Teman-teman satu asrama sudah membantuku menempati kursi. Anehnya, yang masuk ke kelas bukan dosen botak itu, melainkan seorang gadis manis dengan wajah lembut.
"Halo semuanya, dosen pengampu kalian hari ini izin karena ada urusan. Aku pengganti hari ini, namaku Li Xue!"
Sambil berkata begitu, ia menuliskan namanya di papan tulis.
Li Xue? Nama itu terdengar sangat familiar. Kulihat lagi wajahnya dengan saksama—bukankah dia guru yang pernah kuselamatkan tempo hari?
Saat aku menatapnya, dia juga menatapku dan mengangguk sambil tersenyum tipis ke arahku.
Perasaanku langsung tidak enak. Benar saja, berikutnya perutku tiba-tiba terasa sakit luar biasa.
"Baru sebentar aku tidak muncul, kau sudah berani main mata dengan perempuan lain!"
Suara Su Xiaomei terdengar jelas dalam benakku.
"Tidak, benar, istriku sayang!"
"Masih bilang tidak? Kalau sudah sadar dan menyesal, baru datang padaku lagi!"
Rasa sakitnya memang tidak sekuat tadi, tapi tetap bertahan lama hingga aku terpaksa memegangi perut.
Langkah kaki lembut terdengar mendekat, dan ternyata Li Xue menghampiriku. Dia bertanya dengan khawatir apa yang terjadi padaku.
Tentu saja aku tidak bisa mengatakan apa-apa, hanya menjawab, "Tidak apa-apa!"
***
Beberapa saat kemudian, melihat sikapku sudah membaik, Su Xiaomei akhirnya melepaskan sanksinya.
Setelah pelajaran usai, Li Xue memanggilku untuk tetap tinggal. Ia bilang ingin mengajakku makan sebagai ucapan terima kasih karena pernah membantunya. Tentu saja aku harus menolak, sekarang yang paling kuinginkan adalah menjauh darinya sejauh mungkin. Setelah menolak dengan sopan, aku buru-buru berlari keluar dari kantor dosen.
Sial, kalau lambat sedikit pasti perutku sakit lagi.
Karena terburu-buru, aku keluar dari kantor dan hampir menabrak seorang gadis yang sedang membawa tumpukan buku. Aku tidak sempat mengerem, hingga menabraknya dan bukunya jatuh berserakan.
"Kau ini gimana sih jalannya? Tidak lihat-lihat!"
Suara gadis itu lembut tapi terdengar sedikit kesal.
"Maaf, biar aku bantu pungutkan!"
Aku segera menunduk dan membantu memunguti bukunya. Saat itu, mata kami bertemu.
"Shen Mengyao!"
"Lin Xing!"
Kami saling mengenali. Aku tidak menyangka akan bertemu Shen Mengyao di sini, dan bahkan menabraknya.
"Kok bisa kamu sih? Ceroboh banget!" kata Shen Mengyao, tapi sikapnya jadi jauh lebih ramah setelah tahu itu aku.
"Maaf, sungguh tidak sengaja!" ujarku pada Shen Mengyao, meski dalam hati aku sudah mencari-cari alasan untuk segera pergi.
"Karena kamu sudah salah, kamu harus menebusnya. Traktir aku makan, ya!"
"Maaf, hari ini aku ada urusan. Lain kali saja, ya!" jawabku cepat, lalu langsung bergegas pergi.
Baru berjalan tiga langkah, aku mendengar Shen Mengyao berkata pelan dari belakang, membuatku hampir terjatuh saking kagetnya.
"Lain kali juga boleh, asal kamu berani datang!"