Bab 109: Wanita yang Manja Selalu Mendapat Perhatian
Kalau bukan karena itu, dia tidak akan terburu-buru kembali secepat ini.
"Jadi, pria itu adalah orang yang ingin kau selamatkan?"
Tadi Yun Ying hanya sibuk memarahi Yun Ling, sehingga tidak menyadari ada orang di belakang adiknya. Saat tiba-tiba melihat kepala seseorang yang berambut hitam muncul dari balik punggung Yun Ling, amarahnya pun kian meluap.
Yun Ling menoleh ke arah Mo Nanshang di belakangnya, lalu mengangguk. "Ya!"
"Kau sudah gila, Yun Ling?" seru Yun Ying ketus. "Apa pelajaran dari keluarga Qing tempo hari belum cukup bagimu? Sekarang kau malah pergi ke Kunlun hanya karena dia. Sebenarnya apa yang ada di dalam kepalamu itu? Bagaimana jika ternyata dia orang jahat?"
"Kakak, bisakah kau tenang dulu?" ucap Yun Ling. "Dia sebenarnya sangat polos. Sekalipun dia bukan orang baik di masa lalu, kondisinya sekarang tidak akan membahayakan kita. Lagipula, aku dan dia punya takdir pertemuan, bukankah sudah seharusnya aku membantunya? Mengapa kau begitu marah?"
Yun Ying terdiam.
"A-Ling, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Yun Qinghua.
Melihat Yun Qinghua juga tampak bingung, Yun Ling pun menceritakan pertemuan mereka di hutan bambu hingga semua kejadian yang berlangsung di keluarga Qing. Setelah mendengarkan, kedua alis tebal Yun Qinghua seketika bertaut rapat.
"Jadi, pembatalan pertunangan yang diajukan oleh ketua klan Qing tempo hari, sebenarnya karena orang ini?" tanyanya.
"Benar, tapi juga tidak sepenuhnya benar," jawab Yun Ling samar. "Setengah dari penyebabnya adalah diriku sendiri, jadi pembatalan itu cepat atau lambat pasti akan terjadi, bahkan tanpa campur tangannya."
Yun Qinghua tentu memahami hal itu, namun ia tidak memiliki kesan baik terhadap pria yang dibawa pulang oleh Yun Ling. "Meski begitu, orang ini tidak boleh tinggal di Perguruan Qingfeng. Sebaiknya kau segera cari waktu untuk mengurusnya, jangan membawanya kembali lagi!"
Yun Ling menunduk, lalu berkata, "Baik, aku akan segera pergi untuk menempatkannya di suatu tempat."
Melihat Yun Ling tidak membantah, amarah Yun Ying akhirnya sedikit mereda. "Ingat, kembalilah lebih awal. Jangan pergi dan tidak pulang lagi. Ibu sudah lama sekali tidak melihatmu."
"Aku mengerti, aku pasti akan segera kembali. Kakak, sampaikan pada Ibu untuk tidak khawatir," ucap Yun Ling sambil melambaikan tangan, lalu pergi membawa pria itu.
Begitu sampai di bawah gunung, Yun Ling menitipkan Mo Nanshang di rumah seorang penduduk. Awalnya pria itu menolak, dan jika saja Yun Ling tidak berpura-pura marah, mungkin dia tidak akan tahu sampai kapan pria itu akan terus merengek.
"Jadilah anak baik. Kakak ada urusan, kau tunggulah di sini dulu," bujuk Yun Ling. "Setelah urusanku selesai, aku akan menjemputmu, ya!"
"Nona Muda Kedua Yun, jangan khawatir. Kami berdua pasti akan merawat tuan muda ini dengan baik, kami tidak akan membiarkannya menderita sedikit pun!" janji seorang wanita penduduk setempat.
"Kalau begitu, merepotkan Anda, Bibi!" Yun Ling tersenyum. "Ini sedikit tanda kasih dariku, simpanlah. Jika dia butuh makan atau pakaian, gunakan saja uang ini untuk membelikannya. Jika kurang, kirimkan saja surat lewat merpati, aku akan mengantarkannya langsung!"
Setelah semuanya beres, Yun Ling pun terbang dengan pedangnya kembali ke atas gunung. Namun, di luar dugaannya, baru saja ia melangkah pergi, Mo Nanshang sudah membuntutinya dari belakang, seperti ekor kecil yang tak bisa dilepaskan.
Jika saja murid perguruan yang berjaga tidak melihatnya dan segera mencegatnya di depan gerbang, Yun Ling mungkin tidak akan pernah tahu bahwa pria itu diam-diam mengikutinya naik ke gunung.
"Sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Yun Ling kepada Mo Nanshang. "Bukankah sudah kubilang tunggu di sana? Aku akan menemuimu kalau ada waktu, kenapa kau malah mengikuti sampai ke sini? Apa kau ingin membuatku mati kesal?"
"Kakak Perguruan Kedua, siapa orang ini?" tanya seorang murid di sampingnya karena penasaran.
Melihat pergantian penjaga gerbang, Yun Ling menjelaskan, "Aku tidak kenal. Kalian jagalah dia baik-baik, jangan biarkan dia masuk, atau aku akan menghukum kalian."
"Baik!" jawab kedua murid itu dengan hormat.
Mo Nanshang menatap Yun Ling yang tampak marah dengan wajah sedih, berdiri mematung sambil menatap punggung Yun Ling yang menjauh tanpa mau beranjak. Salah satu murid yang kasihan melihat tatapan pria itu berkata, "Tuan muda, aku sarankan kau pergi saja. Ini adalah area terlarang Perguruan Qingfeng, orang asing tidak diizinkan masuk. Pulanglah ke tempat asalmu, jangan buat keluargamu cemas."
Namun, Mo Nanshang seolah tidak mendengar. Matanya terus terpaku ke arah kepergian Yun Ling. Kedua murid itu akhirnya menyerah karena pria itu tetap bergeming seperti kayu.
"Sudah selesai urusannya?" tanya Yun Ying saat melihat Yun Ling kembali.
Yun Ling mengambil teko di atas meja, menuangkan teh, lalu menjawab dengan ragu, "Ya!"
Mendengar jawaban yang tidak jelas itu, Yun Ying tahu ada yang tidak beres. "Kau tempatkan dia di mana?"
"Di rumah petani di kaki gunung!"
"Seseorang, kemari!" teriak Yun Ying ke arah luar.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Yun Ling.
"Menurutmu?" sahut Yun Ying.
"Baik, baik, aku mengaku," Yun Ling mengangkat kedua tangannya dengan pasrah. "Jangan panggil siapa-siapa!"
"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi!" desak Yun Ying.
"Sebenarnya tidak ada apa-apa," jawab Yun Ling tak berdaya. "Hanya saja setelah aku menempatkannya, dia diam-diam mengikutiku kembali ke atas gunung."
Yun Ying terdiam.
"Lalu di mana dia sekarang?"
Tangan Yun Ling yang memegang cangkir teh terhenti sejenak. "Dihadang oleh para murid di depan gerbang!"
"Hei, kau mau ke mana!" Yun Ling segera menarik tangan Yun Ying saat kakaknya itu tiba-tiba bangkit dari bantalan duduk.
"Mengusirnya!" jawab Yun Ying dengan nada garang.
Yun Ling terdiam sejenak, lalu mencegahnya, "Sudahlah, jangan ke sana. Biarkan saja dia berdiri di luar. Kalau dia sudah lelah, dia akan pergi sendiri. Jangan terlalu dipikirkan!"
Yun Ying menatapnya tajam. "Sepertinya kau takut aku akan melukai si bodoh itu, ya!"
Yun Ling terdiam.
"Sudahlah, Kak, jangan bahas itu lagi!" Yun Ling segera mengalihkan pembicaraan. "Bukankah kau bilang Ibu sudah lama tidak melihatku dan merindukanku? Bagaimana kalau temani aku mengunjunginya?"
"Pergilah sendiri!" jawab Yun Ying ketus. "Aku tidak mau menemanimu!"
"Aduh, Kakak, temani aku ya!" Yun Ling merengek sambil mengguncang tangan Yun Ying.