Bab 1 Pesta Seribu Tahun
Saat titik balik musim panas tiba, bulan keenam, cuaca sedang dalam puncak teriknya.
Hari ini adalah pesta ulang tahun seribu tahun milik Nona Kedua keluarga Yun, Yun Ling, dari Sekte Angin Sejuk.
Lebih dari itu, hari ini juga hari yang tepat untuk memilih calon suami!
Para kepala sekte dari berbagai keluarga abadi pun membawa putra-putra mereka serta para murid utama sejak pagi hari untuk datang memberi selamat, suasananya begitu meriah!
Sayang sekali, sang pemilik hajatan sendiri tampak tak begitu berminat pada urusan ini, bahkan terlihat sedikit jengkel.
Sejak pagi, dia sudah menghilang tanpa jejak.
Menjelang malam, Yun Ying melintas dari koridor tak jauh dari sana dan melihat Yun Ling tengah duduk melamun di atas atap rumah. Ia tak tahan untuk berseru, "Hei, A’Ling, apa yang kau lakukan di atas sana? Ayah dan Ibu sudah mencarimu sejak lama di luar, kenapa tidak keluar juga?"
"Mencari aku untuk apa?" tanya Yun Ling. Wajahnya begitu cantik, sepasang matanya yang indah seolah mampu memikat jiwa siapa pun yang menatapnya.
Tubuhnya yang ramping, dipadu dengan pakaian ungu yang dikenakannya, membuatnya tampak seperti peri malam hari.
Rambut hitam panjang yang dibiarkan terurai tanpa hiasan, hanya diikat dengan tusuk rambut dari kayu cendana dan pita ungu di belakang kepala.
Namun, walau hanya berdandan sederhana, kecantikannya tetap tak tersamarkan.
Siapa pun yang melihatnya pasti merasa iri, terutama para wanita!
"Kira-kira menurutmu untuk apa?" Yun Ying melompat dan berdiri di hadapannya. "Hari ini kan ulang tahun seribu tahunmu, Ayah dan Ibu sedang membantumu memilih calon suami."
"Kau malah sembunyi di sini, apa kau berniat untuk tak muncul sama sekali?"
"Siapa bilang aku ingin memilih calon suami, Kakak?" Yun Ling mengerutkan kening, tak senang. "Jangan-jangan kau sendiri sudah memilih?"
"Ehem!" Yun Ying terbatuk dibuatnya. "A’Ling, aku sedang membicarakan urusanmu, kenapa jadi menyeret-nyeret aku? Jangan lupa, kita ini perempuan. Cepat atau lambat pasti harus menikah."
"Aku tahu!" Yun Ling menundukkan pandangannya, menggoda, "Tapi kan Kakak juga belum menikah, jadi urutannya pasti bukan aku, kan? Hihi!"
"Kau ini!" Yun Ying benar-benar dibuat kewalahan oleh ucapan Yun Ling. Ia sengaja memasang wajah serius, "Jadi, kau mau ikut aku keluar atau tidak?"
"Tidak usah!" Yun Ling berdiri, merapikan kerah pakaiannya. "Lebih baik kau saja yang keluar. Takutnya kalau aku ikut, Kakak jadi kalah bersinar."
Yun Ying hampir saja tertawa karena gemas. "Gayamu yang suka pamer ini benar-benar menyebalkan. Tapi karena hari ini ulang tahunmu, aku maafkan."
"Tapi hari ini kau harus ikut keluar menemu para tamu!"
"Sepertinya Kakak akan kecewa," ujar Yun Ling sambil tersenyum. Begitu suaranya selesai, tubuhnya mendadak menghilang di dalam kegelapan malam.
Yun Ying pun hanya bisa mendengus kesal.
Ia berdiri di atas atap, menggigit bibir, dan menghentakkan kaki pelan-pelan untuk melampiaskan kekesalan.
...
Yun Ling tersenyum tipis. Meski ia tak melihat wajah Yun Ying yang sedang kesal, ia bisa membayangkan betapa pipi kakaknya pasti sudah menggembung karena marah. Membayangkannya saja sudah membuat Yun Ling tertawa dalam hati.
Bahkan rumput liar di tangannya pun terasa lebih menarik.
"Brak!"
Tiba-tiba suara keras terdengar di belakang, membuat Yun Ling terkejut hingga rumput di tangannya terjatuh ke tanah.
Ia menoleh dan melihat seorang asing tiba-tiba muncul di jalan yang baru saja ia lewati.
Alis matanya langsung berkerut.
Ia segera mengeluarkan batu malam bercahaya dari tubuhnya dan mendekat, melihat orang itu tergeletak miring di antara semak belukar bambu. Rambut panjang dan hitamnya menutupi sebagian wajah yang pucat.
Bahkan di malam gelap, aroma darah yang kental tetap terpancar dari tubuhnya.
Yun Ling bukan tipe yang suka mencari masalah, apalagi punya rasa kasihan berlebihan.
Terlebih lagi, kehadiran orang ini di tempat itu saja sudah terasa tidak wajar.
Awalnya, ia tidak berniat menolong, hendak membiarkan orang itu mati sendirian di sana.
Namun, saat ia hendak pergi, lelaki itu tiba-tiba meraih ujung gaunnya.
"Tolong aku!"
Meski kata-katanya meminta tolong, nada bicaranya justru seperti memerintah.
Bagaikan seorang raja!
Sungguh membuat bulu kuduk berdiri!
Yun Ling dikenal berjiwa bebas. Meski ia perempuan, sifatnya keras dan pantang dipaksa.
Semakin didesak, semakin ia tak mau membantu.
Jelas sekali, lelaki itu telah menyentuh batas kesabarannya.
Yun Ling mengerutkan kening, berusaha menarik gaunnya yang dicengkeram kuat, mulai merasa kesal.
Ia menendang lengan lelaki itu pelan, "Lepaskan! Kalau tidak, jangan salahkan aku bertindak kasar!"
"Tolong aku!"
Orang itu tampaknya sama sekali tak menghiraukan ancaman Yun Ling, malah kembali memerintah.
Yun Ling makin tak sabar, langsung mencabut belati tajam dari belakang punggung, berniat memotong kain gaunnya yang dicengkeram lelaki itu.
Tak disangka, lelaki itu seperti menyadari bahaya, tiba-tiba membuka mata dan mencengkeram tangan Yun Ling yang memegang pisau.
Saat itulah Yun Ling baru menyadari, mata lelaki itu berwarna merah, seperti dua butir permata rubi, sangat memikat dan menggoda.
Yun Ling sempat terpaku beberapa saat.
Baru setelah itu ia sadar ada yang tidak beres.
Sepertinya ia dikendalikan.
Yun Ling berusaha keras menggelengkan kepala, ingin melepaskan diri dari kendali itu.
Sayangnya, dengan tubuhnya yang sekarang, ia sama sekali tidak berdaya!
Akhirnya, ia hanya bisa pasrah melihat tubuhnya dikendalikan lelaki itu, membantunya berjalan perlahan menembus hutan, hingga sampai ke tempat sunyi.
Tempat itu bahkan belum pernah dikunjungi Yun Ling.
Yang membuatnya semakin curiga, lelaki itu tampak sangat mengenal setiap sudut sekitar Sekte Angin Sejuk keluarga Yun.
Bahkan formasi labirin terkuat pun mampu ia lewati.
Kewaspadaan pun muncul di hati Yun Ling. Sambil memapah lelaki itu duduk di dalam gua, ia diam-diam mengerahkan kekuatan spiritual untuk mencoba melepaskan diri dari kendali tersebut.
"Ugh!"
Mungkin karena ia terlalu kuat mengerahkan kekuatan spiritual, pengaruh lelaki itu atas dirinya pun terguncang. Lelaki itu tiba-tiba memuntahkan darah dan pingsan.
Yun Ling pun berhasil membebaskan diri.
Namun, ia tidak langsung pergi. Sebaliknya, ia malah berjongkok di depan lelaki itu dan memeriksa keadaannya.
Meski wajah lelaki itu sangat pucat, tetap saja tak bisa menutupi ketampanan yang dingin dan memikat. Jelas lelaki ini terluka parah.
Namun, seorang pemuda bermata aneh yang tiba-tiba muncul di dalam formasi keluarga Yun dengan luka parah seperti ini, jelas bukan kebetulan.
Siapa tahu ia ada hubungannya dengan kaum iblis!
Pikiran Yun Ling dipenuhi kegelisahan.
Beberapa saat kemudian, pemuda yang tadi muntah darah itu perlahan sadar.
Yun Ling segera berdiri dan mencabut pedang di pinggangnya, bertanya dengan waspada, "Siapa kau sebenarnya? Kenapa ada di sini?"
Tak disangka, lelaki itu tiba-tiba memeluk kakinya dan dengan suara lemah memanggil, "Kakak!"
Sepasang mata merah yang semula terlihat menakutkan kini berubah menjadi hitam.
Benar-benar seperti dua orang yang berbeda dengan pemuda dingin di hutan bambu tadi.