Bab 9 Pertemuan Pertama
Kakek itu menghela napas dan berkata, "Ah, tentu saja aku takut, tapi aku sudah hidup di sini hampir enam puluh tahun, mana mungkin aku rela meninggalkannya? Lagipula, kalau aku pergi, bagaimana dengan istriku? Dia masih di sini, aku takut kalau aku pindah, nanti dia tidak akan bisa menemukanku lagi!"
Yun Ling mengikuti arah pandangan kakek itu dan melihat ke kejauhan. Ia melihat sebuah gundukan kuburan menyerupai bukit berdiri tidak jauh dari sana, seketika ia pun mengerti alasan kakek itu enggan meninggalkan tempat ini.
Mata besarnya yang gelap bersinar dengan senyum tipis, bibirnya terangkat, "Sepertinya dulu kakek dan nenek punya hubungan yang sangat baik, ya."
Kakek itu tersipu dan tertawa pelan, "Nona, kau pasti datang ke sini untuk berwisata, ya?"
Yun Ling menjawab, "Benar, Kakek. Bisakah kau mengantarku menyeberang dengan perahumu ke seberang sana?"
"Sebaiknya kau pulang saja," ujar kakek itu tegas. "Sekarang Gunung Penakluk Setan sudah berbeda dari dulu. Kau hanya seorang gadis muda, sangat berbahaya pergi ke sana. Lebih baik jangan."
Yun Ling berkata, "Tidak apa-apa, Kakek. Kau cukup antar aku menyeberang saja."
Menghalau iblis dan setan memang adalah tugas yang sudah sepantasnya dilakukan oleh para anggota sekte abadi mereka.
Bagaimana mungkin ia mundur?
Kakek itu ragu, "Tapi..."
Yun Ling berkata, "Kalau Kakek tidak mau atau takut, bagaimana kalau begini saja, aku sewa saja perahu kayu ini darimu? Ini uang mukanya, nanti aku pasti akan mengembalikan perahu ini padamu dalam keadaan utuh."
Yun Ling mengeluarkan beberapa keping perak dari lengan bajunya dan menyerahkannya pada si kakek dengan wajah ceria.
Kakek itu mengernyit, melihat gadis kecil di depannya itu sudah mantap dengan keputusannya untuk pergi ke Gunung Penakluk Setan, dan dirinya pun tak bisa membujuknya. Ia menghela napas pelan dan akhirnya mengalah.
"Baiklah!"
Ia mengambil perak dari Yun Ling, kemudian berdiri memandangi punggung gadis itu yang perlahan menjauh, kepalanya terus menggeleng sambil menghela napas.
Seolah kepergian gadis itu adalah untuk selamanya.
...
Di kaki Gunung Penakluk Setan terbentang sebuah danau yang luas, di sekeliling danau tumbuh pohon-pohon willow, rantingnya menari-nari ditiup angin, laksana gadis-gadis menari anggun di tepian. Di sampingnya terdapat beberapa gazebo.
Di bawah gazebo terikat banyak perahu.
Biasanya para sastrawan dan pelajar setempat suka berperahu di danau, berpantun, menikmati keindahan sekitar, suasananya begitu ramai.
Namun kini gazebo-gazebo itu tampak sepi, tak berpenghuni, perahu-perahu yang terikat pun hanyut ke sana ke mari di permukaan danau, semakin menambah kesan sunyi dan gersang.
Pohon willow di tepi danau pun diam tak bergerak.
Suasananya begitu muram!
Yun Ling mendayung perahu kecilnya ke kaki Gunung Penakluk Setan, melihat puncak gunung itu tertutup awan hitam pekat, di antara dua puncak gunung awan hitam itu berputar-putar, seolah seluruh puncak diselimuti secara khusus, bahkan dari kejauhan tidak terlihat apa pun di dalamnya.
Gunung Penakluk Setan serasa terisolasi dari pegunungan lain di sekitarnya.
Benar-benar terasa terasing.
Yun Ling menatap tajam, melangkah mantap ke dalam pegunungan.
Setiap langkah yang ia ambil, kegelapan di dalam makin pekat.
Ia mengerutkan kening, segera menyadari ada kejanggalan. Ia menoleh ke belakang, dan melihat di kejauhan hanya tinggal satu titik putih kecil.
Ia tahu dugaannya benar.
Gunung Penakluk Setan memang telah dipisahkan dari dunia luar oleh sesuatu, tak heran gunung ini dilingkupi awan hitam sendirian.
Kalau tidak, mana mungkin gunung ini begitu berbeda dari pegunungan lain di sekitarnya.
Tampaknya iblis di gunung ini bukan iblis biasa.
Ia menundukkan pandangan, terus melangkah ke depan.
Sampai akhirnya seluruh tubuhnya benar-benar terbenam dalam kegelapan, tak mampu melihat apa pun di sekitarnya.
Ia hanya bisa mengandalkan kelima indranya.
Saat itu, angin berhembus kencang di dalam hutan, padahal ini tengah musim kemarau di bulan Juni, tetapi di dalam gunung ini, tak terasa panas sama sekali, justru hawa dingin menusuk tulang, seperti di musim dingin, begitu lembab dan sunyi.
Tiba-tiba terdengar suara ranting kering patah, "krek," menggema di seluruh hutan.
Burung-burung di pepohonan seketika beterbangan keluar dari hutan.
Yun Ling menunduk melihat kakinya, baru hendak mendongak, tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang aneh di depan sana.
Tanpa ragu sedikit pun, ia segera mencabut pedang Suyue di pinggangnya dan melompat mundur beberapa langkah, lalu mendongak dan melihat sepasang mata merah menyala seperti lentera menatapnya dari kegelapan.
Mata besar hitam Yun Ling memancarkan keterkejutan.
Sejak kecil ia sudah sering turun gunung membasmi iblis dan setan, sudah banyak makhluk aneh yang pernah ia lihat, tapi belum pernah ada iblis bermata sebesar ini, bahkan membuat hatinya bergetar.
Dan lagi!
Makhluk apa ini?
Ia mengernyit, samar-samar merasakan ada sesuatu di bawah pedangnya. Ia dengan sigap mengeluarkan mutiara malam dari dadanya dan sekilas melihat sekitar, ternyata di sekelilingnya berserakan bangkai ular besar.
Tubuh-tubuh itu tergeletak sembarangan, seluruh otaknya habis dimakan, sungguh mengerikan.
Tak perlu berpikir panjang, Yun Ling tahu otak-otak ular itu pasti dimakan iblis itu.
Saat ia masih merasa ngeri, tiba-tiba makhluk tersebut menyerangnya dengan ganas.
Yun Ling mengangkat kepala, mengayunkan pedang Suyue di tangannya, dengan cepat menghindar.
Ia merasakan kekuatan makhluk itu jauh dari biasa.
Ia sadar, hari ini, dengan kekuatannya sendiri, menaklukkan makhluk ini jelas sangat sulit.
Baru saja hendak mundur, makhluk itu malah tak memberi sedikit pun kesempatan, terus menekannya tanpa henti.
Sial!
Makhluk ini apa sudah jadi dewa, ya? Susah sekali ditaklukkan!
Yun Ling menggenggam erat pedang Suyue di tangannya, beberapa kali berusaha melawan dan mencari jalan keluar.
Namun semuanya gagal, bahkan tubuhnya sudah dipenuhi luka.
Ia benar-benar kelabakan.
Hal ini membuatnya kesal.
Yun Ling selalu merasa kemampuan dan kekuatan dirinya jauh di atas para kakak seperguruan di Gerbang Angin Sejuk, bahkan ayahnya memujinya sebagai bakat istimewa di dunia persilatan.
Namun sekarang, ia malah dipukul mundur tanpa henti oleh makhluk ini, sampai ia mulai curiga, jangan-jangan selama ini para kakak seperguruannya diam-diam mengalah padanya setiap latihan.
Kalau tidak, mana mungkin ia bisa dipermainkan makhluk ini sampai sebegini parah!
Yun Ling menggenggam erat pedang Suyue, menghapus darah di sudut bibirnya, terus menghindar sambil mencari kesempatan untuk melawan.
"Phu!"
Namun, tetap saja, di bawah serangan bertubi-tubi dari makhluk itu, ia tak mampu bertahan, darah segar muncrat dari mulutnya.
Seluruh dadanya terasa panas dan perih, seperti dibakar api.
Namun makhluk itu tak memberinya waktu untuk bernapas, sekali kibasan ekor langsung menyerang lagi.
Yun Ling menahan dada, tahu tak bisa menghindar, mengangkat pedang Suyue di tangannya bersiap bertahan.
"Braakk!"
Tiba-tiba, cahaya putih menyambar dari langit, menghantam ekor makhluk itu dan memaksanya mundur.