Bab 104: Melepaskan Diri

Catatan Bunga Ungu Mu Shuangxue 2403kata 2026-03-31 21:40:06

Qing Moran: "Ayah, hubungan Ayah dengan Pemimpin Sekte Hua ini..."

Qing Zihong: "Beliau adalah Uak Guru Agung kalian."

"Uak Guru Agung?"

Qing Moran dan Qing Chen saling berpandangan.

"Dulu, Uak Guru Agung kalian dan kakek kalian adalah saudara seperguruan. Mereka adalah murid-murid terbaik di Sekte Pedang Dewa, dan dikenal dengan sebutan Hua Qing. Hanya saja, Uak Guru Agung kalian adalah orang yang sangat kompetitif di dalam sekte. Apa pun yang dilakukannya, ia selalu berusaha keras untuk menjadi yang terbaik dan nomor satu. Sebaliknya, kakek kalian tidak memiliki ambisi sebesar itu. Beliau melakukan segala sesuatu hanya demi ketenangan hati. Karena hal inilah Uak Guru Agung kalian sering mengomelinya.

Sementara itu, Leluhur Guru kalian adalah orang yang menyukai ketenangan. Beliau tidak menyukai sikap Uak Guru Agung kalian yang selalu ingin menang sendiri dalam segala hal. Karena itu, saat Leluhur Guru kalian wafat, beliau tidak mewariskan posisi ketua sekte kepada Uak Guru Agung kalian, melainkan kepada kakek kalian.

Uak Guru Agung kalian selalu merasa tidak adil karena hal ini. Tidak lama kemudian, ia meninggalkan Sekte Pedang Dewa dan mendirikan sektenya sendiri, yang tak lain adalah Sekte Dewa Taihe yang terlibat dalam pertempuran besar melawan Klan Iblis kala itu!"

Meskipun Qing Zihong menceritakannya dengan nada yang tenang dan santai, dari perkataannya mereka bisa menebak betapa sengit dan berbahayanya perebutan posisi ketua sekte kala itu.

"Dengan begitu, Uak Guru Agung kalian membangun dan memperluas Sekte Dewa Taihe selangkah demi selangkah hingga menjadi sangat besar. Ia bahkan melarang siapa pun mengatakan bahwa ia berasal dari Sekte Pedang Dewa. Setelah kakek kalian mengambil alih posisi ketua sekte dan mendengar kabar ini, beliau turun gunung berkali-kali untuk mencarinya. Kakek kalian berkata bahwa beliau bersedia menyerahkan posisi ketua sekte kepadanya agar beliau bisa berkelana menjelajahi dunia. Namun, karena masalah posisi ketua Sekte Pedang Dewa itu, Uak Guru Agung kalian selalu menaruh dendam pada kakek kalian dan sama sekali tidak sudi menemuinya.

Keduanya saling bersitegang seperti itu selama ratusan tahun, hingga akhirnya Uak Guru Agung kalian menjalin hubungan dengan seorang wanita dari kalangan rakyat jelata. Barulah setelah itu hubungan antara Uak Guru Agung dan kakek kalian sedikit membaik.

Namun, dalam hatinya, Uak Guru Agung kalian tetap tidak bisa merelakan hal itu. Tidak lama setelah mereka berdamai, dalam sebuah perjamuan, Uak Guru Agung kalian mengusulkan untuk menyerang Klan Iblis. Kakek kalian merasa ambisinya terlalu besar, sehingga beliau tidak menyetujuinya dan bahkan menasihati sekte-sekte dewa lainnya untuk mempertimbangkan hal tersebut dengan matang.

Karena hal itu, Uak Guru Agung kalian bertarung sengit secara pribadi dengan kakek kalian. Segala komunikasi di antara mereka terputus sejak saat itu. Baru setelah Hua Sang, putra Uak Guru Agung kalian sekaligus paman seperguruan muda kalian, tewas diracuni orang, kakek kalian pergi mengunjungi Sekte Dewa Taihe. Namun pada saat itu, rambut Uak Guru Agung kalian telah memutih dalam semalam, dan semangat hidupnya sangat merosot, tidak ada lagi ambisi untuk bersaing seperti dulu.

Kakek kalian merasa sangat sedih melihat keadaannya, lalu bersumpah akan membantunya menemukan pembunuh yang telah meracuni paman seperguruan muda kalian. Siapa sangka, pada saat itulah Klan Iblis menyatakan perang terhadap sekte-sekte dewa, sehingga penyelidikan kasus tersebut akhirnya terbengkalai. Kakek kalian sendiri gugur dalam pertempuran besar itu karena menderita luka parah demi menyelamatkan Uak Guru Agung kalian.

Dalam pertempuran besar itu pula aku menyaksikan betapa busuknya tabiat banyak orang dari sekte-sekte dewa. Setelah membawa jasad kakekmu kembali ke Sekte Pedang Dewa, aku tidak pernah lagi mencampuri urusan duniawi. Sungguh tidak kusangka setelah seratus tahun berlalu, Uak Guru Agung kalian ternyata masih hidup di dunia ini. Tampaknya ini semua sudah kehendak langit, kehendak langit!"

Qing Moran: "Ayah, kalau begitu, apakah kabar mengenai hancurnya Empat Sekte Dewa Besar kali ini harus diumumkan kepada publik?"

Orang-orang dari berbagai sekte dewa terus menekan Klan Qing karena masalah ini. Mereka ingin Klan Qing setuju untuk menyatakan perang terhadap Klan Iblis. Jika tidak ada penjelasan yang masuk akal dan kebenaran yang diungkapkan, cepat atau lambat hal ini akan memicu ketidakpuasan semua orang!

"Mengenai masalah ini, Ayah sudah punya rencana sendiri. Kalian berdua keluarlah terlebih dahulu!" kata Qing Zihong.

Qing Moran dan Qing Chen menundukkan pandangan mereka secara bersamaan, lalu berbalik dan melangkah keluar dengan pedang di tangan masing-masing.

...

"Ini sudah berlalu dua atau tiga bulan. Kebenaran di balik hancurnya Empat Sekte Dewa Besar seharusnya sudah tersingkap dengan jelas, tetapi Klan Qing masih belum juga mengumumkannya. Menurutmu, apa mereka lupa?" tanya Yun Ying.

Yun Ling: "Mungkin ada urusan lain yang menundanya!"

"Tapi selama dua atau tiga bulan ini, aku tidak mendengar ada kejadian besar apa pun di Klan Qing. Bagaimana bisa mereka lupa?" kata Yun Ying. "Mungkinkah mereka... uek... uek..."

Melihat kakaknya terus-menerus mual dan ingin muntah, Yun Ling segera meletakkan mangkuk dan sumpitnya, lalu mengusap punggung kakaknya seraya bertanya, "Kakak kenapa? Kak, apa makanan hari ini tidak sesuai dengan seleramu?"

Yun Ying mengusap dadanya, lalu tersenyum penuh arti. "Tidak apa-apa, hanya saja kamu akan segera menjadi seorang bibi!"

"Bibi?"

Yun Ling tertegun selama beberapa detik, lalu segera mengalihkan pandangannya ke perut kakaknya dan bertanya dengan ragu, "Kakak... Kakak hamil?"

"Ya!"

Yun Ying mengangguk dengan malu-malu.

"Ya ampun, cepat sekali? Haha, Kakak Seperguruan hebat sekali."

Yun Ying memelototinya dengan malu-malu.

Yun Ling sama sekali tidak peduli dan segera berkata, "Sini, sini, biarkan calon bibinya ini mendengar apakah anak nakal di dalam sana patuh atau tidak!"

"Usianya baru berapa, apa yang mau kamu dengar!" Meskipun berkata demikian, Yun Ying tidak menghentikannya.

"Sudah berapa lama?" Yun Ling mendongak menatap Yun Ying.

"Tabib bilang sudah lebih dari sebulan," kata Yun Ying dengan wajah penuh kebahagiaan dan senyuman.

"Lalu, apakah Kakak Seperguruan sudah tahu?" tanya Yun Ling penasaran.

"Ya!"

Saat Mu Yan mendengar kabar kehamilan Yun Ying dari mulut sang tabib kala itu, ia begitu gembira hingga bertingkah hampir seperti orang bodoh. Hal itu membuat Yun Ying tidak bisa melupakan ekspresi konyol suaminya sampai sekarang.

"Kalau begitu, Kakak harus sangat berhati-hati mulai sekarang," kata Yun Ling. "Sekrang Kakak tidak lagi sendirian, melainkan berbadan dua. Kakak harus makan dengan baik, tidur dengan nyenyak, dan menjaga diri dengan baik. Dengan begitu, Kakak bisa melahirkan keponakan laki-laki atau perempuan yang gemuk dan sehat untukku, mengerti?"

"Bagaimana denganmu?" Yun Ying mengelus perutnya lalu bertanya, "Kapan kamu berencana untuk menikah?"

Yun Ling: "Aku... untuk saat ini belum memikirkan hal itu!"

"Jangan berpura-pura di hadapanku!" kata Yun Ying. "Jangan kira aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikiranmu. Karena kamu dan Tuan Muda Kedua Qing tidak berjodoh, carilah jodoh yang lain. Mengapa harus terpaku pada satu orang saja?"

Yun Ling: "..." "Kak, apa yang Kakak katakan? Kapan aku terpaku pada Tuan Muda Kedua Qing? Hubunganku dengannya paling-paling hanya sebatas hubungan sesama rekan seperguruan, tidak seperti yang Kakak katakan. Jangan menebak yang tidak-tidak."

"Benarkah?" Yun Ying tampak kurang percaya. "Lalu kenapa sebelumnya kamu terus mengejar Tuan Muda Kedua Qing tanpa henti? Ke mana pun dia pergi, kamu selalu mengikutinya. Sampai-sampai aku sempat mengira kamu bukan lagi anggota Klan Yun kita, melainkan pengikut setia Tuan Muda Kedua Qing!"

"Kakak benar-benar salah paham padaku!" kata Yun Ling. "Sebelumnya aku terpaksa bekerja sama dan pergi bersamanya karena ada urusan penting yang harus diselesaikan. Bisakah Kakak tidak merendahkanku seperti itu? Aku sama sekali bukan pengikut setianya!"

"A Ling, kamu adalah orang yang memiliki kepribadian dan pemahaman yang sangat baik. Tuan Muda Kedua Qing berbeda darimu. Dia adalah teladan di Sekte Pedang Dewa, sekaligus panutan bagi berbagai sekte dewa. Kalian berdua memiliki watak yang sangat berbeda dan berasal dari dunia yang berbeda."

Kali ini, Yun Ying tiba-tiba menjadi sangat serius, senyum di wajahnya seketika memudar. "Kelak ia harus memikul tanggung jawab atas pasang surutnya seluruh sekte dewa, ia tidak akan memiliki banyak waktu untuk urusan asmara. Jika kamu memang tidak memiliki perasaan seperti itu kepadanya, sebaiknya segeralah menarik diri agar tidak terluka!"