Bab 29: Pemenuhan Hasrat
“Cheng Xiao, ini maksudnya…?” tanya Fang Bai dengan suara rendah.
Lin Yucheng tampak terkejut. “Dia mabuk?”
Tangan Cheng Xiao masih menarik-narik Lu Jiunian. Lu Jiunian tersenyum polos dan lugu, seolah-olah ia sama sekali tidak peduli pada Cheng Xiao, dan telah memutuskan untuk tetap diam.
Bodo amat, apa urusannya dengan dia?
Dia sedang menunggu untuk menonton pertunjukan, kok.
Cheng Xiao terkekeh pelan, lalu menarik Lu Jiunian dengan kuat hingga bahu Lu Jiunian merosot ke arahnya.
Ia mengubah sudut pandang agar tidak tertangkap kamera, lalu mencondongkan tubuh ke telinga Lu Jiunian.
“Bantu aku.”
Lu Jiunian berbisik, “Tidak.”
Cheng Xiao mendecih pelan, lalu berbisik lagi, “Kalau begitu, aku gigit ya?”
Pupil mata Lu Jiunian melebar: “Apa kau sudah tidak punya rasa malu?”
Cheng Xiao tidak menghiraukannya, ia justru mengembuskan napas ke pangkal telinga Lu Jiunian.
Lu Jiunian mengatupkan giginya rapat-rapat.
Cheng Xiao membuka bibirnya…
“Itu!” Lu Jiunian tiba-tiba duduk tegak, menekan bahu Cheng Xiao dan mendorongnya menjauh. “I-iya… dia memang mabuk.”
Orang-orang lain terkejut dengan tindakan mendadaknya itu dan segera menoleh ke arahnya.
“Toleransi alkoholnya sangat buruk, kalau mabuk dia suka mengigau,” karang Lu Jiunian asal.
Mendengar itu, tim sutradara saling berpandangan dan berdiskusi sejenak. Setelah beberapa saat, mereka berkata kepada semua orang.
“Kalau begitu, syuting hari ini sampai di sini saja. Jadwal syuting kita besok dimulai cukup pagi, jadi silakan istirahat lebih awal malam ini.”
Semua orang bersorak kecil, lalu beranjak berdiri. Para asisten dan manajer segera bergegas datang untuk membantu merapikan barang agar artis mereka bisa segera kembali untuk mandi dan tidur.
“Hmm… butuh bantuan? Jiunian?” Heng Shao yang pulang paling terakhir bertanya dengan perhatian sebelum pergi.
Saat ini Cheng Xiao sedang menempel pada Lu Jiunian seperti gurita. Lu Jiunian menahan keinginan untuk menendangnya, lalu menurunkan tangan Cheng Xiao yang sedang meraba-raba wajahnya. Ia menggenggam tangan itu dan tersenyum pada Heng Shao.
“Tidak apa-apa, kamu pulang saja dan istirahat. Aku bisa membawanya kembali sendiri.”
Heng Shao mengangguk, berpamitan kepada keduanya, lalu meninggalkan lokasi.
Lu Jiunian menarik napas dalam-dalam dan memapah tubuh yang terkulai lemas itu di bahunya. Untuk pertama kalinya, ia merasa keputusannya untuk tidak memiliki asisten adalah kesalahan besar.
Pintu kamar terbuka dengan goyah. Lu Jiunian berbalik dengan susah payah, lalu menendang pintu hingga tertutup.
Orang di punggungnya masih menempel, tanpa niat untuk bergerak sama sekali.
“Kau ini tumbuh di tubuhku, ya?” tanyanya sambil menoleh ke arah kepala yang bersandar di bahunya dengan dingin.
Cheng Xiao akhirnya bangkit dengan malas dan merapikan pakaiannya yang kusut. “Pelit sekali kau ini.”
Lu Jiunian mencibir, lalu berjalan lurus ke arah sofa dan membelakangi Cheng Xiao untuk melepas kancing kemejanya.
Cheng Xiao pun merasa santai, ia berjalan ke tepi tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
Lu Jiunian mendengar suara itu, menoleh sekilas, dan berkata datar, “Pergi mandi sana.”
“Memang harus mandi.” Cheng Xiao mengangkat tangan dan mengendus lengan bajunya. “Baunya bau kamu semua, tidak enak.”
Lu Jiunian sudah tidak tahan lagi, ia melemparkan pakaian yang baru saja dilepasnya ke wajah Cheng Xiao. “Biar kau sesak napas sekalian!”
Cheng Xiao tertawa kecil, menarik pakaian Lu Jiunian dari wajahnya, lalu bangkit dan duduk di kepala tempat tidur.
Ia membolak-balik saluran televisi hotel dengan bosan, namun tidak ada yang menarik minatnya.
Ia meraba saku celananya dan bergumam bingung, “Di mana ponselku?”
Lu Jiunian berjalan menuju kamar mandi sambil berkata, “Kau taruh di mana?”
Cheng Xiao terdiam sejenak, lalu menjawab pasrah, “Di saku mantel.”
“Di mana mantelnya?”
“Sudah kulepas.”
“…”
Lu Jiunian menatap orang yang terus menatapnya tanpa berkedip itu, sudut bibirnya berkedut. “Jadi, bagaimana sekarang?”
“Bantu aku mengambilnya.”
“Bantu, bantu, bantu! Apa sih yang bisa kau lakukan sendiri!” Lu Jiunian langsung mengambil bantal sofa dan melemparkannya ke arah Cheng Xiao.
Cheng Xiao menangkap bantal itu dan menyandarkannya di punggungnya, lalu berkata santai, “Aku juga ingin pergi sendiri, tapi bukankah aku takut bertemu orang-orang dari kru film?”
Lu Jiunian merasa dirinya seperti ketel uap yang sedang mengeluarkan asap panas dari kepalanya.
Dengan wajah gelap, ia melangkah dengan kasar menuju pintu dan membukanya lebar-lebar.
“Aku sudah mengambilnya, kau jangan berani macam-macam sepanjang malam ini!”
Cheng Xiao merentangkan kedua tangannya, lalu membuat gestur menutup mulut dengan ritsleting.
Lu Jiunian menghela napas, berbalik, dan melangkah keluar.
“Tunggu.” Orang di dalam kamar memanggilnya.
“Apa lagi?” tanyanya dengan kesal saat berbalik.
Ternyata Cheng Xiao turun dari tempat tidur sambil membawa jaket bulu tebal yang tersimpan di dasar kopernya.
“Kau masih sakit, jangan memakai pakaian terlalu tipis.” Ia membentangkan jaket itu dan menarik tangan Lu Jiunian untuk memakainya. “Cepat kembali.”
Terbungkus dalam jaket bulu yang tebal, amarah Lu Jiunian mereda cukup banyak.
Sejujurnya, Cheng Xiao merawatnya dengan cukup baik. Terkadang ia merasa heran, seorang tuan muda seperti Cheng Xiao ternyata cukup mahir melayani orang sakit.
Ia mengakui, dirinya merasa sedikit tersentuh…
“Cepat kembali, aku menunggu ponselku, bosan sekali.”
Omong kosong, tetap saja menyebalkan.
Barang-barang di lokasi syuting hampir semuanya sudah dibereskan, hanya menyisakan beberapa meja dan kursi serta tenda sutradara yang masih berdiri.
Lu Jiunian berputar-putar di area tersebut cukup lama sebelum menemukan mantel mahal Cheng Xiao di atas kotak yang tidak mencolok.
Melihat debu yang menempel di mantel itu, Lu Jiunian seolah bisa membayangkan ekspresi Cheng Xiao yang akan mengumpat saat melihatnya nanti.
Ia berdiri di sana sambil menepuk-nepuk mantel tersebut, dan setelah dirasa cukup bersih, ia membawanya kembali ke kamar dengan langkah santai.
Begitu keluar dari lift di lantai kamarnya, ia berjalan menyusuri koridor. Belum sampai di depan pintu, ia mendengar suara langkah kaki sepatu hak tinggi.
Ia mengerutkan kening dan mempercepat langkahnya.
Ketika ia melewati sudut dan menoleh ke arah pintu, ia melihat Qi Qin sedang mengangkat tangan, hendak menekan bel pintu.
“Sudah selarut ini, ada apa?” tanya Lu Jiunian tiba-tiba.
Qi Qin terkesiap, bahunya tersentak, dan ia menoleh ke arah Lu Jiunian.
“Oh… Jiunian, kau mengagetkanku saja,” ujar Qi Qin sambil mengembuskan napas lega.
Ia mengatakannya dengan senyuman, tetapi Lu Jiunian tidak berniat membalasnya dengan senyum.
Ia sudah cukup lelah memaksakan senyum untuk urusan pekerjaan sepanjang hari. Jika di malam hari saat istirahat pun ia harus tetap bersandiwara, ia merasa lelah, tidak peduli seberapa terbiasanya ia dengan hal itu.
“Mencariku?” tanyanya pura-pura tidak tahu.
“Bukan,” Qi Qin menggelengkan kepala sambil menyelipkan helai rambut ke belakang telinganya. “Aku mencari Cheng Xiao.”
Lu Jiunian mengangkat alisnya mendengar itu. “Sekarang? Setelah melihatku, apa kau masih punya urusan dengannya?”
Qi Qin tidak menjawab, ia hanya menatap Lu Jiunian dari atas ke bawah sejenak, lalu tersenyum dan berkata, “Tidak ada lagi.”
“Baiklah, kalau begitu aku masuk. Silakan kembali dan istirahatlah lebih awal.”
Setelah berkata demikian, ia melewati Qi Qin untuk menempelkan kartu akses ke pintu.
“Aku tidak punya urusan dengannya, tapi aku punya urusan denganmu.”
Langkah Lu Jiunian terhenti. Ia menoleh ke arah Qi Qin dengan curiga.
Qi Qin tersenyum padanya. “Apa kau punya waktu? Mari mengobrol sebentar.”
Lu Jiunian tidak merasa perlu mengobrol dengan orang yang terlibat dengan Cheng Xiao. Dengan siapa Cheng Xiao pernah menjalin hubungan, bagaimana sejarah percintaannya, atau siapa yang ia cintai saat ini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Ia tidak ingin bersikap ramah pada Qi Qin, murni karena wanita itu telah membuatnya repot dan mempermalukannya di acara tersebut.
“Maaf ya, Cheng Xiao sedang menungguku membawakan barangnya. Kalau ada urusan, besok saja…”
“Dua menit saja,” potong Qi Qin. Ia menatap mata Lu Jiunian dengan sedikit memohon.
“Aku hanya butuh dua menit.”
Tangan Lu Jiunian yang memegang gagang pintu terdiam.
Setelah berpikir sejenak, ia menunduk dan berkata, “Baiklah kalau begitu.”
Keduanya berdiri bersisian di ruang kosong di sudut lantai tersebut.
Parfum Qi Qin tercium sangat tajam. Lu Jiunian mengerutkan kening, mengencangkan kerah jaketnya, lalu membuka jendela lorong.
“Aku… minta maaf dulu padamu, Jiunian.” Setelah menyusun kata-kata sejenak, Qi Qin menarik syalnya dan berbisik, “Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Intinya, tentang kejadian di acara hari ini… aku minta maaf.”
Lu Jiunian menatapnya dengan tenang. “Dibandingkan permintaan maaf, aku lebih penasaran dengan alasannya.”
“Kau seorang model dan aku seorang aktor, aku tidak ingat kita pernah memiliki hubungan apa pun sebelumnya.”
“Di mana aku pernah menyinggungmu? Atau…”
Qi Qin tertawa getir dan memotong, “Jangan bercanda, Jiunian.”
“Kau tahu apa alasannya.”
Ia memeluk dirinya sendiri, seolah merasa kedinginan karena tiupan angin.
“Dunia kami ini jauh lebih kelam daripada duniamu. Terkadang kau akan bertemu orang-orang dan kejadian-kejadian yang tidak bisa kau bayangkan.”
“Di mata orang-orang itu, kami hanyalah komoditas. Hanya ketika penampilan dan tubuh kami memuaskan mereka, barulah kami memiliki nilai.”
“Awalnya aku mengira dia pun sama. Tapi… dia memberiku kontrak yang setara dan memperlakukanku sebagai manusia.”
“Saat itu aku hanyalah model kecil biasa, tanpa latar belakang dan tanpa kekuatan. Pertama kalinya aku mendapatkan rasa hormat, justru dari orang seperti dia.”
“Aku mulai mengamati setiap gerak-gerik dan kesukaannya dengan teliti, dan aku menyadari bahwa aku tidak bisa memahaminya.”
“Aku selalu merasa dia berbeda dengan apa yang ia tunjukkan. Namun, semakin aku ingin mengenalnya, semakin jauh dia menjauh dariku. Ia mengunci dirinya begitu rapat, tidak membiarkan siapa pun menyentuhnya.”
“Ia bersikap begitu genit, tetapi setiap kali aku mencoba menyentuhnya secara proaktif, ia secara tidak sadar akan menghindar. Bahkan saat aku menawarkan diriku di depannya, ia tidak menginginkannya.”
Ia menoleh ke arah Lu Jiunian dan berkata, “Aku tahu kalian mungkin juga memiliki kontrak. Jadi, saat mendengar kabar kalian menikah, aku tidak terkejut.”
“Tapi hari ini… saat melihatnya memperlakukanmu seperti itu tadi…”
“Itu sama sekali berbeda dengan saat dia memperlakukanku dulu.”
“Dia tidak menolak sentuhanmu, bahkan ia secara aktif menyentuhmu. Hubungan kalian tidak basa-basi dan tidak kaku.”
“Jadi aku… aku merasa sedikit marah, juga sedikit sedih. Kenapa kau bisa, sementara aku tidak?”
“Karena itulah aku tidak bisa mengendalikan emosiku dan mengatakan hal-hal seperti itu padamu dan padanya.”
Ia berusaha tersenyum. “Tapi karena dia menyukaimu, aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi. Aku mendoakan kebahagiaan kalian.”
“Mungkin aku hanya… merindukan perasaan dihargai sebagai manusia itu.”
Lu Jiunian terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang.
“Tebakanmu benar, kami memang memiliki kontrak,” katanya kepada Qi Qin. “Sama sepertimu, awalnya aku juga tidak menyukainya.”
“Namun, sampai saat ini, aku masih belum bisa sepenuhnya mengubah pandanganku terhadapnya,” lanjut Lu Jiunian setelah jeda. “Memang dia bersikap sedikit berbeda kepadaku, tapi itu karena alasan khusus, dan aku tidak merasa berterima kasih karenanya.”
“Mungkin,” Lu Jiunian berhenti sejenak, ada keraguan dalam nada bicaranya yang bahkan tidak ia mengerti sendiri. “Mungkin suatu hari nanti aku akan menyukainya.”
“Tapi itu bukan karena dia memberiku kontrak yang setara, atau memberikan hak istimewa yang tidak dimiliki orang lain.”
“Melainkan karena sosoknya sebagai pribadi, yang membuatku menyukainya.”
“Memperlakukan orang dengan setara bukanlah nilai tambah. Aku sendiri bukan komoditas, jadi sudah seharusnya aku diperlakukan sebagai manusia.”
“Harga diri adalah sesuatu yang kita berikan pada diri kita sendiri.”