Na vida passada, ela morreu cheia de ódio. Nesta nova chance, ela jurou que faria com que eles pagassem pelo que fizeram. O desejo era belo. Mas sempre havia alguém com ombros largos, cintura fina e pernas longas, cuja voz fazia seu coração flutuar, bloqueando seu caminho e atrapalhando seus planos repetidamente. Ele era traiçoeiro, arrogante, de temperamento difícil, e ninguém sabia quantas coisas ruins ele fizera às escondidas. A única coisa boa que ele fez foi trazê-la de volta.
Salju tebal menyelimuti ibu kota Kerajaan Xuan Yao. Di bawah kaki sang Kaisar, pada wilayah selatan yang dikenal dengan jembatan kecil dan aliran sungainya, musim dingin kali ini adalah yang terdingin dalam seratus tahun terakhir.
Musim dingin belum mencapai puncaknya, namun salju terus turun tanpa henti.
Malam hari, seluruh ibu kota diliputi suasana berat dan menakutkan.
Di luar Istana, pada Balai Xuan Rong, tampak sebuah sosok mungil.
Ia berdiri tegak dalam balutan pakaian sederhana di tengah angin dan salju, tangan kanan memegang pedang, menghadapi puluhan ribu penjaga istana tanpa sedikit pun rasa takut.
“Qin Yu, kembalikan putra mahkota padaku!”
“Putra mahkota? Apakah ia masih pantas disebut putra mahkota? Jelas-jelas ia adalah anak haram yang kau lahirkan diam-diam tanpa sepengetahuan Kaisar!”
Qin Yu berdiri di belakang barisan penjaga, mengenakan pakaian mewah nan anggun. Di tangannya ia menggendong seorang bayi dalam selimut.
“Berhenti bicara sembarangan! Ia adalah anakku dan Kaisar, putra mahkota kerajaan! Jangan memfitnah, aku ingin bertemu Kaisar!”
“Kaisar? Kau masih berani menyebut namanya? Apakah kau tahu, Kaisar jatuh sakit parah dan pingsan tak sadarkan diri setelah digigit anak haram ini. Menurutku, anak ini adalah makhluk jahat yang harus segera dibunuh!”
Jari-jarinya yang ramping mencengkeram bayi dalam selimut, hanya perlu sedikit tekanan, leher bayi yang rapuh akan patah.
“Jangan!” Su Tianxin panik, melangkah maju, “Apa yang kau inginkan agar kau mau melepaskan anakku?”
“Sederhana