Bab 57 Krisis Mendekat
“Apa?” Bai Lingfeng terbengong, Gao Feng malah memuji tindakan itu? Ada apa ini? Bukankah dia punya hubungan baik dengan kakaknya, Bai Lingyun?
Bai Lingyun juga tertegun, menyangka Gao Feng salah bicara, lalu bertanya, “Saudara Gao, apa maksudmu?”
“Maksudku apa? Kau sendiri pasti tahu watak adikmu, bukan? Di depan umum ia mempermalukan teman sekelas, dan Ye Chen sedang memberinya pelajaran agar ia tak berbuat kesalahan yang lebih besar di kemudian hari. Bukankah itu tindakan yang patut?”
“Saudara Gao, kau...” Bai Lingyun benar-benar tak menyangka Gao Feng justru membela Ye Chen.
Memang apa yang dikatakan Gao Feng itu benar, ia pun tahu watak adiknya sendiri—melihat gadis cantik pasti ingin memilikinya. Tapi mereka ini keluarga Bai, salah satu keluarga besar di Kota Luo. Apa salahnya merebut satu dua gadis dari keluarga miskin? Apakah itu sebuah kesalahan?
“Lagi pula, jangan panggil aku Saudara Gao. Di sini adalah sekolah, dan sebagai ketua dewan direksi, aku harus dengan tegas memperingatkanmu: jika kau berani bertindak seenaknya lagi, jangan salahkan aku bila menolak permohonan masuk adikmu!” ujar Gao Feng dengan serius.
“Apa?” Bai Lingyun makin kaget, tak menyangka orang itu benar-benar akan menolak permohonan masuk adiknya!
Bagaimanapun, ini sekolah menengah terbaik di Kota Luo. Tentu saja ia ingin Bai Lingfeng bersekolah di sini.
Akhirnya Bai Lingyun hanya bisa diam. Jelas kali ini ia kalah telak!
Orang-orang yang melihat Bai Lingyun bungkam pun secara refleks melirik Ye Chen, bertanya-tanya siapa sebenarnya orang ini, sampai-sampai Gao Feng membelanya?
Namun Ye Linshi tak terlalu terkejut. Saat di Desa Keluarga Ye sebelumnya, ia sendiri pernah melihat kepala keluarga Gao, yakni Gao Xiong, sangat menghormati kakaknya!
Karena sekolah menengah ini juga milik keluarga Gao, maka Gao Feng pasti tahu identitas Ye Chen. Andai hanya karena masalah sepele seperti ini lalu ia mengeluarkan Ye Linshi, bisa-bisa sepulangnya nanti ia malah dimarahi Gao Xiong!
Jadi keputusan Gao Feng untuk menyinggung perasaan Bai Lingyun demi Ye Chen adalah pilihan paling tepat!
Benar saja, Gao Feng mendekati Ye Chen dan berkata dengan hormat, “Tuan Muda Ye, kalian tidak apa-apa? Apakah orang itu sempat mengganggu kalian?”
“Tak perlu panggil aku Tuan Muda Ye, aku hanya mengantar adikku masuk sekolah.” Ye Chen berdeham. Dengan begitu banyak orang memperhatikan, jika Gao Feng masih memanggilnya begitu, itu terlalu mencolok!
“Saudara Ye, urusan adikmu di sekolah serahkan saja padaku. Aku jamin tak ada yang berani mengganggunya di sini!” ujar Gao Feng menepuk dadanya.
“Kalau begitu, terima kasih Saudara Gao!” Ye Chen tersenyum.
Keduanya berbincang sambil tertawa, sementara Bai Lingfeng dan Bai Lingyun tampak sangat marah. Keluarga Bai belum pernah dipermalukan seperti ini!
Andai saja keluarga Gao bukan keluarga paling berkuasa di Kota Luo, hari ini mereka pasti sudah tak tahan lagi!
“Kak, masalah ini tak bisa dibiarkan begitu saja! Kita memang tak bisa menyinggung keluarga Gao, tapi masak kita tak bisa menyingkirkan orang itu?” Bai Lingfeng sangat geram. Seumur hidup belum pernah ada yang berani memukulnya!
Hari ini, di depan banyak orang, Ye Chen berani menghajarnya. Bagaimana ia bisa menerima ini?
Kalau saja keluarga Ye setara dengan keluarga Gao, mungkin ia bisa menahan diri. Tapi keluarga Ye bahkan tak layak disebut keluarga terpandang, hanya desa kecil!
Orang dari desa seperti itu malah berani memukulnya, ia takkan tinggal diam!
“Tapi sekarang dia punya hubungan dengan Gao Feng, jadi urusannya jadi lebih sulit.” Bai Lingyun menghela napas. Sebenarnya, dulu ia dan Gao Feng hanya sebatas kenal.
Tapi barusan ia lihat sendiri, hubungan Ye Chen dengan Gao Feng bukan sekadar kenal, bahkan Gao Feng terlihat sangat menghormatinya!
“Kak, orang itu bilang aku tak boleh ganggu Ye Linshi lagi, berarti Ye Linshi adalah titik lemahnya! Lihat saja nanti, akan kuberi pelajaran pada mereka!” Bai Lingfeng tertawa kecil.
“Adik, jangan sembarangan!” Bai Lingyun mengerutkan dahi. Masalah ini sudah selesai, kalau malah menambah perkara bisa runyam!
“Tenang saja, Kak. Aku tahu batas. Takkan kubiarkan orang lain punya bukti!” Bai Lingfeng tersenyum licik. Walau baru lima belas tahun, akalnya banyak.
Setelah Ye Chen mengajak Ye Linshi berkeliling sekolah, mereka bersiap pulang, sebab besok baru hari pertama masuk.
Namun sekolah mengadakan kegiatan seru khusus siswa baru. Tentu Ye Linshi ingin ikut, dan Ye Chen tak melarang, sambil menunggu di bawah pohon menikmati angin sejuk.
Karena tak ada yang dilakukan, Ye Chen pun membuka grup percakapan.
Dewa Air: “Aduh, entah hari ini ada yang mau bagikan Poin Kebajikan atau tidak!”
Dewa Masakan: “Hei Dewa Air, Poin Kebajikan itu bagi para dewa seperti kita sangatlah langka. Sudah ada Ye Chen Sang Dewa yang sesekali membagikan Poin Kebajikan, itu saja sudah patut disyukuri!”
Dewa Rejeki: “Benar. Bertahun-tahun di Istana Langit, aku belum pernah bertemu Dewa seterbaik Ye Chen Sang Dewa!”
Dewa Moral: “Andai Ye Chen Sang Dewa mau bagi-bagi lagi, itu baru luar biasa!”
Ye Chen merasa tak habis pikir. Bagi dirinya, Poin Kebajikan itu tak ada artinya, tapi ia juga tak bisa seenaknya terus-menerus membagikannya!
Katanya, ‘setakar beras jadi jasa, segantang beras jadi musuh’. Kalau ia terus membagikan Poin Kebajikan, para dewa itu mungkin menganggap ia orang baik. Tapi kalau terlalu banyak, nanti mereka akan merasa itu sudah kewajibannya, dan kalau tak diberi, ia malah dianggap salah!
Meski pengalaman itu berasal dari kehidupan manusia, tetap saja berlaku untuk para dewa!
Jadi walaupun para dewa itu sangat membutuhkan Poin Kebajikan, dan ia juga butuh barang-barang dari para dewa itu, keseimbangan ini tak boleh rusak!
“Oh iya, Dewa Air, waktu itu aku merebut jimat hujanmu. Sebenarnya apa gunanya itu? Bisa disandingkan dengan Raja Naga?” tanya Dewa Bintang Putih.
Dewa Air: “Dewa Bintang Putih bercanda. Jimatku hanya secarik mantra, mana bisa dibandingkan dengan Raja Naga? Kalau begitu, Istana Langit tak butuh Raja Naga, cukup aku saja!”
“Lalu, apa kegunaan jimatmu?” tanya Dewa Raksasa.
“Jimat hujan itu hanya bisa menurunkan hujan dalam waktu singkat, dan bisa dipakai di segala cuaca!” jawab Dewa Air percaya diri.
Melihat itu, Ye Chen menutup grup percakapan. Menurunkan hujan sebentar? Untuk apa? Turun hujan buatan di daerah kering? Ia tak punya waktu untuk itu!
Setelah menutup grup, Ye Chen memejamkan mata, beristirahat di bawah pohon.
Sementara itu, Ye Linshi bersama teman-teman barunya sudah sampai di sebuah bangunan kayu. Tempat itu merupakan salah satu daya tarik sekolah, dari lantai atasnya bisa melihat seluruh area sekolah.
“Wah, sekolahnya cantik sekali!” seru Ye Linshi penuh semangat dari atas bangunan kayu. Kini ia mengerti kenapa biaya sekolah per semester bisa sampai lima puluh ribu!
Namun tanpa ia sadari, Bai Lingfeng sudah membawa orang-orangnya ke bawah bangunan kayu itu.