Bab Lima Puluh Tujuh: Siluet yang Familiar (Bagian Pertama)
Ketika semua anak buah Bang Ganas sudah bertumbangan dan tak berdaya, semangat tajam yang terpancar dari tubuh Shen Yi sama sekali tidak berkurang, bahkan ia perlahan berbalik menatap Bang Ganas yang berdiri tak jauh, terpaku dan ternganga. Kali ini, Bang Ganas benar-benar merasa telah menabrak tembok baja. Andai ia tahu sejak awal bahwa Shen Yi memiliki kemampuan seperti itu, diberi uang sebanyak apa pun ia takkan mau menerima urusan ini! Lihat saja, semua saudara yang dibawanya tumbang, dan tampaknya masing-masing menderita luka yang tak ringan.
Shen Yi memberikan isyarat dengan matanya pada Yang Hu, meminta Yang Hu untuk tidak ikut campur. Yang Hu langsung paham maksud Shen Yi dan mengangguk pelan. Ia pun sebenarnya ingin memberi pelajaran pada Bang Ganas, dan kalau saja tadi Shen Yi tidak bergerak cepat, mungkin ia sudah terluka oleh orang pertama yang menyerangnya. Karena itu, Yang Hu memutuskan untuk terus menonton pertunjukan ini. Di dalam hatinya, ia pun mulai bertanya-tanya apakah Hao Tian akan mengambil tindakan berikutnya terhadap Shen Yi setelah kegagalan kali ini.
Melihat Shen Yi melangkah perlahan mendekatinya, Bang Ganas tanpa alasan mulai merasakan kegugupan, atau lebih tepatnya, ketakutan. Dalam hati ia bergumam dengan nada tidak jelas, “Apa yang terjadi padaku? Aku takut apanya? Dia cuma seorang pelajar SMA. Tapi kenapa, kenapa dia bisa punya aura menakutkan seperti itu? Sial, aku sudah bertahun-tahun hidup di jalanan, masak tumbang di tangan bocah ingusan begini? Sudahlah, lawan saja!”
Melihat raut wajah Bang Ganas yang mulai berubah garang, sudut bibir Shen Yi terangkat membentuk senyum tipis, ia mencibir pelan, “Nah, sekarang baru kelihatan sedikit punya nyali anak jalanan. Tapi tetap saja, kamu cuma sedikit lebih baik dari dua puluh orangmu yang tadi.”
Shen Yi tidak sadar bahwa waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Karena perkelahian itu, orang-orang mulai berkumpul di sekitar mereka, walau tidak seramai siang hari, namun pada malam seperti ini, keramaian itu tetap menjadi tontonan yang mengundang perhatian.
Shen Yi pun kini berdiri sekitar satu setengah meter di depan Bang Ganas, tapi ia tidak langsung bergerak. Ia hanya tersenyum tipis, perlahan memasukkan kedua tangan ke saku celana jinsnya, lalu menatap Bang Ganas sambil berkata dengan santai, “Aku tidak berniat memukulimu lagi. Asal kamu jawab pertanyaanku dengan sungguh-sungguh dan membuatku puas, aku akan melepaskanmu.”
Kini giliran Bang Ganas yang tersenyum mencemooh, “Bocah, aku akui kamu hebat! Tapi, habis bertarung dengan dua puluh lebih saudaraku, kamu nggak capek? Sekarang mau negosiasi sama aku? Kamu terlalu memandang tinggi dirimu. Kau cari tahu saja, kapan aku, Bang Ganas, pernah dipermalukan seperti ini!”
Tatapan Shen Yi kembali menajam, “Berarti perkataanku tidak mempan ya!” Belum sempat Bang Ganas bereaksi, tinju Shen Yi sudah melayang lagi. Kali ini, ia mengerahkan energi murni pada kepalan tangannya, sehingga kecepatan pukulannya sama sekali tak terbayangkan oleh orang biasa. Bahkan Yang Hu yang berdiri tak jauh pun tak tahu kapan Shen Yi mulai menghantam. Saat semua orang sadar, yang terlihat hanya Bang Ganas di depan Shen Yi dengan wajah penuh rasa sakit dan tak percaya.
Dalam hatinya, Bang Ganas merintih, “Tidak mungkin... bagaimana bisa secepat itu!”
Tinju Shen Yi belum juga ditarik, malah ia membalikkan tangan dan mencengkeram kerah baju Bang Ganas, mengangkat tubuh bagian atasnya. Melihat tubuh kurus Shen Yi bisa mengangkat Bang Ganas yang beratnya lebih dari tujuh puluh kilo, Yang Hu yang baru mendekat pun kembali tertegun, menatap Shen Yi dengan campuran emosi yang rumit.
“Masih belum mau mengaku kalau Hao Tian yang mengutusmu ke sini?” suara Shen Yi dingin menusuk. Kini Bang Ganas sudah tak berdaya, tampak begitu mengenaskan. Dengan nada lemah yang masih menyimpan sedikit penyesalan, ia akhirnya menjawab, “Benar, dia yang menyuruhku.”
Mendengar jawaban itu, ekspresi Shen Yi menjadi dramatis. Walau ia sudah tahu sejak awal, ia tetap ingin mendengar pengakuan itu langsung dari mulut Bang Ganas.
Melihat ekspresi Shen Yi yang terus berubah, Yang Hu pun jadi bingung harus berkata apa. Tapi begitu teringat pada Hao Tian dan melihat Shen Yi, ia tak kuasa menahan senyum geli dalam hati, “Hao Tian, kali ini kau benar-benar dapat masalah besar!”
Di seberang jalan, pada mulut sebuah gang kecil, dua pria bertubuh kekar dan seorang gadis berbusana putih berdiri memperhatikan. Melihat dua puluhan orang terkapar di seberang sana, dan lalu menatap Shen Yi, salah satu pria itu berkata dengan nada kagum, “Anak itu cukup hebat juga. Badannya kecil, tapi bisa meledakkan kekuatan tak terduga. Keren juga!”
Pria satunya lagi melirik jam tangannya, lalu berkata pada gadis berbaju putih di depannya, “Ke’er, sudah malam. Ayo kita pulang.” Gadis bernama Ke’er itu menatap Shen Yi di kejauhan dengan pandangan rumit, lalu mengangguk pelan pada kedua pria di belakangnya. Ekspresinya yang datar membuatnya tampak dingin dan sulit didekati.
Mereka pun bertiga berbalik dan berjalan perlahan meninggalkan tempat itu.
Shen Yi tiba-tiba merasakan suasana aneh. Ia memutar leher, melirik ke sekeliling, dan ketika pandangannya berhenti di gang kecil itu, ia melihat tiga bayangan asing perlahan menjauh, sosok berpakaian putih di tengah tampak sangat mencolok di bawah cahaya malam.
Ke’er sendiri baru beberapa langkah meninggalkan gang, tiba-tiba merasa ada sesuatu yang berbeda. Ia tertegun di tempat, entah kenapa, ia merasakan ada sesuatu yang akrab di belakangnya. Rasa itu sekaligus asing dan familiar. Nalurinya ingin membuatnya berbalik, tapi pikirannya melarang. Ia pun diam saja di sana, angin malam mengelus rambut hitamnya yang berkilau, membuat suasana di sekitarnya terasa sunyi mencekam.
Dua pria di depan Ke’er menoleh dan melihat gadis itu terpaku, baru kemudian berseru, “Ayo, Ke’er, ngelamun apa lagi?” Ke’er pun tersadar dan mengangguk, cepat-cepat mengikuti mereka.
Dari seberang jalan, Shen Yi memperhatikan bayangan putih itu menghilang dalam gelap, ia bergumam, “Aneh, kenapa dia terasa begitu familiar?”
Ia menggeleng dan tersenyum, “Ah, cuma perasaan saja, aku terlalu banyak mikir!” Melihat dua puluhan orang tergeletak di tanah dan Bang Ganas di depannya, Shen Yi menggosok hidung dengan jarinya, lalu berujar dengan nada puas, “Haha, malam ini benar-benar luar biasa.”
“Yah, cuma kamu yang puas, aku sampai nyaris mati ketakutan. Ternyata kekhawatiranku selama ini berlebihan!” Yang Hu ikut tertawa di sampingnya.
Shen Yi berjalan ke arah Yang Hu, menepuk bahu sahabatnya dan tersenyum penuh rasa terima kasih, “Kakak Hu, bagaimanapun juga, terima kasih untuk malam ini.”
“Weh, kamu sengaja ya! Aku sama sekali nggak turun tangan, semua kamu sendiri yang lakukan. Tapi, terus terang saja, kamu ini selama ini memang terlalu pandai menyembunyikan kemampuanmu!”
Shen Yi hanya bisa pasrah, “Jangan salahkan aku, aku juga baru-baru ini sadar, dan nggak nyangka malah terpakai malam ini. Hahaha.”
Yang Hu pun tidak bertanya lagi. Ia melirik sekeliling, lalu pada Shen Yi, “Ayo pulang, sebentar lagi polisi pasti datang!”
“Benar juga, sudah malam. Kak Hu, kamu juga hati-hati di jalan.” Shen Yi membalas.
Setelah saling berpamitan, mereka tak lagi mempedulikan Bang Ganas, dan pergi ke arah berlawanan. Saat Shen Yi berusaha menerobos kerumunan penonton, ia tersadar bahwa pandangan orang-orang padanya kini penuh rasa takut. Mana ada yang berani menantang seorang diri melumpuhkan dua puluhan preman jalanan? Tidak heran, kini mereka memandang Shen Yi layaknya bos gengster.
Di sebuah gedung tinggi, Ling Tian dan Meile tertawa bersama. “Ternyata kekhawatiranku memang berlebihan!” Meile melirik Ling Tian lalu tersenyum, “Baru sadar sekarang? Jangan pernah remehkan dia, nanti kamu sendiri yang bakal rugi!”
Menatap Shen Yi yang menghilang di kejauhan, Meile tertawa kecil dalam hati, “Shen Yi, kehidupanmu di Pengzhou mulai malam ini akan semakin menarik. Hehe.”
Tak lama kemudian, Meile melambaikan tangan pada Ling Tian, “Ayo, pulang dan istirahat. Mulai sekarang kita nggak perlu lagi membuntutinya diam-diam.”
Ling Tian bertanya heran, “Kenapa?” Meile langsung membalikkan mata, “Dasar bodoh...”
Bab pertama selesai. Jangan lupa berikan suara dan favoritkan novel ini untuk Yichen.