Bab Sebelas: Cabang Persatuan Pelatih Alam Semesta

Langit dan Bumi Terbelah oleh Alam Semesta Ling Feng, angin yang membawa debu di kejauhan 4235kata 2026-02-08 01:36:24

Pada masa-masa awal, ketika hasil investigasi belum jelas, sekolah memberikan izin bagi para siswa yang terlibat dalam insiden untuk sementara meninggalkan sekolah dan menjalani pelatihan di perusahaan. Situasi itu menimbulkan perasaan was-was, tetapi semuanya berjalan dengan lancar. Demi memenuhi kebutuhan pekerjaan, mereka pun dipindahkan satu per satu ke berbagai lokasi, termasuk beberapa kota di luar negeri. Namun, di dalam hati mereka, tetap ada sedikit kekhawatiran yang sulit dihilangkan. Di setiap laporan berkala yang harus mereka sampaikan, mereka selalu berhati-hati, takut jika ada sesuatu yang terlewat.

Di antara mereka, ada satu orang yang situasinya agak berbeda, karena ia telah lama tinggal di luar negeri dan memiliki pengalaman luas dalam urusan luar negeri. Ia ditempatkan di sebuah kota kecil di negara Eropa Timur, di mana tingkat ancaman relatif rendah. Meski demikian, ia tetap merasakan tekanan yang tak kasat mata, dan setiap kali menyusun laporan, ia selalu sangat teliti, memastikan tidak ada satu kata pun yang meleset. Rapat evaluasi bulanan diadakan secara daring. Biasanya hanya satu orang yang mengenakan jubah hitam panjang, duduk di tengah ruangan. Semua orang berdiri di kedua sisi, menunggu instruksi. Ketika seseorang mulai membacakan laporan, yang lain mendengarkan dengan saksama. Kadang-kadang, sebagian dari mereka menunjukkan keraguan, tetapi tak satu pun yang berani mengutarakannya dengan gamblang.

Di antara mereka, ada beberapa ahli yang sangat ahli di bidangnya, bahkan di antara para spesialis sekalipun, mereka adalah orang-orang yang sulit dijangkau. Namun, mereka juga manusia, dan warna hidup tetap tampak dalam percakapan sehari-hari, meski tidak banyak. Dalam suasana yang penuh formalitas itu, kadang-kadang muncul candaan kering yang menjadi hiburan kecil. Orang yang membacakan laporan akan melirik ke arah ketua, sedangkan ketua hanya tersenyum tipis. Selama tidak ada masalah besar, semua berjalan sesuai aturan, dan tidak ada yang harus dikhawatirkan. Namun, jika sampai terjadi insiden, para spesialis harus segera bertindak dan mencari solusi, kadang-kadang harus bermalam untuk merumuskan langkah-langkah berikutnya.

Pertemuan semacam itu berlangsung cukup sering, dan hingga kini belum pernah terjadi hal-hal di luar dugaan. Setelah rapat, masing-masing kembali ke tempat tugasnya, melanjutkan pekerjaan seperti biasa.

Hanya saja, ketika sampai di tempat tinggal, seseorang akan merasa seolah-olah seluruh tubuhnya lelah dan ingin segera beristirahat. Rutinitas sehari-hari yang biasa-biasa saja, namun tetap menyisakan sedikit ketegangan. Mereka yang terbiasa dengan tekanan, menganggap semua ini sebagai bagian dari pekerjaan dan jarang mengeluh. Sesekali, mereka akan mengambil minuman hangat dan melanjutkan pekerjaan, sambil bertanya-tanya kapan situasi yang tidak pasti ini akan berakhir.

Bagi para spesialis yang telah lama berkecimpung di dunia ini, semua itu hanyalah bagian dari kehidupan. Mereka telah terbiasa dengan segala macam situasi dan mampu menghadapi tekanan dengan tenang.

Waktu berlalu dengan cepat, dan hari-hari yang penuh tekanan itu pun menjadi kenangan.

Setelah jeda waktu, mereka akhirnya bisa kembali ke rumah, bertemu keluarga dan menikmati kehangatan yang lama dirindukan.

Mereka yang menjalani kehidupan semacam itu sebenarnya tidaklah banyak, namun tetap saja ada. Apakah kehidupan semacam itu benar-benar sederhana? Tentu tidak. Setiap langkah yang mereka ambil penuh dengan pertimbangan, dan setiap keputusan bisa membawa konsekuensi besar. Ketika kembali ke kantor, mereka hanya duduk di depan komputer, melihat keluar jendela, atau berdiri di balkon, menatap langit biru yang cerah. Mereka tahu, di bawah ketenangan itu, ada arus deras yang tidak terlihat.

Seseorang yang duduk di sudut ruangan, memandangi teleponnya, tiba-tiba merasa bahwa segala sesuatu terasa begitu jauh dari kenyataan. Ia menghela napas dan menatap langit-langit, lalu menoleh ke arah rekan kerjanya yang sedang asyik bercakap-cakap.

Tidak semua orang bisa menjadi satu kelompok yang utuh. Ada yang akrab, ada yang hanya sekadar kenal. Tidak ada yang bisa memastikan, siapa yang benar-benar teman sejati dan siapa yang hanya rekan kerja. Beberapa orang memilih untuk diam dan menjaga jarak, sementara yang lain lebih terbuka dan mudah bergaul.

Seseorang pernah berkata, tidak semua orang cocok menjadi satu tim. Apakah kamu sudah menemukan tempatmu? Kalimat itu terdengar sederhana, namun mengandung tekanan yang tak kasat mata. Dalam dunia ini, orang-orang harus belajar beradaptasi dan menyesuaikan diri. Dalam kerumunan, mereka tetap merasa sendiri, tapi itulah kenyataan yang harus diterima.

Dalam rapat evaluasi, aturan yang berlaku sangat ketat. Hanya mereka yang benar-benar diperlukan yang boleh ikut serta, dan selebihnya menjalankan tugas masing-masing. Tidak boleh ada kegiatan yang melanggar aturan, dan semua tindakan harus tercatat dan bisa dipertanggungjawabkan. Jika ada yang melanggar, akan dikenai sanksi tegas. Terkadang, peraturan baru akan muncul untuk menutup celah yang ditemukan, sehingga sistem semakin sempurna.

Beberapa orang merasa, alasan mengapa mereka masih bertahan adalah karena belum ada pilihan lain yang lebih baik. Mereka menerima semuanya apa adanya.

Waktu terus berlalu.

Pada suatu pagi, ketika kampus baru mulai ramai, seseorang berdiri di depan pintu masuk, menyambut para mahasiswa yang datang. Senyumnya yang ramah membuat suasana menjadi lebih hangat.

Dengan tangan terlipat, ia menyapa satu per satu mahasiswa yang lewat. Mereka pun membalas sapaan itu dengan senyum, lalu berjalan masuk ke dalam kampus. Sesaat kemudian, ia menoleh ke belakang dan bergumam, "Ini adalah masa-masa yang indah."

Keramaian di kampus pagi itu penuh dengan semangat muda, dan suara tawa terdengar di mana-mana. Beberapa mahasiswa berlalu, membawa buku dan perlengkapan kuliah, sebagian lain bercanda sambil berjalan menuju ruang kelas.

Di antara keramaian itu, ada seorang mahasiswa yang berjalan dengan langkah ringan, kepalanya tertunduk sedikit, matanya menatap tanah. Ia tidak menyadari bahwa dirinya telah menarik perhatian banyak orang. Entah mengapa, setiap kali melewati keramaian, ia selalu merasa canggung dan gugup.

Ia terus berjalan, tidak memperhatikan sekeliling, hingga akhirnya berhenti di bawah pohon besar. Di sana, ada sekelompok mahasiswa berseragam putih dan biru yang sedang berdiri bergerombol, tampak sedang menunggu seseorang.

Seketika suasana menjadi hening. Para mahasiswa itu menoleh, dan saat mereka melihat siapa yang datang, suasana berubah tegang. Mereka seperti sekelompok orang yang sudah lama menantikan kedatangan seseorang. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi, dan sebagian dari mereka menahan napas.

Mahasiswa yang baru datang itu hanya berdiri di sana, matanya menatap lurus ke depan, tanpa berkata apa pun. Ia tidak mengenal anak-anak itu, dan tidak tahu siapa mereka. Namun, tatapan mereka membuatnya merasa tidak nyaman. Beberapa detik berlalu, dan tiba-tiba, seorang gadis dari kelompok itu melangkah maju, menatapnya dengan pandangan tajam.

Dengan kepala sedikit menunduk, mahasiswa itu tetap menatap ke depan. Dalam hati, ia berusaha menebak-nebak, apa yang sedang terjadi? Apakah ia harus menjauh atau tetap tinggal? Ia tidak tahu harus berbuat apa.

Suasana menjadi tegang, dan suara percakapan pelan-pelan mereda. Setiap mata tertuju pada gadis yang melangkah maju itu. Ia adalah seseorang yang dikenal sebagai sosok yang kuat, dengan sikap dingin namun juga penuh pesona. Ia berkata dengan suara rendah, "Semoga kamu tidak keberatan, kami ingin berbicara sebentar. Hanya itu."

Saat suasana canggung itu belum juga mencair, mahasiswa itu hanya mengangguk, menandakan ia setuju. Namun, sebelum itu, ia masih bertanya-tanya, mengapa ia yang dipilihkan? Mengapa harus dia?