Bab 2 Membuat Seseorang Tercekik dalam Kegelisahan
“Qu Feiyan?”
Mendengar nama gadis di hadapannya, Chu Qinghe mengangguk pelan. Namun, sebersit kebingungan melintas di matanya. Bukan karena ia tidak puas dengan Qu Feiyan, justru sebaliknya, pelayan yang didatangkan Zhou Xian ini memiliki paras yang terlalu cantik.
Sebagai seorang pedagang, jika Zhou Xian mengirim gadis secantik ini ke rumah bordil atau sanggar hiburan di kota, ia pasti akan meraup keuntungan besar. Namun, kini ia malah mengirimnya untuk menjadi pelayan di rumahnya, hal ini terasa cukup janggal.
Seolah memahami keraguan Chu Qinghe, Zhou Xian melirik gadis kecil di sampingnya lalu segera tersenyum lebar.
“Feiyan adalah kerabat jauh saya. Orang tuanya sudah lama tiada, dan karena usianya yang mulai beranjak dewasa, tidak pantas lagi membiarkannya tinggal di rumah saya.”
“Lagipula, Tuan Muda Chu tahu sendiri, bisnis yang saya jalani mengharuskan saya berurusan dengan berbagai kalangan. Jika dibiarkan terlalu lama, saya khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.”
“Kebetulan Tuan Muda Chu sedang mencari pelayan, jadi saya pikir lebih baik mengirim gadis ini kemari. Sesuai permintaan Anda, dia bisa memasak, mengerjakan pekerjaan rumah, dan sangat rajin.”
“Tentu saja, harganya tetap sama seperti yang kita sepakati sebelumnya, tidak perlu naik.”
“Kerabat?” Chu Qinghe tersenyum tipis mendengar ucapan itu, lalu menatap Zhou Xian. “Penjelasan Tuan Zhou ini agak sulit dipercaya.”
Orang lain mungkin tidak tahu, tapi Chu Qinghe sadar betul bahwa setiap tahun selalu ada surat tanah dan surat kontrak budak yang bertambah di agen tenaga kerja milik Zhou Xian. Sudah jelas dari mana asal-usul surat-surat itu.
Mendengar sindiran Chu Qinghe, Zhou Xian segera menimpali, “Saya berani menipu orang lain, tapi mana mungkin saya berani menipu Tuan Muda Chu!”
Setelah menatap Zhou Xian sejenak, Chu Qinghe beralih melirik Qu Feiyan di sampingnya. Merasakan tatapan itu, Qu Feiyan segera memasang senyum polos dan patuh. Chu Qinghe menghela napas dalam hati, lalu menatap Zhou Xian lagi.
“Tuan Zhou, kalau Anda merasa tidak nyaman, silakan berkedip.”
“Berkedip?” Zhou Xian tertegun, tampak bingung dengan ucapan itu.
Chu Qinghe sebenarnya ingin meminta pelayan lain yang lebih biasa saja. Namun, melihat raut wajah Zhou Xian yang tampak jelas tidak wajar, ia hanya bisa menghela napas panjang dan mengangguk. “Baiklah, dia saja.”
Zhou Xian tersenyum lega. “Terima kasih banyak, Tuan Muda Chu. Jika suatu saat gadis ini berbuat ulah, Anda bisa langsung datang kepada saya. Ini surat kontraknya, mohon disimpan.”
Setelah menerima surat kontrak itu dan melihat tanda tangan di atasnya, Chu Qinghe menyimpannya dengan santai.
Begitu kontrak berpindah tangan, Zhou Xian berbisik, “Tuan Muda, silakan masuk terlebih dahulu. Izinkan saya berpesan sebentar kepada gadis ini?”
Chu Qinghe mengangguk, “Baik.”
Ia melirik sejenak ke arah Qu Feiyan yang akan menjadi pelayan barunya, lalu melangkah menuju rumahnya. Namun saat berjalan, ia merasa sedikit heran.
“Qu Feiyan… nama ini terdengar familier.”
Namun, hingga ia membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam halaman, Chu Qinghe tetap tidak bisa mengingat di mana ia pernah mendengar nama itu. Akhirnya, ia pun berhenti memikirkannya.
Di luar pintu, setelah Chu Qinghe masuk ke balik gerbang merah itu, ekspresi Zhou Xian seketika berubah menjadi tidak wajar. Saat menatap Qu Feiyan, sikapnya yang tadi santai kini berubah menjadi membungkuk penuh ketakutan.
“Nona, saya sudah melakukan apa yang Anda perintahkan. Mohon kemurahan hati Anda untuk memberikan penawarnya kepada saya!”
Mendengar itu, Qu Feiyan mendengus pelan. Sifat patuhnya lenyap seketika, digantikan oleh sikap yang angkuh. Ia melirik Zhou Xian sejenak, lalu mengeluarkan pil berwarna cokelat dari pinggangnya dan memberikannya kepada pria itu.
“Ingat, jangan ceritakan kejadian hari ini kepada siapa pun. Jika tidak, jangan salahkan aku jika lain kali aku datang lagi ke rumahmu.”
“Satu lagi, kalau aku tahu kau berani memukuli gadis-gadis yang datang mencari kerja padamu, lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu.”
Zhou Xian segera menerima pil itu dengan kedua tangan gemetar. Setelah menelannya, ia menjawab, “Tentu, Nona. Saya tidak akan berani melakukannya lagi. Saya berjanji tidak akan bertindak kasar lagi.”
Kemudian dengan gugup ia bertanya, “Nona, karena urusan ini sudah selesai, apakah saya boleh…?”
Qu Feiyan melambaikan tangan sebagai isyarat agar ia pergi. Seolah mendapat pengampunan, Zhou Xian segera berlari menuju kereta kudanya dan memacunya secepat mungkin, seolah takut nyawanya akan melayang jika berlama-lama di sana.
Sementara itu, Qu Feiyan berbalik perlahan. Matanya tertuju sejenak pada tulisan “Kediaman Chu” di gerbang merah, lalu teringat wajah Chu Qinghe tadi. Ia bergumam pelan.
“Orang ini tampan, tapi tidak tahu bagaimana sifat aslinya. Kalau orangnya baik, bolehlah aku tinggal lebih lama.”
Dengan tangan terlipat di belakang punggung, ia melangkah masuk dengan ringan dan menutup gerbang di belakangnya.
***
Di halaman dalam, Chu Qinghe sudah duduk di dekat meja batu. Setelah memeriksa senjata rahasia yang ia rakit sendiri di balik lengan bajunya, ia menyeduh teh dengan teko yang sudah ia panaskan sebelumnya.
Berbeda dengan sikapnya di depan Zhou Xian tadi, kini setelah kembali ke rumah, Chu Qinghe seolah melepas topengnya. Ia bersandar di meja batu dengan tubuh yang lunglai, memancarkan kesan santai yang mendalam.
Sembari menunggu Qu Feiyan, perhatian Chu Qinghe teralihkan ke dalam benaknya. Dengan satu pikiran, sebuah bilah kemajuan transparan muncul di hadapannya. Di bawah bilah tersebut, tertulis sebuah kalimat kecil:
“Progres pengikatan sistem: 99%”
Setengah tahun lalu, saat ingatan kehidupan sebelumnya kembali, ia menyadari bahwa di dalam tubuhnya terdapat sistem *check-in*. Namun, sistem pada umumnya bisa langsung digunakan, sedangkan sistem miliknya ini memiliki bilah kemajuan yang sangat lamban, seolah mengalami sembelit. Selama berbulan-bulan, progresnya tetap tertahan di angka 99%.
Rasanya seperti saat seseorang pergi ke rumah bordil dan bertemu dengan wanita tercantik di sana. Saat wanita itu sudah selesai mandi, berbaring dengan pakaian tipis yang menggoda, tiba-tiba ia berkata bahwa ia sedang datang bulan dan juga menderita sariawan. Sungguh perasaan yang membuat napas terasa sesak dan sangat tidak nyaman.
Beberapa saat kemudian, setelah Chu Qinghe menarik perhatiannya dari sistem, ia mendengar suara gerbang tertutup. Tak lama kemudian, sosok Qu Feiyan melangkah masuk ke halaman dalam.
Pemandangan halaman tersebut langsung tertangkap oleh mata Qu Feiyan. Hal pertama yang ia lihat adalah pohon kamelia putih raksasa yang batangnya harus dipeluk oleh tiga orang dewasa. Bunga-bunga putihnya merekah bagaikan payung kertas minyak yang menutupi separuh halaman. Di sekitar halaman juga terdapat pohon-pohon kamelia kecil yang elegan, membuat udara dipenuhi dengan aroma bunga yang menenangkan.
Di bawah pohon kamelia itu, Chu Qinghe yang sedang menyesap teh di meja batu tampak seperti lukisan yang indah.
Chu Qinghe menatap Qu Feiyan yang datang dengan tangan kosong, lalu bertanya dengan santai, “Di mana barang bawaanmu?”
Mendengar suaranya, Qu Feiyan yang baru saja terpaku di gerbang halaman pun tersadar. “Masih tertinggal di agen tenaga kerja, belum saya ambil.”
Chu Qinghe mengangguk, lalu mengisi kembali cangkir tehnya dan berkata kepada Qu Feiyan yang berdiri di sampingnya, “Duduklah. Di sini tidak banyak aturan, bersikaplah santai saja.”
Qu Feiyan mengangguk pelan dan duduk di hadapan Chu Qinghe, matanya terus menatap wajah pria itu. Beberapa saat kemudian, ia tidak bisa menahan diri untuk berkata, “Tuan Muda, Anda tampan sekali.”
Chu Qinghe tertawa kecil, “Mulutmu manis sekali.”
Ia pun mengalihkan pembicaraan, “Tuan Zhou sudah memberitahumu tentang gajimu di sini, bukan?”
“Satu tael perak, libur dua hari dalam sebulan,” jawab Qu Feiyan.
Di Kota Yushui, satu tael perak sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga beranggotakan tiga orang selama sebulan. Gaji yang diberikan Chu Qinghe sudah termasuk sangat royal.
Chu Qinghe mengangguk, “Selain kamarku, semua kamar di sini kosong. Pilih saja satu yang kau sukai. Di dalam sudah ada bantal dan selimut, tapi mungkin kurang beberapa perlengkapan wanita. Nanti beli saja apa yang kau butuhkan.”
Sambil berbicara, Chu Qinghe mengeluarkan kepingan perak sepuluh tael dari sakunya dan meletakkannya di meja. “Sisanya, gunakan saja untuk keperluan belanja dapur sehari-hari.”
Setelah melirik perak di atas meja, Qu Feiyan bertanya, “Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang? Menyapu atau mencuci pakaian?”
Chu Qinghe menopang dagunya dengan tangan, “Waktu masih panjang. Kamu bisa pergi mengambil barang bawaanmu dulu, beli perlengkapanmu, baru setelah itu kembali untuk memasak.”
Melihat perak di atas meja, sebersit kecerdikan melintas di mata Qu Feiyan. Ia pun berkata, “Baru saja datang sudah diberi uang, Tuan Muda tidak takut kalau saya membawa kabur uangnya dan pergi begitu saja?”